
“Apanih? Cemburu ya?” goda Cheryl mencolek pinggang Jourrel.
“Enggak,” sanggah Jourrel mencoba menolak serangan Cheryl bertubi-tubi di pinggangnya.
“Iiih nggak mau ngaku,” lanjut Cheryl memainkan kedua telunjuknya, mencari celah agar bisa terus menusuk pinggang lelaki itu.
Jourrel tertawa merasa geli, tubuhnya menggeliat tidak karuan hingga kini pria itu beranjak dan mengitari sofa. Cheryl membuntuti, aksi kejar-kejaran mengelilingi sofa pun tak terhindarkan.
Kaki Cheryl tersangkut, ia hampir terjatuh. Akan tetapi, Jourrel segera menariknya kuat, tubuh mereka saling berbenturan. Bahkan saking kerasnya, terjatuh di sofa dengan posisi Cheryl menindih tubuh lelaki itu.
Deru napas mereka saling beradu, detak jantung dalam rongga dada mereka tak terkendali. Sepasang netra keduanya saling bertautan erat. Senyum yang begitu memukau terbit dari bibir keduanya.
Jourrel mengangkat satu tangannya, menyelipkan anak rambut Cheryl ke belakang telinga, “Terima kasih ya. Kamu satu-satunya obat disaat aku benar-benar jatuh karena kehilangan ibu. Aku sayang kamu, Cher,” ucap Jourrel membelai pipi Cheryl dengan jemarinya.
“Tidak perlu aku jelaskan alasannya, kamu pasti bisa merasakannya.” Cheryl meraih satu tangan Jourrel meletakkan di dadanya. “Jantung ini selalu berlarian ketika di dekatmu!” ucap gadis itu menghela napas panjang dengan senyum manisnya.
Jourrel beranjak duduk, hingga kini gadis itu berada di pangkuannya. Menaikkan dagu lancip Cheryl dan semakin mendekatkan kepalanya.
Akan tetapi, sebuah batu kerikil melesat tepat di kepala Jourrel, sebelum bibir mereka menyatu. “Auuw!” seru Jourrel mengusap kepalanya.
__ADS_1
Sontak keduanya menoleh, Rico berdiri di ambang pintu dengan tatapan menyeramkan. Buru-buru Cheryl turun dari pangkuan Jourrel, duduk dengan kepala tertunduk dalam.
“Mau ngapain kalian?” sentak Rico berjalan semakin mendekat.
Cheryl dan Jourrel saling melirik, mereka bergeming tanpa suara, bisa-bisanya lupa kalau mereka dalam pengawasan. Cheryl menggigit bibir bawahnya.
“Bawa dulu ke altar! Jangan asal serobot!” lanjut Rico berdiri di hadapan mereka sembari berkacak pinggang.
“Maaf, Uncle!” ujar dua sejoli itu bersamaan.
...\=\=\=\=000\=\=\=\= ...
Tiger beranjak dengan cepat. Ia berdiri di sebelah Leon, membungkuk dan menatap serius layar laptop Leon. “Apanya yang ketemu!” keluh Tiger yang tidak mengerti bagaimana membaca deretan coding di laptop Leon.
“Ck! Sabarlah! Itu masih proses. Intinya kami sudah menemukannya,” tambah Leon meregangkan tubuhnya.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, proses di laptop Leon telah selesai. Lalu menunjukkan sebuah bangunan gedung pencakar langit, lengkap dengan titik lokasi beserta alamatnya.
Leon memperbesarnya, hingga kini terlihat semakin jelas. “Ternyata bukan hanya ganti nama pemilik, tetapi juga nama perusahaan. Pantas saja langsung menghilang bagai ditelan bumi!” komentar Leon.
__ADS_1
“Perusahaan itu ....” Tiger menyahut, namun kalimatnya menggantung. Kerutan di keningnya semakin dalam, kemudian saling tatap dengan Leon. Leon mengedikkan kepala agar Tiger melanjutkannya.
“Kami baru saja melakukan perjalanan dinas bersama di Rusia!” cetus Tiger.
“Oh ya? Bukankah ini perusahaan property?” Leon menimpali.
“Aku mengerti. Pasti dia melakukan transaksi illegal. Dan property itu hanya sebagai alibi saja!” Tiger segera kembali ke kursinya, menelusuri lebih dalam perusahaan saingannya dalam persenjataan itu.
Leon beralih meraih ponselnya dan segera menghubungi Cheryl agar segera datang untuk rencana selanjutnya.
Timing yang tepat, bersamaan dengan sidang Rico, ponsel Cheryl berdering. Gadis itu segera mengangkat dengan cepat.
“Gimana, Om?” tanya Cheryl.
“Segera kembali ke rumah. Ajak Jourrel juga. Kami sudah menemukannya!” ucap Leon langsung mematikan sambungan telepon itu.
Cheryl menatap benda pipih di tangannya, terdiam beberapa detik kemudian segera beranjak. “Om papa berhasil menemukannya. Ayo!” ajak Cheryl bersemangat. Ketiga orang itu segera berlari menuju mobil yang terparkir di bahu jalan.
__ADS_1
Bersambung~