
Jourrel melirik ke arah Cheryl, napasnya tersengal-sengal. Dadanya bertalu begitu kuat. Ia sampai merasa sesak saking kuatnya.
Satu lengannya menepuk-nepuk dada, sembari membuang muka ke luar jendela. Jourrel tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Rico terkekeh geli melihatnya. "Dasar bucin!” ejeknya dengan suara pelan, pandangannya tetap fokus dengan jalan yang mereka lalui. Bahkan memelankan lajunya, ingin melihat Jourrel yang semakin salah tingkah karena nona-nya itu.
“Jou, kenapa? Kamu sakit?” tanya Cheryl memajukan tubuhnya. Agar bisa menatap wajah Jourrel.
“Aku ... aku baik!” Jourrel menghela napas panjang, memberanikan menatap netra cantik Cheryl yang begitu meneduhkan. “Cher ....”
“Kenapa sih? Bukankah kamu mengatakan, kalau kamu menyukaiku? Bahkan menyayangiku? Lalu, apa yang salah?” cecar Cheryl yang bingung dengan jalan pikiran Jourrel.
Jourrel mengusap wajahnya kasar, menangkup kedua pipi Cheryl hingga tubuh mereka saling berhadapan. “Iya, aku sayang sama kamu. Tapi, aku bukan siapa-siapa, aku hanya yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa. Sedangkan kamu? Cher, kalau boleh jujur, aku sangat minder. Aku takut berhadapan dengan papa kamu, paman kamu. Mereka orang-orang besar Cheryl,” papar Jourrel menyelipkan anak rambut Cheryl.
“Aku melihat cinta mereka begitu besar untukmu. Aku yakin, mereka pasti menginginkan yang terbaik untukmu. Sebelum rasa ini terlalu dalam, hingga berakhir saling menyakiti satu sama lain.” Jourrel menarik napasnya dalam-dalam. “Akan lebih baik kita tidak memulainya, jika pada akhirnya kita berpisah,” ucapnya dengan berat menarik tengkuk Cheryl hingga kening dan hidung mancung mereka bersatu.
Sepasang netra Cheryl memburam, hingga kedipannya membuat bulir bening berjatuhan di kedua pipinya. “Siapa kamu berani menilai papa dan pamanku seperti itu, hah? Kamu belum mengenalnya sudah meng-adjuge seperti itu,” seru Cheryl tidak terima.
__ADS_1
“Bukan begitu, tetapi biasanya yang terjadi cyrcle-nya akan seperti itu. Aku mohon mengertilah, aku hanya tidak ingin menjeratmu. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun untukmu, selain hati yang tulus, Cheryl.” Jourrel semakin menekan tengkuk Cheryl yang memberontak ingin bergerak.
Napas mereka berbaur menjadi satu. Embusannya terasa satu sama lain. Jourrel menahannya, agar Cheryl tidak terlampau emosi dan mau mengerti maksud hatinya.
“Kau salah! Jangan samakan papa dan pamanku dengan yang lain. Mereka berbeda! Prinsip, tanggung jawab dan ketulusanmulah yang akan mereka pertanyakan. Bukan anak siapa, berapa hartamu dan apa pangkatmu, Jou!” gumam Cheryl memukul-mukul dada Jourrel dengan kepalan tangannya.
Pria itu langsung menarik gadis itu ke dalam dekapannya, “Maafkan aku,” ucapnya mencium puncak kepala Cheryl bertubi-tubi.
“Jourrel! Bukankah Tuan Leon pernah berpesan, jika kamu mencintai nona kecil, perjuangkan! Dari kalimat itu seharusnya bisa menyimpulkan sendiri. Kamu ini nggak peka seperti Tuan Tiger!” gerutu Rico yang tidak tahan ingin menyela.
Jourrel menoleh tanpa melepas pelukannya. Di dadanya terasa sebuah anggukan dari Cheryl sembari membalas pelukannya lebih erat. “Bener kata uncle! Kamu emang nggak peka seperti papa!” bisik Cheryl terkekeh.
Rico berdecak sembari menggelengkan kepalanya. Tak terasa, mereka sudah sampai di jalan kecil menuju rumah Jourrel. Rico bergegas turun setelah mobil berhenti, berniat membukakan pintu untuk Cheryl, namun terlambat.
Gadis itu sudah berdiri tegap di samping mobil menunggu Jourrel dan langsung menggamit lengannya.
"Kenapa, Uncle?” tanya Cheryl yang melihat Rico terpaku.
__ADS_1
“Tidak, hanya saja, aku baru sadar. Dulu bayi yang lahirnya prematur, bayi yang lahirnya penuh darah, keringat serta deraian air mata papa dan mama kamu, sekarang sudah dewasa.”
Tiba-tiba Rico menunduk, mengingat proses kelahiran Cheryl yang begitu menegangkan, mengharukan sekaligus menyedihkan. Karena tepat saat jeritan tangisnya, sang ayah justru mengalami koma.
Cheryl tersenyum, melepas tangannya dari Jourrel dan beralih memeluk Rico. Seperti memeluk ayahnya sendiri. “Uncle, terima kasih sudah menjadi ayah ketiga Cheryl!” ucapnya menyandarkan kepala dalam dekapan Rico.
Rico meregangkan pelukannya, “Mungkin kalau dia masih hidup, pasti sekarang tingginya hampir sama denganmu. Dan tumbuh menjadi gadis yang cantik,” ucap Rico mengingat mendiang putrinya.
“Uncle jangan sedih. Dia pasti sangat bangga punya ayah hebat seperti unce!” balas Cheryl menggenggam kedua tangan Rico. Pria itu hanya mengangguk, memaksa bibirnya untuk tersenyum.
“Mari masuk, Tristan sudah menunggu,” ajak Jourrel agar keduanya tidak semakin larut dalam kesedihan.
Cheryl berjalan diapit dua lelaki itu. Kedua lengannya pun melingkar dengan posesif pada lengan mereka.
Bersambung~
__ADS_1