
Dua hari yang begitu sibuk untuk Cheryl dan tim. Tepat pukul 11 malam, Jourrel menyusup ke dalam rumah lamanya, yang kini ditempati Bonar, istri dan Dame.
Jourrel membungkus seluruh tubuhnya dengan kain serba hitam. Masker hitam menutup sebagian wajahnya. Menyisakan mata elang yang memancar penuh dendam. Jaket anti peluru sudah ditutup dengan jaket kulit berwarna hitam pekat membalut tubuhnya.
Pintu pagar dibuka setelah Jourrel menekan bel, tetapi ia bersembunyi. Dan setelah penjaga keluar memastikan, Jou langsung memukul tengkuk pria itu hingga pingsan.
Dua penjaga lain segera keluar mendengar suara debuman di luar pintu gerbang. Dan disaat itulah, Jourrel juga menghabisi mereka saat itu juga. Tidak begitu sulit, cukup dengan ilmu bela diri tanpa harus mengeluarkan timah panasnya, mereka berhasil ditumbangkan Jourrel seorang diri.
“Sejauh ini aman, Nona!” lapor Poltak yang turut masuk mengekori Jourrel.
Cheryl mencengkeram kuat setir mobilnya di bawah gelapnya langit malam itu. Berjarak 100 meter dari rumah Jourrel. Dadanya berdegup ketika melepaskan Jourrel menjalankan aksinya malam ini.
“Emm! Jaga Jourrel dari belakang,” pesan Cheryl pada Poltak.
“Aku ingin menghancurkan Bonar beserta seisi rumah ini,” ucap Jourrel yang tiba-tiba mengatakannya. Ketika berdiri tepat di depan pintu utama yang luas dan menjulang tinggi. Tangannya mencengkeram daun pintu sembari menunduk.
Cheryl menegakkan tubuhnya dengan cepat. Manik matanya membelalak lebar. “Jou, kamu yakin?”
“Ya! Sakit sekali ketika aku kembali masuk ke rumah ini! Semua kenangan buruk itu semakin tergali! Tolong, bantu aku menghancurkannya setelah aku bertemu dengan lelaki brengsek itu,” pinta Jourrel dengan suara bergetar.
Cheryl menutup mulutnya, ia bingung harus bagaimana. “Sekali lagi aku tanya, apa kamu yakin, Jou. Bukankah di sana banyak kenangan masa kecilmu bersama ayah ibumu?” tanya Cheryl sekali lagi.
“Semua telah lenyap sejak kejadian itu, Cheryl. Hanya ingatan buruk dan sakit yang aku rasakan ketika kembali ke sini,” tutur Jourrel memohon.
“Baik, Paman Bian?” Cheryl mengiyakan lalu memanggil Bian yang sudah stan by tidak jauh darinya.
“Siap, Nona!” tegas Bian segera turun bersama para anggota Blackstone untuk memasang peledak di setiap penjuru ruangan.
Mendengar hal itu, Jourrel mengembuskan napas kasar. Ia segera mendobrak pintu rumah itu bersama Poltak. Para pelayan rumah langsung keluar karena mendengar keributan. Jourrel dan Poltak langsung menodongkan senjata ke arah mereka.
“Tinggalkan tempat ini sekarang juga jika kalian tidak ingin mati!” ucap Jourrel membuat mereka bergidik ketakutan. “Cepat! Jangan bawa apa pun. Tinggalkan ponsel kalian!” titah Jourrel lagi menggerakkan pistolnya ke arah luar.
“Ba—baik, Tuan!” ucap mereka mengangkat tangan dan segera keluar tanpa membawa apa pun. Berjalan tanpa berani menoleh sembari menahan napas.
Di luar, mereka segera ditangani oleh Bian dan anak buahnya. Segera diurus kepulangan mereka masing-masing dan memaksa mereka tutup mulut.
__ADS_1
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Jourrel yang sudah mengetahui letak kamar Bonar segera melangkah tanpa ekspresi menaiki tangga satu persatu. Ia berdiri di depan pintu dan mengetuk pintu tersebut dengan arogan.
Bonar mengerjapkan mata ketika terdengar ada yang berani mengusik tidurnya. Lelaki itu memaksa tubuhnya untuk turun dari ranjang dan membuka pintu.
Tubuhnya membeku ketika melihat Jourrel yang sudah membuka maskernya. Bonar mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya. Ternyata tak berubah atau menghilang. Jourrel benar-benar berdiri di depannya.
“Hngh! Berani sekali kamu memasuki rumah ini!” sindir Bonar mengedarkan pandangan ke segala arah, memastikan bahwa Jourrel datang seorang diri. Ia tidak mengira jika Jourrel justru mendatangi rumah itu. Bukan menemuinya di lokasi transaksi senjata seperti yang telah dia rencanakan.
“Kau pikir aku sepertimu? Datang membawa rombongan dengan dalih perampokan?" tembak Jourrel langsung pada intinya.
Bonar tertawa terbahak-bahak, "Hahaha! Ternyata kau sudah besar ya, Jou! Aku memang harus melakukannya, karena kakekmu sama sekali tidak memberikan warisan kepadaku. Semua diberikan pada ayahmu, anak kesayangannya!” aku Bonar tertawa menyeringai.
Bonar lalu kembali menatapnya tajam, “Lalu sekarang? Mau apa kamu? Bukankah ibumu akan mati kalau berani menginjakkan kaki lagi di sini?”
Jourrel menggertakkan gigi-giginya. Dadanya hampir meledak karena amarah yang membuncah. Matanya semakin tajam dan mulai memerah.
“Jourrel, tenangkan dirimu. Lima menit dari sekarang, rumah itu akan meledak,” ucap Cheryl dari sambungan alat komunikasi mereka.
“Tentu saja! Biar tidak ada yang mengganggu hingga semua harta ayahmu jatuh ke tanganku, haha! Bahkan harusnya kalian mati waktu itu!” tandas Bonar tidak ada raut ketakutan sedikit pun.
“Brengsek! Kau yang harusnya mati!” teriak Jourrel mencengkeram kerah Bonar dan mengentakkan ke dinding. Ia memukuli pria tua itu membabi buta.
Istri Bonar yang mendengar keributan segera keluar. Ia memekik terkejut ketika melihat suaminya dipukuli tanpa ampun. Wanita itu meraih apa pun yang ada di kamarnya, ia menemukan tongkat golf dan memukulkan pada punggung Jourrel bertubi-tubi.
Jourrel beranjak berdiri, lalu mencekik wanita itu penuh emosi, “Anda juga sama saja! Dasar keluarga sampah! Parasit!” teriak Jourrel mengingat wanita itu dulu selalu bersikap buruk padanya dan juga ibunya.
Tak disangka, Jourrel mendapat serangan lain di punggungnya. Sebuah tendangan dari Dame berhasil membuatnya tersungkur.
Dua lelaki itu terlibat perkelahian sengit. Jourrel berdiri lagi dan segera menghajarnya tanpa ampun. Meluapkan segala kemarahan yang terpendam di hatinya selama puluhan tahun.
Tendangan, pukulan dan saling serang membuat mereka sampai di balkon kamar. Tiba-tiba tubuh Jourrel melemas. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Jourrel langsung berjongkok sembari menarik rambutnya, menutup telinganya.
Kilasan ayahnya yang dibunuh lalu dijatuhkan dari balkon kamar tersebut kembali memenuhi mata dan telinganya. Dame kebingungan sekaligus takut dengan perubahan sikap Jourrel.
__ADS_1
“Aaaaaaarrrrrgggghhh! Ayaaaaah!” teriak Jourrel sekeras-kerasnya hingga seluruh tubuhnya menegang. Jourrel seolah kehilangan kendali.
“Jou! Jourrel! Paman! Poltak! Jourrel kenapa?” teriak Cheryl mengentakkan kakinya di mobil. “Jourrel sadarlah, dua menit lagi!” pekik gadis itu panik.
Poltak dan Bian segera berlari menyergap Bonar dan keluarganya. Mereka tak berkutik mendapat serangan tak terduga dari bala bantuan Jourrel. Hanya Dame yang berhasil kabur melompati jendela dan turun perlahan, merayap pada pillar di setiap lantai.
“Nona! Jourrel di balkon lantai dua kamar paling besar di sebelah barat. Sepertinya ia mengalami trauma berat. Mungkin teringat dengan ayahnya,” seru Rico yang memantau CCTV rumah tersebut.
Cheryl tak bisa berdiam diri. Ia segera memacu mobilnya memasuki pelataran rumah tersebut. Lalu berlari sekuat tenaga masuk ke rumah, berlari menaiki tangga untuk menemukan Jourrel.
“Kita harus segera keluar!” seru Cheryl melihat jam di pergelangan tangannya.
Jourrel masih berteriak menyerukan sang ayah. Pandangannya dipenuhi oleh kejadian tragis kala itu. Jourrel tidak bisa mengendalikan diri dan perasaannya.
Cheryl menarik kedua tangan Jourrel, lalu mendekapnya dengan sangat erat. “Jourrel, Jourrel kamu mendengarku! Jourrel, please ini aku, Sayang!”
“Nona, 59 detik lagi!” teriak Bian melenggang ke balkon dengan cepat dan segera memapah Jourrel, dibantu oleh Poltak. Beberapa anggota Klan Blackstone juga mulai berdatangan, mereka memastikan Bonar dan istrinya tidak bisa bergerak, mengunci pintu kamar rapat-rapat dan berlari keluar.
“Jou sama aku, Paman!” teriak Cheryl membuka pintu mobilnya.
Dengan cepat mendudukkan Jourrel dan membantu mengenakan sabuk pengaman. Cheryl sendiri segera duduk di balik kemudi. Menginjak pedal gas kuat-kuat segera melesat pergi sejauh-jauhnya.
Begitupun semua anggota Blackstone. Bian paling belakangan, memastikan semua anak buahnya sudah meninggalkan lokasi tersebut. Ia segera menyusul dan melesat pergi.
"DUARRRR!!!" Ledakan demi ledakan saling bersahutan. Api mulai membesar menghabisi seluruh bangunan seisinya.
Cheryl masih bisa merasakan getarannya, suaranya pun memekakkan telinga. Ia memutar mobilnya dan berhenti sejenak. Manik matanya bisa melihat jelas kobaran api yang membumbung tinggi ke angkasa. Ia menoleh pada Jourrel, menggenggam tangan lelaki itu dengan lembut.
"Lihatlah Jou, sesuai keinginanmu," ucap Cheryl menangkup kedua pipi Jourrel lalu memperlihatkan wajah Jourrel pada rumahnya yang lenyap ditelan api.
Napas Jourrel mulai memelan, ia menatap kosong. Air matanya bergulir membasahi kedua pipinya. Berharap semua kenangan buruk pun ikut lenyap dari ingatannya.
Cheryl membelai lembut pipi Jourrel, ia melepas sabuk pengaman lalu mendekat pada lelaki itu. Jourrel menoleh, sedetik kemudian tercengang ketika Cheryl mencium bibirnya.
Bersambung~
__ADS_1