
"Jhoni! Ada apa?" tanya Cheryl lagi menepuk punggung Jourrel.
Mereka sudah hampir memasuki gang kecil, satu-satunya jalan yang mereka pakai untuk menuju rumah Jourrel. Jourrel menghentikan motornya, membuka helm dan menoleh pada Cheryl yang kebingungan.
"Kamu mau ke sana?" tunjuk Jourrel ke arah rumahnya.
Cheryl mengangguk cepat, "Iya, emangnya kenapa?" tanyanya bingung.
Jourrel mengusap wajahnya kasar, jantungnya seolah meledak di dalam sana, namun ia sudah tidak punya pilihan lain. "Itu ... itu adalah rumahku," sahutnya menoleh ke sembarang arah.
Terkejut, gadis cantik itu membelalakkan kedua matanya dan segera membuka kaca helmya, "Apa? Rumah kamu?" gumamnya nyaris tak percaya.
"Iya."
"Jadi ... Ibu Dina adalah ibumu?" Cheryl memastikan, dijawab anggukan oleh Jourrel.
"Hah, sempit sekali dunia ini. Yaudah ayo, ngapain malah berhenti di sini!" titah Cheryl menghela napas berat.
"Jadi, ini semua ...."
"Untuk ibu," tukas Cheryl memotong ucapan Jourrel dengan cepat.
"Harusnya nggak perlu repot-repot," tolak Jourrel merasa tidak enak.
"Aku ngasih ibu ya, bukan kamu! Udah ah buruan!" seru Cheryl.
Jourrel mendesah lega. Setidaknya sebuah fakta sudah ia sampaikan. ia masih harus mengumpulkan banyak keberanian untuk mengungkap fakta-fakta lainnya yang mungkin bisa meregangkan hubungan mereka, atau bahkan Cheryl berubah membencinya.
Perlahan, ia kembali menjalankan motor melalui jalan setapak dengan hati-hati. Ia yakin, ibunya akan sangat terkejut dan tidak menyangka dengan kedatangan Cheryl. Apalagi wanita itu sangat mengagumi Cheryl.
__ADS_1
Sesampainya di teras, Jourrel segera memasuki rumah, sembari membuka helm. "Ayo masuk, ibu pasti senang sekali. Dia selalu bercerita tentangmu!" ajaknya membuka pintu.
Cheryl mengernyit, "Oh ya? Bercerita tentang apa?"
"Waktu kamu membantunya, sini duduklah. Aku panggilkan ibu," ujarnya menunjuk sofa tamu. Lalu melenggang menuju kamar ibunya.
Jourrel mengetuk pintu kamar perlahan, sembari memanggil ibunya. "Bu, ada yang cari," ucapnya.
Tak berapa lama, pintu kamar terbuka, "Siapa, Nak?" tanya Dina.
Jourrel menyingkir, menggeser kakinya selangkah sehingga dapat memperlihatkan gadis cantik yang kini duduk di ruang tamu mereka.
"Kamu yang membawanya?" tanya Dina membelalak.
"Ceritanya panjang, Bu. Ayo temui dulu, dia juga membawakan banyak belanjaan. Tadinya aku juga nggak tahu kalau tujuannya mau ke sini," ucapnya setengah berbisik.
Dina melenggang dengan terburu-buru, ia tidak sabar menemui gadis cantik itu. Senyuman lebar menghias bibir pucatnya, segera mendudukkan tubuhnya di sebelah Cheryl, menatapnya penuh sayang.
"Apa kabar, Bu?" tanya Cheryl membalas senyuman lembut itu.
Entah kenapa nuraninya terketuk untuk menyambangi wanita tua itu. Masih membekas pertemuan pertama mereka, menyisakan empati dan kekhawatiran yang dalam.
Dia memang selalu berbuat baik pada semua orang, apalagi yang terlihat membutuhkan. Bahkan tanpa diketahui orang tuanya, Cheryl menjadi donatur di sebuah yayasan sosial. Hal yang pernah diajarkan aunty mamanya, Khansa.
"Ibu sudah lebih baik," balas Dina menggenggam tangan Cheryl.
Pandangannya mengarah pada pintu, di mana Jourrel membawa masuk semua belanjaan tadi atas perintah Cheryl.
"Yaampun, Nak. Kenapa repot-repot sih."
__ADS_1
"Cuma sedikit saja, Bu. Tolong diterima ya. Maaf, Cheryl nggak bermaksud apa-apa," ujarnya berhati-hati takut menyinggung.
"Terima kasih banyak, Cheryl. ibu cuma bisa berdoa, semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan dan kebahagiaan selalu menaungimu," ucap Dina dengan tulus.
Jourrel melemas mendengar penuturan sang ibu. Ia menunduk dalam di meja dapur setelah meletakkan belanjaan tersebut. Dia pasti akan sangat menyesal jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Cheryl. Apalagi dulu sempat hampir celaka karenanya.
Cheryl terenyuh, "Aamiin, makasih, Bu," balasnya.
Beberapa saat kemudian, Jourrel membawakan minuman dan meletakkan di meja. "Silakan diminum dulu," ucap pria itu.
"Makasih," sahut Cheryl meraih gelas tersebut dan segera meminumnya.
"Jourrel, bawakan kue yang ada di kulkas. Tadi pagi ibu membuatnya," seru Dina membuat Cheryl tersedak seketika.
"Uhuk! Uhuk!" Gadis itu terbatuk sembari membelalakkan mata.
Jourrel mendekat dan menepuk punggung Cheryl dengan perlahan. Gadis itu mendongak, hingga netranya yang mulai berair kini bertumbukan dengan manik elang Jourrel.
"Hati-hati," ucap Jourrel lembut.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Dina sendiri tampak khawatir.
Cheryl menepuk-nepuk dadanya, berkali-kali berdehem untuk menetralkan sesak di dada. Kemudian ia beralih menatap wanita di sebelahnya. "Jourrel? Jourrel Alvaro?" tanya Cheryl dengan suara seraknya.
Ia menebak saja, entah ini suatu kebetulan atau tidak. Tetapi nama Jourrel baru pertama kali ia temui. Dan Dina mengangguk, ia pikir mereka berdua memang sudah saling mengenal.
Sedangkan Jourrel membelalakkan kedua matanya begitu lebar. Ia sungguh terkejut ketika Cheryl mengetahui nama aslinya. Tubuhnya membeku seketika dengan desiran darah yang begitu kuat. Jantungnya bertalu memukul-mukul rongga dadanya.
Bersambung>>>
__ADS_1
Wes pokoe sat set sat set das des JDARRR! DAIIA 🔥🔥🔥🔥