
“Ah enggak! Uncle salah dengar kali,” elak Cheryl mengalihkan pandangan matanya.
Rico menggaruk telinganya, “Iya lah. Uncle aja heboh sendiri. Udah baikan belum?”
“Udah. Aku saja yang nyetir. Awas!” perintah pria itu bergegas turun dari kursi penumpang. Sedikit terhuyung saat berjalan, namun bisa kembali menguasai keseimbangannya sambil sesekali berpegangan badan mobil.
Cheryl meringis melihat Rico, ia lalu duduk dengan anggun di kursi penumpang. Merasa tidak enak pada pengawalnya itu.
“Kemana lagi nih?” tawar Rico mulai menjalankan mobilnya.
"Makan dulu uncle, terserah mau di mana aja,” sahut Cheryl tersenyum tipis.
“Siap, Boss!” jawab Rico bersemangat.
Kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan rata-rata. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah resto yang cukup mewah.
Di sela makan siang itu, Cheryl meminta agar Rico selalu di pihaknya dan selalu membelanya, apa pun yang terjadi. Cheryl juga meminta agar tidak pernah melaporkan hal-hal extreme yang ia lakukan pada sang mama. Gadis itu terus membujuk dan merengek, mana mungkin Rico tega padanya.
"Iya, tapi saya harap ini yang terakhir, Nona." Rico mengacak-acak rambutnya. Cheryl hanya menjawab dengan senyum lebarnya. Tidak mengangguk atau menggeleng.
__ADS_1
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Tristan berlari mengejar Dokter Gita hingga masuk ke dalam lift yang akan mengantar mereka ke basement. Bibir gadis itu menyeringai tipis, namun tak acuh dengan keterkejutan Tristan.
“Tolong jelaskan apa maksudnya," ucap Tristan berkacak pinggang.
“Mmm ... nanti aku jelasin. Antar aku ke suatu tempat,” sahut Dokter Gita dengan pandangan lurus ke depan.
Tristan tidak mengerti dengan perasaannya sekarang. Penasaran, kaget, sampai-sampai tidak tahu harus senang apa sedih mendengar permintaan Dokter Gita.
"Yang mana mobil kamu?” tanya dokter cantik itu mengedarkan pandangan setelah sampai di basemen.
“Wow! Keren!” puji Dokter Gita melenggang dengan anggun tanpa menunggu sang pemilik.
Ia langsung masuk dan duduk di samping kemudi. Duduk dengan manis di sana. Tristan tercengang melihat kelakuan aneh gadis itu. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah dua puluh menit perjalanan sesuai arah yang ditunjuk Dokter Gita, mereka sampai di tempat pemakaman umum.
Dokter Gita langsung turun ketika mobil berhenti, Tristan pun segera membuntuti. Gadis itu hanya fokus dengan tujuannya, tanpa menoleh ke sekitarnya.
__ADS_1
Hingga sampailah pada pusara dengan sebuah foto lelaki paruh baya di atasnya. Dokter Gita langsung berjongkok, mengusap batu nisan dengan mata berkaca-kaca.
“Pa, Gita datang,” sapa gadis itu dengan suara bergelombang. “Maaf, bukannya membangkang, tetapi Gita nggak bisa menerima lelaki pilihan mama. Gita pengen milih sendiri aja, semoga papa merestui ya,” sambungnya terisak.
Tristan meneguk salivanya, ia turut berjongkok dan menepuk bahu Gita, mengusapnya dengan perlahan.
Setelah puas mencurahkan isi hatinya, Gita beranjak berdiri. Ia melenggang meninggalkan Tristan. Kemudian mendaratkan tubuhnya pada kursi yang terletak di bawah pohon beringin.
“Ni anak! Astaga, ngeselin banget!” gerutu Tristan melangkah kesal.
Ia turut duduk di sebelah Gita. Membiarkan gadis itu menguras air matanya sampai puas. Lalu mengulurkan sebuah sapu tangan.
“Makasih!” ucap Gita meraih benda persegi itu yang langsung digunakan menyeka air mata beserta cairan di hidungnya.
Tristan menatapnya dengan serius, “Dokter. Dari sekian juta penduduk di muka bumi ini, kenapa kamu memilihku?” tanya Tristan penasaran. Ia harus mendapat alasan yang jelas sebelum salah mengambil keputusan.
Bersambung~
Satu lagi nanti menyusul ya...
__ADS_1
Jan lupa jejaknya 😘