
“Kamu mengenalnya?” tanya Leon pada Tiger setelah mereka saling beradu pandang selama beberapa saat.
Tiger menggeleng, “Tidak!” sahutnya singkat. “Kamu?” tanya nya balik.
Cheryl menegang melihat dua orang tua itu saling melempar tanya. Ia melirik pada Rico yang mengedikkan bahunya, pertanda tak mengerti.
Leon mengernyitkan keningnya, ia menatap dalam wajah Jourrel yang masih berdiri tegap di depan mereka semua. “Sepertinya nama itu tidak asing. Rico, hubungi asisten Gerry. Tanyakan nama itu. Biar dia yang menelusuri,” perintah Leon pada bawahannya.
“Siap, Tuan!” Rico segera mengeluarkan ponselnya. Melakukan panggilan singkat dengan asisten Gerry agar menemukan jejak Nugraha Alvaro.
Cheryl tak mampu berkata-kata. Ia hanya merasa was-was. Dan sedari tadi terus menatap Jourrel yang justru terlihat tenang, tanpa ketakutan sedikit pun. Berperan layaknya pria sejati yang siap mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia lakukan.
“Pa, udah selesai? Nggak disuruh duduk? Itu kepalanya pasti sakit,” ucap Cheryl dengan hati-hati menunjuk Jourrel.
“Hmm! Duduklah. Ambilkan kotak P3K, Cher!”
Tanpa menjawab, Cheryl beranjak cepat dan langsung berlari mencari kotak obat. Leon dan Tiger menatap heran anak gadis itu.
Leon menggeleng pelan, menyembunyikan senyumannya. ia beralih pada Rico yang saling berbalas pesan sedari tadi. “Bagaimana, Ric?” tanya Leon mengejutkan Rico yang tengah menatap layar ponselnya dengan serius.
__ADS_1
Rico mengangguk, kemudian merapatkan diri pada Leon dan menunjukkan hasil penelusuran asisten Gerry. "Ini Tuan."
Leon menatapnya dengan serius, kedua jemarinya saling bertautan di atas meja. Pandangannya mengarah pada ponsel Rico.
Cheryl telah kembali dengan satu kotak obat, meletakkannya di atas meja dan mulai membersihkan luka di kening Jourrel.
Jourrel menahan degupan jantungnya yang memberontak di dalam sana. Berjarak sedekat itu dengan gadis yang bersemayam di hatinya. Bibirnya mengurai senyum haru walaupun masih belum mengerti bagaimana nasibnya nanti. Setidaknya Cheryl mampu memberinya support system.
Tangan Cheryl sedikit gemetar karena tidak terbiasa mengobati luka seperti itu. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati.
Sepasang manik tajam Tiger terus mengamati reaksi mereka berdua, tentu saja tanpa mereka sadari.
Cheryl kembali duduk setelah selesai menutup luka Jourrel. Mendengar Leon bersuara, ia langsung menoleh. “Apanya yang oke, Om?” tanya gadis itu menatap curiga.
Jourrel yang sempat rileks sejenak, kini kembali menegang. Akan tetapi ia harus menyiapkan diri apa pun hasilnya. Jourrel baru paham, keluarga Cheryl adalah orang-orang besar dan terpandang. Siapa pun yang berani mengusiknya, akan mendapat balasan berkali-kali lipat.
“Nugraha Alvaro, jadi dia ayahmu?” tanya Leon pada Jourrel.
“Iya, Tuan,” jawab Jourrel tenang meski dadanya seolah meledak-ledak di dalam sana.
__ADS_1
“Mmm ... Sekitar sepuluh tahun yang lalu, perusahaan itu terlibat kontrak kerja sama dengan SSG di Palembang. Dia sudah menandatangan kontrak kerja sama, bahkan sudah membayarnya juga. Tetapi, tiba-tiba saat SSG hendak menjalankan tugasnya, perusahaan itu sudah berganti kepemilikan. Dan memutus kontrak kerja sama begitu saja.”
“Apa Anda tahu siapa nama pemilik yang baru?” sela Jourell berdebar-debar, tubuhnya bahkan bergetar hebat saat ini. Orang itu pasti dalang di balik semua kejadian yang menimpanya.
Leon menggeleng, “Tidak! Bukan ranah saya. Lagi pula, dia sudah membayar full selama satu tahun. Jadi jika dipikir-pikir, dia yang rugi. Karena kami sama sekali belum sempat menjalankan tugas,” jelas Leon.
Tubuh Jourrel melemas, punggungnya bersandar pada kursi. Waktu itu dia masih terlalu dini, tidak mengerti apa pun tentang perusahaan.
“Bukankah itu hal yang mudah bagimu untuk mencari tahu?” tanya Tiger menatap Leon.
“Apa untungnya buatku?” goda Leon melirik Cheryl yang sedari tadi menegang.
“Om papa!” rengek gadis itu mengerucutkan bibirnya.
Leon terkekeh. Belum sempat menjawab, dering ponsel Cheryl menggema di ruangan itu. Ia meraihnya masih dalam mode kesal. Langsung mengangkat tanpa melihat nama sang penelepon.
Beberapa detik kemudian, raut wajah gadis itu berubah pucat. Bibirnya bergetar dan air matanya mengalir deras tanpa diminta.
Bersambung~
__ADS_1