
Cheryl mengangguk cepat dengan deraian air mata yang tidak terbendung. Manik indah yang biasanya jernih, kini berubah merah.
Ingin sekali Tristan menyeka air mata itu. Hatinya terasa teriris melihat gadis yang dicintainya menangis, bahkan karena menangisi pria lain.
Namun, Tristan urung melakukannya. Ia justru membalikkan tubuh Cheryl yang masih bergeming, menyentuh kedua bahu Cheryl dan mendekatkan bibir pada telinga gadis cantik itu.
“Pergilah, biar aku yang jaga ibu.” Tristan berbisik menahan nyeri di dadanya.
Cheryl mengangguk cepat. Sekedar mengucap terima kasih saja bibirnya tak mampu. Setelah melihat senyum Tristan, gadis itu lalu berlari keluar. Heels yang menghambat langkahnya kini ia lepas dan tinggalkan begitu saja.
Cheryl memasuki lift, menekan tombolnya berulang dengan tidak sabar. Kedua kakinya tanpa alas mengentak kuat karena tidak sabar segera mencapai lantai IGD.
Ketika pintu lift terbuka di lantai dasar, Cheryl kembali berlari, membuka pintu IGD dengan kasar. Semua mata tertuju padanya. Cheryl membungkuk, memegang kedua lututnya sembari mengatur napas yang tersengal.
"Tolong! Atap!" ucapnya tidak jelas, sembari menunjuk ke atas.
Para petugas medis tidak mengerti. Mereka saling berpandangan dan mengedikkan bahu. Kemudian melemparkan tatapan aneh pada Cheryl.
"Buruan! Siaga di roof top. Ada pasien darurat di sana! Kenapa hanya bengong saja, hah?!" teriak Cheryl meradang, tangannya menggebrak meja dengan tatapan yang begitu tajam.
"Maaf, Nona. Tapi pasien apa?" Salah seorang perawat berseragam khas rumah sakit bertanya.
__ADS_1
Cheryl menggeram, menahan gertakan giginya, hampir saja menjambak rambutnya sendiri. "Ya Tuhan! Kalau aku dokter akan aku tangani sendiri tanpa harus memanggil kalian. Sekarang juga bawa brankar dan jemput pasien di rooftop!” titah gadis itu lagi berteriak.
Para petugas medis masih bingung, bahkan menganggap Cheryl mengalami gangguan psikis. Mereka hanya melayangkan tatapan iba pada Cheryl.
“Hei! Apa lagi yang kalian tunggu!” berang Cheryl mengamuk.
Tak berapa lama, suara Poltak yang masih tersambung pada ponsel Cheryl, kembali terdengar. Gadis itu menyalakan loudspeaker dan menatap tajam satu per satu yang ada di sana. Tangannya gemetar, deru napasnya berembus kasar. Dadanya naik turun dengan cepat
“Nona! Kami persiapan mendarat di roof top gedung utama! Gawat, ada luka juga di bagian kepala! Darahnya tak kunjung berhenti,” seru Poltak.
Cheryl merasa sesak, kepalan tangannya menguat sampai kulit putihnya berubah merah, “Cepat lakukan persiapan. Dia juga mengalami luka tembak di perutnya! Atau aku harus menghancurkan rumah sakit ini karena terlalu lambat!” teriak Cheryl menggila.
Gugup, semua petugas medis dan dokter jaga merasa gugup, ikut panik setelah mendengarnya. Mereka berhamburan membawa perlengkapan medis dan segera menuju roof top rumah sakit.
Cheryl menguatkan diri, ia berada di barisan paling depan menyambut kedatangan Jourrel. Tak peduli panas yang membakar telapak kaki mulusnya. Pintu helikopter terbuka, tangga mulai diturunkan hingga menyentuh tanah.
Tangis Cheryl semakin pecah ketika melihat empat orang tengah memapah tubuh Jourrel yang tidak sadarkan diri.
“Cepat!” seru Cheryl menoleh pada para perawat.
Mereka segera berlarian dengan mendorong brankar. Tubuh Jourrel diletakkan perlahan, wajah tampannya memiliki banyak luka dan lebam. Bibirnya memucat, mata yang biasanya setajam elang itu tertutup rapat.
__ADS_1
Cheryl meremas jemari Jourrel, yang segera mendapat pertolongan pertama. Air matanya semakin deras berjatuhan. “Kamu harus kuat,” ucap Cheryl di sela tangisnya.
“Dokter, tekanan darah sangat rendah!”
“Kita harus segera lakukan operasi!” titah dokter setelah memeriksa lukanya. “Siapkan semuanya!” serunya lagi yang segera diangguki para perawat.
Jourrel segera didorong masuk menuju ruang operasi. Semua petugas medis berbagi tugas, menghubungi dokter bedah dan timnya. Ada pula yang mengurus administrasinya.
“Anda harus menunggu di luar, Nona. Mohon segera tanda tangan agar kami bisa segera melakukan tindakan,” ucap Dokter melarang Cheryl ikut masuk ruang operasi.
Tubuh gadis itu melemas, kini meluruh ke lantai. Ia sudah tidak kuat lagi berlari ke sana ke mari. Menunggu kedatangan petugas administrasi menghampirinya.
Selesai tanda tangan semua dokumen, lampu berwarna merah di atas pintu pun menyala. Pertanda operasi telah dimulai.
Tubuhnya meringkuk, memeluk lututnya di atas lantai yang dingin. Ia sangat takut terjadi sesuatu dengan pria itu. ‘Bahkan kamu mengorbankan nyawamu sendiri, kamu juga sudah berusaha melindungiku akhir-akhir ini. Jourrel, tolong bertahanlah!’ jeritnya dalam hati menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
“Nona, ponsel Anda berdering sedari tadi,” ucap Poltak yang tubuhnya bersimbah darah bekas luka Jourrel.
Cheryl tak menyadari bahwa pengawalnya itu ternyata mengikutinya sedari tadi. Ia sendiri tidak sadar ketika ponselnya terus memekik karena ada panggilan.
Bersambung~
__ADS_1
nyesegh banget sih ketika udah ngetik tapi berulang kali ilang. ni apk update terbaru bikin sesak napas. ketik di word dulu pindah ke sini jadinya gak rapi... terus aku kudu piye 🥺