
Cheryl langsung meletakkan makanannya di meja. Melangkah panjang dan nyaris berlari mendekati ranjang Jourrel.
Peluh membasahi seluruh wajah Jourrel. Bahkan baju pasien yang dikenakan pun tampak basah. Kening pria itu mengerut dalam, bibirnya terus meracau.
“Cher! Cheryl, pergi! Aku mohon tinggalkan aku. Pergilah!” racau Jourrel menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, namun matanya masih rapat.
Kedua tangan Jourrel menggenggam sangat kuat. Cheryl berusaha membuka, lalu menyatukan dengan telapak tangannya. Dan langsung disambut cengkeraman kuat.
“Uncle,” ucap Cheryl khawatir. Hatinya berdenyut nyeri. Tangan lainnya menyeka keringat Jourrel yang bercucuran.
Rico pun tersadar dari keterkejutan. Ia segera menekan tombol darurat yang berada tak jauh dari ranjang. Karena Jourrel terus berbicara tanpa henti. Meminta Cheryl untuk menjauh.
Tak berapa lama petugas medis segera datang. Memeriksa kondisi Jourrel. Membiarkan tangan Cheryl masih bertautan erat dengan Jourrel. Karena memang susah dilepaskan.
Setelah mengecek keseluruhan, dokter memutar tubuh hingga berhadapan dengan Cheryl. Senyum hangat terulas di bibir perempuan berbalut jas warna putih itu. “Tidak apa-apa. Ini merupakan efek dari anestesi atau bius total. Memang salah satunya adalah mengigau. Nanti akan hilang dengan sendirinya. Tidak berbahaya kok. Semoga lekas sadar ya,” papar dokter tersebut usai memeriksa.
Kedua bahu Cheryl yang sempat menegang kini mulai meluruh. Napasnya kembali normal setelah mendengar penjelasan dari sang dokter. “Syukurlah,” gumam Cheryl mendudukkan tubuhnya.
Jemarinya mengusap punggung tangan Jourrel dengan lembut. “Aku baik-baik aja kok. Cepet bangun ya,” tutur Cheryl lembut.
Lelah yang mendera sekujur tubuh Cheryl membuatnya terlelap di tepi ranjang Jourrel. Rico hanya menggeleng pelan melihat tingkah nonanya itu. Belum pernah sebelumnya Cheryl bersikap seperti itu pada pria selain keluarga.
Satu hal yang dikhawatirkan Rico, tanggapan dan tindakan Tiger pada pria yang dekat dengan putrinya. Selama ini Tiger selalu menjaga ketat pergaulan Cheryl. Dan Jourrel lelaki asing pertama yang sedekat ini dengan Cheryl.
“Semoga Tuan berbesar hati,” gumam Rico meregangkan kedua tangan yang cukup merasa lelah juga. Belum beristirahat usai perjalanan panjangnya.
Melihat embusan napas Cheryl yang sudah teratur, Rico bermaksud memindahkan tubuh gadis itu ke sofa. Agar lebih nyaman tidurnya.
Perlahan melepas tautan tangannya, lalu menggendong Cheryl ala brydal style, merebahkannya di sofa dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Rico juga meluruskan kedua kaki Cheryl. Ia kembali menegakkan punggungnya, sembari melepas kancing jas. Setelahnya membalut tubuh Cheryl dengan jas tersebut. “Semoga kebahagiaan terus menyertaimu nona kecil,” ucap Rico pelan menyibak rambut yang menghalangi wajah cantiknya. Gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Rico sendiri mendudukkan diri di sofa lain. Walau lelah bergelayut di tubuhnya, kantuk tak juga menyapa.
Ketukan pintu membuat Rico beranjak. Poltak sudah membawakan pakaian Cheryl lengkap. Ia lebih memilih pulang dan meminta Bibi untuk menyiapkannya dari pada harus berbelanja.
“Terima kasih, Pol!” ucap Rico setelah menerima paper bag berisi pakaian Cheryl.
“Sama-sama, Tuan. Ada yang bisa dibantu lagi?” tanya pria itu sopan.
“Sementara ini, tidak. Oh ya, jangan laporkan apa pun pada Tuan. Biar Cheryl sendiri yang berbicara,” tukas pria itu kembali masuk setelah mendapat jawaban dari Poltak.
Rico kembali duduk dengan nyaman, jemarinya bergerak pada layar ponsel untuk mendengar kabar dari Rainer. Tak menunggu lama, mereka pun saling terhubung.
"Gimana? Sudah kamu simpan rekamannya?" tanya Rico.
"Yah, ini maksudnya apa? Cheryl dalam bahaya?" Rainer justru bertanya balik.
"Ah, baiklah, Yah. Aku takut aja Cheryl kenapa-napa. Bisa habis nanti aku sama papa dan mamanya. Tenang aja, Yah. Semua beres! Aku sudah mengamankannya."
"Bagus. Istirahatlah. Kabari Axel kalau Cheryl bersamaku. Biar dia nggak khawatir," pungkas Rico mengakhiri percakapannya.
"Baik, Yah!"
*******
Di sisi lain, ada kunjungan malam dari seorang dokter pada ruangan Ibu Dina. Memang sudah cukup larut Ibu Dina baru mendapat giliran.
Ketika pintu terbuka, dokter dan dua perawat di belakangnya terkejut melihat seorang pria sedang tidur serampangan pada ruangan yang tersekat dengan ruangan Ibu Dina. Kedua kakinya diangkat tinggi pada dinding. Lengannya menutup sebagian wajahnya.
Dokter berjalan menuju ranjang pasien, melakukan pemeriksaan rutin. Setelah berdiskusi dengan perawat untuk mencacat perkembangan, dokter beralih ke ruang sebelah, hendak membangunkan Tristan untuk memberi tahu kondisi Ibu Dina.
__ADS_1
“Tuan! Permisi!” panggil Dokter muda tersebut.
Tidak terlihat pergerakan apa pun, dokter itu menepuk lengan Tristan dengan perlahan. “Tuan!” panggilnya lagi.
Tanpa sengaja, Tristan justru menepis lalu mencekal lengan sang dokter dan bahkan memelintirnya hingga dokter tersebut memekik kesakitan.
“Aaarrrghh!” jeritnya kesakitan.
“Dokter?!” panggil dua perawat terkejut ketika masih membenahi selang infusnya. Karena baru saja mereka ganti. Hampir saja kehabisan jika mereka terlambat datang.
Mendengar jeritan perempuan, Tristan membuka mata dan beranjak duduk dengan cepat. Sadar ketika melihat tangannya, Tristan melepas tangannya dengan terburu-buru.
“Waduh, maaf, Dok!” ucap Tristan mengangkat kedua tangannya.
“Dokter ada apa?” Seorang perawat menghampiri.
“Maaf, nggak sengaja.” Tristan menelan ludahnya, membayangkan betapa ngilunya lengan dokter tersebut.
Dokter muda yang anggun itu menggerak-gerakkan lengannya, melempar tatapan tajam pada pria di hadapannya. Yang ditatap tersenyum kaku sembari menggaruk kepalanya, merasa bersalah.
“Maaf, Dok. Saya benar-benar tidak sengaja,,” ulang Tristan lagi. Raut wajahnya penuh rasa bersalah.
Bersambung~
__ADS_1