
Tatapan Dokter Gita menerawang jauh, ia sedang menyelusup ke dalam lorong waktu yang melemparnya, tepat 20 tahun lalu.
Dokter Gita mulai bercerita, meski sesak kini begitu mengganggunya, napasnya tersengal-sengal. Akan tetapi, entah kenapa, sejak bertemu dengan Tristan ada satu keyakinan yang membuatnya berani mengambil keputusan gila itu.
“Dulu, ketika aku berusia lima tahun, diajak papa jalan-jalan. Salahnya papa, pergi ke tempat yang sama sekali belum pernah dikunjungi. Yah, di sebuah danau yang begitu sepi,” Dokter Gita kembali menyeka air matanya yang terus berjatuhan.
“Tiba-tiba, ada sekelompok orang membawa sepeda motor yang menyerang kami. Hampir menculikku. Kami semua berteriak, tapi sama sekali nggak ada yang menolong.”
Gadis itu menunduk semakin dalam. Bahunya bergetar hebat. Sempat terhenti selama beberapa detik, kembali membulatkan suaranya.
“Papa sama sekali tidak bisa bela diri. Dia dihajar habis-habisan orang-orang itu demi menyelamatkanku!” Tangisnya semakin tak terbendung.
Nurani Tristan seolah tergerak, ia refleks menarik bahu gadis itu dan merengkuh ke dalam dekapannya.
Lengannya mengusap punggung Dokter Gita dengan perlahan. Berharap mampu memberikan ketenangan. Meski bibirnya sendiri bungkam dan ingin mendengar kelanjutannya.
“Mereka menghajar papa tanpa ampun. Kami sudah berteriak meminta pertolongan, tapi percuma. Karena lokasinya jauh dari pemukiman. Sampai akhirnya, ada polisi yang datang. Pengelola danau tidak berani turun tangan, karena katanya mereka geng motor yang tak kenal ampun. Sehingga satu-satunya cara adalah menelepon polisi. Saat diinterogasi, mereka salah sasaran. Dan papa ...” Dokter Gita menarik napasnya berat sekali, “Papa mengembuskan napas terakhirnya!”
Gita masuk ke dalam dekapan Tristan. Menangis histeris, seolah ini kali pertama gadis yang dikenal galak itu meledakkan kesedihannya.
__ADS_1
Tristan sendiri tidak tahu bagaimana cara menenangkannya, selain merengkuh gadis itu semakin erat. Terus membelai punggung Gita.
Cukup lama mereka berpelukan, sampai ketika Gita sudah lebih tenang, ia mendelik dan langsung menjauhkan tubuhnya ketika tersadar, langsung memutar tubuh, membelakangi Tristan dengan wajah memerah karena malu.
“Tidak apa-apa,” ucap Tristan iba. “Memang sudah seharusnya kamu berbagi kesedihan. Jika terus kamu tumpuk seorang diri, suatu saat justru akan meledak dan berpengaruh pada kondisi mentalmu.”
Dokter Gita menoleh, “Terima kasih,” ucapnya. Ia mengakui, memang ada perasaan lega, beban yang menghimpit dadanya selama ini perlahan hancur.
Gita melanjutkan ceritanya, sejak kematian sang papa, mamanya membencinya. Karena saat itu, Gita kecil merengek minta diajak jalan-jalan. Jika saja, mereka tetap di rumah, semua tidak akan terjadi. Dan suaminya tidak akan meninggal. Begitulah pemikiran sempit mamanya.
Yara, mama Gita selalu menekannya selama ini. Gita harus selalu menuruti semua keinginannya. Termasuk mengatur perjodohan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Gita menolaknya dengan keras. Ini hidupnya, ia berhak menentukan sendiri.
“Dan, kamu orangnya bertanggung jawab. Yah, walaupun kita baru sehari kenal, tetapi aku bisa merasakannya. Tidak dapat dipungkiri, wajahmu juga lumayan, nggak jelek-jelek amat. Dari pada sama pilihan mama. Temen-temennya ‘kan udah pada tua, iyeeuuh,” cibir Gita yang perasaannya sudah membaik.
“Oke, aku terima! Tapi kita harus ada hitam di atas putih untuk pernikahan kita!” sahut Tristan menaik turunkan alisnya.
“What? Segampang itu kamu nerima?” seru Gita tak percaya. Ia kira harus mengeluarkan jurus ancaman-ancaman agar Tristan mau.
“Karena sebenarnya aku juga dijodohin. Tapi malas! Hatiku sudah terpaut dengan seseorang,” ucapnya bersandar, memejamkan mata dan menarik napas panjang. “Tapi seseorang itu tidak akan bisa aku gapai, tidak akan pernah!” lanjutnya kembali membuka mata.
__ADS_1
Dokter Gita melongo, terdiam sejenak untuk mencerna setiap ucapan Tristan. “Oke, deal!” ucapnya kemudian mengulurkan tangan. Keduanya saling berjabat tangan dengan senyum lebar yang mengukir bibir masing-masing. Bukankah ini memang kebetulan yang saling menguntungkan? Lagi pula sudah tidak ada waktu lagi.
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Di rumah sakit, Jourrel gusar sendiri. Ia sama sekali tidak bisa menghubungi Cheryl. Ponselnya masih tidak diaktifkan. Hatinya teramat sesak, ditambah ibunya yang masih mendiamkannya.
Jourrel sampai tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia hanya menelan obat-obatnya, sampai kini mengeluarkan keringat dingin dan terasa lemas.
Ia baru teringat dengan Tristan yang sama belum kembali sejak pagi. Jourrel pun mencoba menghubungi sahabatnya itu. Takut terjadi sesuatu dengannya.
Bersambung~
Diselipin aa tristan biar nggak tegang mulu. Seperti biasa kita akan mendaki gunung dan lewti lembah 😌.. Nah, Abis ini mau nanjak lagi bersama ayang Jou and Cheryl. pegangan ya 🤭 ditunggu jejaknya 😘
__ADS_1