Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 55 : DALAM PANTAUAN


__ADS_3

Hampir tersulut emosi, namun saat berbalik, Jourrel melihat seorang pria berpakaian rapi tengah membungkukkan setengah badan padanya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap lelaki itu.


"Hmm!" Meski merasa curiga, Jourrel tak begitu mempedulikannya. Ia hanya melirik tajam namun tak lama segera berbalik melanjutkan langkahnya.


Pria yang menabraknya, tersenyum miring. Ia sendiri langsung menuju mobilnya yang berada tak jauh darinya. Kemudian segera melaju dan berhenti tepat pada pintu keluar, satu tangannya menekan tombol di telinga agar terhubung lagi dengan sambungan telepon sang boss.


"Nona, apa anda membawa earpeace?"


"Tidak!" sahut Cheryl singkat.


"Saya berhasil menempelkan sinyal agar kita bisa mendengar apa pun yang ada di sekelilngnya, Nona!" Pria itu memberi laporan lagi.


"Kerja cepat dan bagus, Poltak. Nanti minta naik gaji sama Rain. Sambungkan saja dengan ponselku!" titah gadis itu tersenyum puas atas kerja keras bawahannya.


Setelah mendapat informasi dari Cheryl, pengawal bernama Poltak itu segera melenggang hingga loby, menunggu kedatangan Jourrel.


Hingga ketika pria itu tertangkap netranya, Poltak segera menjalankan tugas dengan rapi dan tak terlihat. Ia mendorong punggung Jourrel bermaksud menempelkan sebuah magnet yang ada chip berukuran sangat kecil di sana.


"Baik, Nona!" gumam pria itu melajukan mobilnya ketika sudah melihat motor yang dikendarai Jourrel telah melaluinya. Fokusnya terpecah karena harus menyambungkan jaringan tersebut pada ponsel Cheryl.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cheryl menjauh dari ranjang Ibu Dina, mendaratkan tubuhnya pada sofa dengan perasaan gelisah. Dadanya berdenyut kencang sedari tadi. Ia menopang dagu dengan kedua tangan, sembari memasang pendengarannya baik-baik. Meski kini hanya terdengar embusan angin yang sangat berisik.


Sesekali pandangan gadis itu mengarah pada Ibu Dina yang masih setia memejamkan mata. Hatinya benar-benar bergolak. Dadanya sampai terasa sesak, apalagi ditambah debaran jantung yang antah berantah di dalam sana.


"Jourrel!" gumamnya lirih memejamkan mata, hingga tak terasa bulir bening jatuh membasahi kedua pipinya.


Ia tidak mengerti, perasaan apa yang tengah menggelagak di benaknya saat ini. Yang jelas, ia sangat khawatir dengan Jourrel.


"Pol, kalian sampai mana sih? Kenapa lama sekali?" seru Cheryl tak sabar.


"Jalan Mataram, Nona. Maaf, saya juga belum mengetahui lokasi tepatnya! Masih perjalanan," sahut Poltak dengan suara tenang.


Tak berapa lama, terdengar pintu ruang rawat diketuk. Cheryl menoleh dengan cepat. Ia menajamkan ekor matanya. Dengan langkah pelan, gadis itu mendekati pintu. Mengintip dari kaca kecil transparan yang bisa melihat suasana luar.


Cheryl mendesah lega ketika melihat Tristan yang berdiri di depan pintu. Ia memutar kunci dan membukanya. Cheryl mengamati sekeliling. "Masuklah, Tris!" ujar gadis itu memberi jalan.


"Boleh?" tanya Tristan mengerutkan kening.


"Ya jangan sampai ketahuan, makanya buruan masuk," ucap gadis itu lagi.

__ADS_1


Tristan pun melenggang masuk, ia membawa paperbag berisi makanan dan minuman untuk Cheryl. Segera meletakkannya di atas meja sebuah ruangan tersendiri yang tersekat antara kamar pasien dengan ruang tamu tersebut. Cheryl yang memilih ruangan spesial itu.


Jourrel tak begitu memperhatikan ketika melakukan tanda tangan. Ia sendiri sama sekali belum memasuki ruangan. Sehingga tidak begitu tahu seberapa mewahnya ruang rawat ibunya itu.


Cheryl menyusul setelah kembali menguncinya. Ia duduk berseberangan dengan Tristan yang menatapnya sedari tadi. Akan tetapi, perhatian gadis itu beralih pada ponselnya lagi.


"Cher, kamu pasti belum makan, 'kan? Aku bawain makanan buat kamu," ucap Tristan mencoba menarik perhatian gadis itu lagi.


Pandangan gadis itu naik sejenak, "Wah, thanks, Tris. Tapi aku makan bentar lagi ya. Belum laper soalnya," sahutnya tersenyum sekilas lalu menunduk lagi memperhatikan benda pipih di tangannya.


Setidaknya, Cheryl sudah menghargainya. Walaupun masih terkesan abai dan tidak peduli. Tristan menghela napas panjang, ia menoleh pada ranjang Ibu Dina. Teringat dengan pesan Jourrel sebelum pergi.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Tristan.


"Belum ada perubahan." Gadis itu menjawab tanpa menoleh, membuat Tristan menyipitkan matanya. Penasaran dengan apa yang membuat gadis itu berpaling. Ia pun terdiam dan hanya memperhatikan gerak gerik Cheryl yang tidak tenang sedari tadi.


"Nona, dia memasuki kawasan Perusahaan R. Hutama Karya," seru Poltak di ujung telepon.


Cheryl memutar bola matanya, ia berpikir dengan cepat. Tak lama kemudian menemukan jawabannya. "Oh, perusahaan konstruksi dan bangunan itu?" gumamnya dengan nada serius. "Pastikan kamu tidak terlalu jauh dari sana. Kalau bisa ikut menyelinap masuk!" titah Cheryl.


"Siap Nona!" sahut Poltak memikirkan cara untuk memasukinya. Karena penjagaan cukup ketat, harus menunjukkan surat-surat kerja sama atau identitas apa pun yang berhubungan dengan perusahaan tersebut.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2