
“Maaf, Bu.” Jourrel menangis sejadi-jadinya. “Maaf belum bisa membahagiakan ibu. Maaf hanya bisa membuat ibu kecewa!” sambungnya semakin terisak.
Jourrel berteriak sembari memeluk ibunya, “Bangun, Bu! Ayo kita pulang! Kita ambil lagi semua hak kita, Bu. Bangun!” pekiknya membangunkan sang ibu dan memeluknya begitu erat.
Jourrel seperti kehilangan separuh nyawanya. Dia sudah kehilangan tujuan hidup. Jourrel kehilangan alasan untuk berjuang.
“Jou, ikhlasin. Ibu udah nggak sakit lagi,” ucap Tristan mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Jourrel tidak peduli. Ia tetap merengkuh tubuh ibunya, memaksanya bangun dan memeluknya erat.
“Jangan kayak gini, ibu bisa kesakitan!” lerai Tristan melepas lengan Jourrel. Beberapa perawat bersiap menangkap tubuh Ibu Dina dan merebahkannya kembali.
Jourrel memberontak ketika Tristan mengunci gerakannya, memeluknya begitu erat dari belakang. Saat terlepas, Jourrel memukul wajah Tristan dengan kepalan tangannya, meluapkan kesedihan dan kesakitannya.
Gita berteriak, ia segera membantu suaminya berdiri. Mengusap darah yang mengalir di sudut bibir sang suami. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya khawatir. Tristan hanya menggeleng.
__ADS_1
“Kamu nggak pernah ngerasain jadi aku! Aku sampai rela ngelakuin apa saja demi bisa menyembuhkannya. Aku gadaikan hati nurani demi bisa membawanya kembali pulang dan merebut hak kami. Aku rela bertaruh nyawa demi bisa membuat ibu bahagia lagi!” teriak Jourrel merasa hancur. Lalu kembali menatap sang ibu yang sudah terbujur kaku.
Tidak bisa! Jourrel tidak bisa menghentikan laju air matanya. “Dan sekarang semua sia-sia, Tristan! Semua sia-sia! Aku gagal! Haaaarggh!” pekiknya lagi berlutut di lantai. Tubuhnya lemah tak bertenaga. Kepalanya tertunduk dalam. Dadanya terlalu sesak. Ini sungguh menyakitkan.
“Pa!” Cheryl mengurai pelukannya. Ia menatap mata sang ayah, tanpa bisa menghentikan tangisnya.
Tiger mengangguk, ia mengerti keinginan putrinya tanpa harus berucap. “Ya! Silahkah!” ucapnya pelan.
Cheryl melangkah mendekati Jourrel. Kemudian berlutut di hadapan pria yang sedang hancur itu. Menangkap kedua bahu Jourrel yang meluruh.
“Aku sudah gagal, Cheryl. Aku gagal,” gumamnya bertubi-tubi.
Cheryl melingkarkan lengannya pada leher Jourrel, lalu memeluknya dengan erat. “Enggak! Kamu belum gagal. Jangan menyerah!” ucap Cheryl menyatukan kening mereka. Memberi kekuatan pada lelaki itu.
Dua sejoli itu sudah tidak peduli apa pun lagi. Tiger dan Leon sendiri hanya diam mengamati, tidak menyela ataupun melarang seperti sebelumnya.
__ADS_1
“Aku akan membantumu. Asalkan jangan menyerah. Ayo kita urus pemakaman ibu. Biarkan ibu beristirahat dengan tenang dan damai. Ya?” ucap Cheryl menangkup kedua pipi Jourrel.
Pria itu mengangguk, menyandarkan pipinya dengan nyaman pada telapak tangan Cheryl. Matanya yang sedari tadi tertunduk, kini terangkat perlahan hingga keduanya saling bertatapan lekat. Cheryl mengurai senyum di bibirnya.
“Terima kasih,” ujar Jourrel merasa terharu. Ia kembali memeluk gadis itu dengan erat.
“Semangat ya!” ucap Cheryl menepuk-nepuk bahu Jourrel.
Tristan dan Gita mendesah lega. Mereka khawatir Jourrel hilang kendali. Beruntung sekali Cheryl bersamanya. Pasangan itu saling melempar pandang dan saling mengurai senyum.
“Tunggu! Apa yang terjadi pada ibu?” Jourrel melepas pelukannya, lalu menatap Tristan. Dia sudah lebih tenang sekarang. Seingatnya, ia meninggalkan sang ibu masih di rumah. Bagaimana bisa kini berada di rumah sakit dan meninggalkannya untuk selama-lamanya?
Bersambung~
kok pedes ya mataku 🥺
__ADS_1