Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 62 : SADAR


__ADS_3

Rico menautkan sepasang alisnya ketika membaca raut wajah Cheryl. Ia menopangkan kedua lengannya di tepi ranjang, sedikit membungkuk untuk memangkas jarak dengan gadis cantik itu. “Atau ... dia dari kalangan orang biasa?” bisiknya dengan segenap rasa ingin tahu yang tinggi.


Cheryl menelan salivanya gugup, akan tetapi Cheryl sadar. Rico satu-satunya orang yang bisa diandalkan dalam menghadapi ayahnya yang begitu tegas dan tak kenal ampun. Cheryl takut terjadi sesuatu yang buruk pada Jourrel, ketika sang ayah mengetahui identitas aslinya.


“Uncle, janji ya jangan terkejut, jangan marah dan jangan laporkan apa pun yang aku ucapkan pada papa atau om papa!” tandas gadis itu tak berkedip, manik indahnya itu menyelusup dalam mata Rico.


“Oke!” seolah terhipnotis, Rico pun mengangguk mengiyakan.


Cheryl menyodorkan jari kelingkingnya, “Janji dulu!”


Rico pun membalas, jari kelingking mereka saling bertautan, “Uncle janji!” sahutnya mantap.


“Kalau uncle ingkar, aku bakal menghilang sampai nggak ada satu pun dari kalian yang bisa menemukanku!” ancam Cheryl menatap serius.


Helaan napas berat berembus dari mulut Rico, ia kembali mengangguk, “Iya, nona kecil!” sahutnya.


Tautan jari mereka terlepas, Cheryl beralih pandangan pada Jourrel, “Dia ... Jourrel. Bukan CEO perusahaan mana pun. Tetapi ....” Cheryl menjeda ucapannya, menatap Rico sejenak, “Dia adalah seorang pembunuh bayaran!”


“Apa?!” Rico memekik kuat sampai menegakkan punggungnya. Wajahnya berubah panik seketika. Satu tangannya berkacak pinggang, tangan lainnya mengusap wajah dengan kasar.


“Uncle! Udah dibilangin jangan terkejut, jangan teriak! Belum selesai ini ceritanya. Mau dilanjut nggak? Kalau nggak yaudah!” cebik gadis itu memutar bola matanya malas.


“Ada berapa season?” tanya Rico.


Hanya terdengar decakan halus saja dari lidah Cheryl. Ia mengalihkan pandangannya, tidak mau menatap pengawal setianya itu.


“Ngambek?” cibir Rico mengacak-acak rambutnya. Semua ekspresi Cheryl selalu menggemaskan di matanya.


Rico tertawa, meski tidak terbahak-bahak. “Ok! Lanjut!” serunya.


“Udah nggak mood!” jawabnya malas.


“Oh, yaudah aku bangunin Jourrel aja buat tanya semuanya.” Rico menggoyangkan bahu Jourrel, “Oii, bangun!”

__ADS_1


“Uncle!” seru Cheryl.


“Plak!”


Cheryl menepuk tangan Rico, menatapnya dengan sangat tajam. Bak mata pisau yang siap menyobek-nyobek apa pun di hadapannya.


“Ya! Ya, maaf Tuan Putri. Jadi?” tanya Rico meski terkekeh ringan.


“Jadi, dia itu tadinya disewa Reno untuk membunuhku.”


Rico mendelik dan hampir berteriak lagi. Namun Cheryl berdiri dengan cepat dan sigap menutup mulut Rico dengan telapak tangannya.


“Diem nggak?” tegas gadis itu.


Dua jari tangan diangkat oleh Rico sembari mengangguk. Ia tentu saja syok mendengarnya. Tidak terima ada yang menyakiti nona kecilnya.


“Aku lanjut, jangan teriak,” perintah Cheryl dijawab anggukan oleh Rico.


Rico tampak mendengarkan dengan serius. Ia tidak akan menyela sebelum Cheryl meminta pendapatnya.


“Terakhir hari ini. Berkat Poltak, kami bisa menyadap percakapannya. Jourrel memutus kerja sama kontraknya dengan si Reno itu. Dan ternyata, ketika dia mundur, nyawanya sebagai ganti.” Cheryl mengakhiri ceritanya. Seperti ada segumpal daging yang terkumpul di dada. Terasa sesak sekali saat bernapas.


Dari situ Rico bisa menarik benang merahnya. Ia menarik kesimpulan sendiri. Menatap Cheryl dan Jourrel bergantian, keduanya sama-sama saling berkorban satu sama lain. Bahkan tak peduli dengan nyawanya sendiri. Sungguh, ia terharu melihat mereka berdua.


“Rekaman suaranya jangan sampai hilang!” ucap Rico mengingatkan.


“Ah, jaket! Jaket Jourrel!” Cheryl pun panik seketika.


“Di jaket yang tadi dipakai?” tanya Rico dibalas anggukan gadis itu. “Oke, tunggu aja di sini. Biar diambil Rain,” sambungnya meraih ponsel dan meminta Rainer untuk mengurusnya.


Rico berpamitan keluar ruangan, berbicara dengan Rain sejenak. Ia juga menemukan Poltak yang mengangguk hormat padanya.


Setelah berbincang selama beberapa menit, Rico meminta makanan yang dibawa Poltak. “Belikan baju ganti untuk nona. Sepatu juga jangan lupa. Ajak Rain yang lebih tahu fashion dia. Terima kasih sudah bekerja dengan maksimal,” ucap Rico tersenyum tipis sekali, nyaris tak terlihat.

__ADS_1


Rico kembali masuk, meminta Cheryl untuk segera makan. Karena usai transfusi darah, dia belum sempat mendapat asupan apa pun.


“Makan dulu,” perintah Rico menyodorkan paper bag ke hadapan Cheryl.


“Nggak laper, Uncle,” tolaknya.


“Kalau nggak makan aku laporan ke Tuan nih!" ancam Rico pura-pura mengetik di ponselnya.


Tentu saja gadis itu langsung panik dan menyambar paper bag tersebut. Bibirnya mengerucut lucu, beralih duduk di sofa dan memaksa mulutnya untuk mengunyah meski terasa hambar.


Ketika Rico bergantian duduk di kursi tunggu Jourrel, ia mengamati lelaki yang sedang terbaring lemah itu, lamat-lamat.


“Uncle, jangan dipelototin gitu!” seru Cheryl kesal.


Rico hanya menoleh tanpa memutar tubuhnya. Senyum lebar terbit di bibirnya.


Tak berapa lama, Jourrel tiba-tiba menggumam lirih, namun kedua matanya masih terpejam rapat. "Cheryl! Enggak jangan! Cher, pergilah! Pergi, ini bahaya!"


Rico terkejut, ia langsung kembali menatap Jourrel. Mengamatinya lekat-lekat, mendekatkan telinga untuk mendengarkan suara Jourrel.


Bersambung~


Catatan Kaki::


Bessstiiii... Makasih antusiaasnya untuk uncle ric. semua pertanyaan aku jawab di sini ya.


kenapa kok uncle Ric dulu, kenapa bukan sikembarnya Leon dan Sasa? Mmm ... Jadi, kisahnya uncle ric mau aku ikutin event. Syukur2 lolos, bisa dapet rekomendasi dan kontraknya mudah. Jadi othor pun lancar anunya 😂 kalo gak lolos yaudah, tetep up kok. Tapi gatau kapan..hahaha


Mengsad banget novel ini tuh ga pernah dapet slot rekomendasi 🥺 view yang ga seberapa tuh bikin gakuat sebenernya. Udah capek, tapi gak ada hasil. Tapi seneng banget liat antuias kalian...komen2nya, yang kasi tips 😍😍 terus yang bantu nonton iklan. Makasih banyak ya ❤️❤️


 


 

__ADS_1


__ADS_2