Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 52 : KEJUJURAN JOURREL


__ADS_3

Sejak melihat kedekatan Cheryl dan Jourrel, Tristan menaruh curiga. Ia mencoba menahan diri agar tetap berpikiran positif sembari meyakinkan hatinya, bahwa Jourrel tidak mungkin menikungnya.


Tetapi hari ini berulang kali matanya disuguhkan dengan pemandangan yang cukup menyesakkan dadanya. Ketika di rumah Jourrel, kedatangan mereka di rumah sakit, dan sekarang di ruang IGD.


"Masih bisakah aku untuk tidak overthinking dengannya?" gumam Tristan berdiri dengan tatapan nanar dan tangan yang mengepal dengan kuat. Pria itu memalingkan muka dengan raut kecewa.


Setelah beberapa saat, brankar ibu Dina didorong dua perawat, memasuki lift khusus pasien. Cheryl dan Jourrel segera mengikutinya setelah ada panggilan. Mereka bahkan tidak sadar bahwa Tristan tidak ada di antara mereka.


Di dalam lift, tidak terjadi percakapan apa pun. Semuanya bungkam dan hanya menciptakan suasana menegangkan. Jourrel menggenggam tangan ibunya sembari melangkah memasuki ruang ICU.


"Tolong hanya satu orang saja menunggu pasien. Dan silahkan mengenakan perlengkapan medisnya," ucap salah satu perawat lalu membuka pintu kamar inap VIP kemudian mendorong masuk brankar Ibu Dina.


Jourrel dan Cheryl berhenti serentak, keduanya saling menatap, hanya mata mereka yang saling berbicara. Selang beberapa detik, Cheryl mengangguk, ia mundur dan berjalan menuju kursi tunggu. Sadar, Jourrel yang lebih berhak.


Namun, sebelum memasuki ruangan, Jourrel menghampiri Cheryl, menarik lengan gadis itu hingga berbalik dan menabrak dada bidang Jourrrel. Pria itu memeluknya sangat erat, tubuh Cheryl membeku, tidak berani bergerak.


"Terima kasih banyak. Dengarkan aku baik-baik, aku harap kamu mau mengerti dan memaafkanku," bisik Jourrel di telinga Cheryl.

__ADS_1


Jourrel memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberaniannya. Lengannya semakin erat mendekap gadis cantik itu.


"Cheryl, aku adalah pembunuh bayaran," aku Jourrel.


"DEG!"


Cheryl memberontak, berusaha melepaskan pelukan Jourrel. Tetapi lelaki itu tak memberikan celah sedikit pun. Tenaga Cheryl tentu tak sebanding dengan Jourrel.


"Sudahku bilang, dengarkan aku dulu," gumam Jourrel dengan suara tenang, tanpa mempedulikan Cheryl yang meronta dan berusaha lepas dari kungkungannya. Jourrel tak membiarkannya lepas sebelum ia menyelesaikan ucapannya.


"Ada seseorang yang menyewaku untuk melenyapkan nyawa kamu. Jujur, aku nggak pernah menggunakan hati setiap melakukannya. Tak peduli siapa pun targetku, aku selalu lakukan dengan lancar. Tapi tidak denganmu Cheryl!" Pria itu menyatakan kesungguhannya.


"Kebaikanmu, ketulusanmu, mampu meruntuhkan ambisiku. Aku tidak bisa melakukannya. Kamu tidak pantas disakiti, tapi kamu harus aku lindungi. Percayalah Cheryl," sambung Jourrel lagi menggerakkan telapak tangannya pada punggung gadis itu.


Cheryl masih bergeming, mencoba menelaah setiap kalimat yang terucap dari bibir Jourrel. Ia mendorong dada Jourrel, menatap pria di hadapannya dengan serius. Mencari kebenaran dari sorot mata pria itu.


"Aku harap, kamu jangan pernah keluar sendirian. Karena bahaya tengah mengintaimu. Banyak orang-orang yang tidak menyukaimu, iri dengan hasil kerja kamu. It's ok, kalau sekarang kamu membenciku, marah denganku. Aku akan tetap berusaha untuk melindungimu," ucap Jourrel memaksa bibirnya untuk tersenyum.

__ADS_1


"Pembunuh bayaran? Kamu? Seorang pembunuh bayaran?" tanya Cheryl berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Jourrel mengangguk, "Ya, aku bukan pria sebaik yang kamu kira. Sekali lagi maafkan aku karena pernah membuatmu celaka. Aku sungguh menyesal," ucapnya.


Jourrel menatap jam di pergelangan tangannya, "Boleh aku minta tolong?" pintanya kembali menaikkan pandangan tepat pada manik mata Cheryl. Cheryl yang masih dilanda syok hanya mengangguk.


Jourrel menelan salivanya dengan berat, ia menyentuh kedua bahu Cheryl, "Aku titip ibu ya. Jika sampai malam nanti aku tidak kembali, hubungi Tristan. Dan kamu, mintalah praa pengawal untuk menjemputmu. Beristirahatlah di rumah. Sepertinya, kamu lebih aman di rumah. Karena penjagaan di sana sangat ketat," ujarnya dengan suara yang berat.


Alis Cheryl bertaut dalam, "Kamu mau ke mana?" tanya Cheryl bernada khawatir.


"Ada hal yang harus aku putuskan dan selesaikan. Dan semua itu ada resikonya. Sekarang masuk dan kunci ruangannya. Jangan buka jika bukan aku atau Tristan yang hendak masuk. Buruan!" titahnya menepuk-nepuk lengan Cheryl.


Jourrel bergegas pergi meninggalkan Cheryl yang masih diam terpaku. Sungguh ia masih sulit mencerna semua kejadian hari ini. Benar-benar mengejutkan. Cheryl berdiri menatap kepergian Jourrel hingga punggung lelaki itu menghilang di balik pintu lift.


Bersambung~


__ADS_1


Hati2 ya ayang....


__ADS_2