Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 21 : ATTITUDE


__ADS_3

"Bu, udah. Biar saya saja. Ibu menepilah." Dengan cekatan gadis cantik itu rela terpapar sinar matahari demi memunguti setiap barang berceceran, walaupun bukan miliknya.


"Tidak, Nak. Ibu ... tidak apa-apa," balas wanita itu menyeka keringat di wajahnya. Bahkan kini sudah terlihat memucat. Cheryl sangat khawatir. Ia mempercepat gerakan, ke sana ke mari demi memasukkan belanjaan ibu tersebut.


Sang pemilik mercedez kembali menekan klaksonnya. Bahkan lebih panjang dari sebelumnya. Cheryl menggeram, sepasang netranya memejam dengan gigi bergemeletuk kuat.


Tangannya meraih telur-telur yang pecah di dalam kantong plastik. Dengan penuh emosi, ia mengangkatnya dan melemparkan tepat pada kaca depan mobil tersebut.


Ia berkacak pinggang sembari melayangkan tatapan tajam. "Makan tu telur!" teriaknya menendang mobil dengan kakinya, lalu kembali menunduk merapikan belanjaan yang berserakan.


Wanita paruh baya yang terkejut sekaligus ketakutan melihat keberanian Cheryl. "Nak, jangan begitu. Nanti kamu dalam masalah. Sudah, tidak apa-apa, terima kasih banyak ya." Wanita itu berucap pelan sekali bahkan nyaris tak terdengar.


"Orang sombong nggak punya attitude harus dikasih pelajaran, Bu. Dia pikir yang punya mobil di dunia ini dia saja, apa? Sudah jangan dipikirkan, Bu. Mari!" ucap Cheryl melembut memapah wanita itu agar menepi.


Setelah mendudukkan di kursi tunggu, ia berlari untuk mengambil semua belanjaan yang masih terselamatkan. Kedua lengannya penuh, berjalan kembali menemui ibu tersebut dan meletakkan beberapa kantong di sebelah sang ibu.


"Ibu mau ke mana? Mari saya antar," ajak Cheryl menyentuh kedua lengannya yang terasa dingin. Ia berjongkok demi bisa memastikan kondisi wanita itu.

__ADS_1


"Ibu mau pulang, Nak. Panggil saja saya Ibu Dina. Terima kasih banyak sudah mau membantu ibu," ucap Dina mengulas senyum tipis sembari menyeka keringatnya yang bercucuran.


Dengan emosi yang mulai membakar tubuhnya, sang pemilik mobil mercedes kini menjajakkan kakinya di jalan raya. Beberapa pengendara lain sudah mendahului.


Ia menatap tajam ke arah kaca mobilnya yang bau amis dipenuhi cairan telur beserta kulit-kulitnya. Dadanya kembang kempis dengan kepalan tangan yang begitu kuat.


"Hei! Siapa kau? Beraninya?!" teriak lelaki itu dengan suara baritonnya.


Manik indah Cheryl kini berubah tajam ketika menoleh pada pria berjas abu-abu yang terlihat marah terhadapnya. Ia berdiri diiringi embusan napas yang berat.


Akan tetapi, gerakannya terbaca oleh Cheryl. Cheryl menepisnya, mencengkeram kuat dan mengerakkannya perlahan hingga tautan tangan mereka meluruh. Padahal pria itu sudah mengumpulkan kekuatan di tangannya.


Bibir Cheryl tersenyum smirk, tatapannya bagaikan macan yang menangkap mangsa. "Siapa pun aku, itu tidak penting. Tetapi pria sombong dan bahkan ingin memukul perempuan sepertimu, sepertinya harus dikasih sedikit sentilan!" ucap Cheryl menaikkan salah satu sudut bibirnya.


Cengkeraman tangannya begitu kuat, bahkan pria itu sampai sulit menghempaskannya. Seringai tajam kini terlihat jelas dari wajah cantiknya. Gadis itu memindai bentuk wajah pria di hadapannya. Karena sepertinya wajah itu tidak asing baginya.


"Nggak usah sok jago!" berang pria itu mendorong kuat bahu Cheryl hingga terjengkang, tubuh semampainya terjatuh. Orang-orang yang melaluinya tidak berani mendekat. Hanya menatapnya saja.

__ADS_1


Namun tak berapa lama, derap langkah kaki tegas segera mendekat. Sopir pribadi Cheryl dan dua orang berpakaian sama menghampiri. Membantu Cheryl berdiri, lalu hendak menyerang pria muda itu.


Cheryl berdecak kesal. Berulang kali ia meminta pada papanya agar tidak mengirimkan pengawal bayangan. Ia merasa tidak nyaman jika terus diintai seperti itu.


"Tunggu!" sergah Cheryl membersihkan bokongnya, ia berjalan mendekat.


Dua pengawalnya segera menyingkir memberikan jalan. Cheryl tersenyum misterius. Ia berdehem sejenak lalu menghela napas panjang. "Aku baru ingat, ternyata Anda adalah Tuan Gevano. Presdir perusahaan Agra ya."


Lelaki itu bergeming, ia hanya menatap Cheryl dengan kening mengerut dalam. Sedikit terkejut karena ternyata, Cheryl mengenalnya.


"Mohon maaf, Tuan. Tetapi Perusahaan sebesar Sebastian Group tidak bisa melakukan kerja sama dengan pemimpin yang arogan dan tidak punya rasa empati sedikit pun. Mulai Senin besok, Sebastian Group resmi mencabut semua saham yang tertanam di sana!" tegas Cheryl dengan suara pelan namun mampu membuat kejut jantung.


Bagaimana tidak, Perusahaan Sebastian merupakan salah satu perusahaan penanam saham tertinggi di sana. Dan ucapan gadis itu bagaikan ledakan bom.


"Tidak mungkin. Anak ingusan sepertimu tahu apa tentang perusahaan," elak Gevano tidak percaya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2