Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 90 : KAKAK MEMANG BEDA!


__ADS_3

Sepasang netra biru Cheryl digenangi oleh cairan bening yang siap terjun ketika ia berkedip. Masih setia menatap manik Tiger di hadapannya. Belum pernah sebelumnya mendapat bentakan sekeras itu. Deru napas gadis itu berubah kasar. Tubuhnya sedikit gemetar, lalu keluar dari ruangan dengan berlari kecil.


Tiger terhenyak menatap punggung putrinya yang semakin menjauh. Sesal mulai menanjak dari benaknya, Tiger menghela napas panjang lalu mendudukkan tubuhnya sembari menunduk.


"Maaf, Tuan. Saya akan membujuknya agar tidak ikut. Permisi,” pamit Jourrel mundur sambil menunduk lalu berbalik dan berlari mencari keberadaan Cheryl. Ia merasa bersalah, gara-gara dirinya pertengkaran itu terjadi.


Leon menyandarkan punggungnya pada kursi putarnya. Menatap Tiger yang sedang meresapi penyesalannya. “Kalau Jihan tahu kau membentak putrinya, habislah kau, Kak. Aku baru saja melakukannya pada Luna. Kemarahan Sasa melebihi gunung meletus,” ucap Leon semakin membuat Tiger merasa sulit bernapas.


“Kalau Jihan tahu Cheryl dalam bahaya, mungkin aku akan dibunuh olehnya!” sahut Tiger dengan napas tak beraturan.


“Harusnya dengarkan dulu rencananya. Lalu apa susahnya mengajari Cheryl menggunakan senjata? Bukankah itu bisa untuk mempertahankan diri? Juga bisa melindungi dirinya sendiri. Luna saja sudah sejak lama belajar menembak, berkuda, Khansa sendiri yang mengajarkannya,” papar Leon.


“Untuk bekal, siapa tahu berguna disaat terdesak. Apalagi dunia bisnis kejam, Kak. Apa kamu tidak belajar dari kejadian sebelumnya? Jangan sampai menyesal sebelum terlambat,” sambung pria itu lagi.


Tiger meremas jari jemarinya sendiri di atas meja, ia membenarkan apa yang diucapkan Leon. Semua untuk pertahanan diri putrinya, hanya akan digunakan dalam keadaan terdesak.


\=\=\=000\=\=\=


Jourrel berlari dengan langkah panjangnya. Ia tidak tahu kemana perginya Cheryl, di luar ruangan Jourrel kebingungan karena banyaknya jalan yang bercabang.

__ADS_1


"Cheryl!" panggil Jourrel tak peduli terdengar atau tidak.


Jourrel terus melangkah sambil berteriak memanggil namanya. akan tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari gadis itu. Jourrel menjadi khawatir, perlahan kakinya menuruni anak tangga namun dengan pandangan yang mengedar ke seluruh penjuru ruangan.


“Loh, calon kakak ipar. Kok di sini? Kak Cheryl mana?” tanya Axel yang baru sampai di rumah dan hendak menuju kamarnya.


“Eeee ....” Jourrel tampak berpikir keras. Ia lupa dengan nama remaja itu.


“Axel, Kak! Ah elah, masih muda kok udah pelupa!” seru Axel yang bisa membaca raut wajah Jourrel.


“Ah iya, Axel. Maaf, Kakak lupa. Kamu tahu nggak, di mana kakakmu kalau lagi sedih? Mungkin ada di kamar atau di mana gitu?” tanya Jourrel.


Axel menautkan kedua alisnya, ia bingung karena Jourrel tiba-tiba ada di situ dan kini mencari keberadaan sang kakak.


“Papa pulang? Mmm ... biasanya kalau Kak Cheryl sedih tuh balapan. Kalau engga tuh, di atap!” tunjuk Axel ke atas.


“Hah? Atap?” Jourrel tampak tak percaya.


“Iya, Kak Cheryl emang beda!” sahut Axel terkekeh. “Ayo aku tunjukin, Kak! Kali aja di sana. Soalnya mobilnya masih di luar,” ajak Axel memimpin jalan.

__ADS_1


Jourrel kembali naik ke lantai tiga, lalu memasuki sebuah ruangan kecil yang jendelanya terbuka lebar. Axel melongokkan kepala dan benar saja, Cheryl tampak duduk memeluk lututnya di atas genteng yang kemiringannya hampir 45° itu.


“Nah, itu kakak di sana! Susul lah. Hati-hati!” ujar Axel menepuk bahu Jourrel lalu meninggalkannya begitu saja.


Jourrel menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. “Ini kalau jatuh minimal cacat, maksimal bisa mati!” gumamnya menengok ke bawah.


Demi sang pujaan hati, Jourrel memberanikan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, membuangnya kasar. “Semangat, Jou! Kamu pasti bisa!” serunya mengepalkan tangan menyemangati dirinya sendiri.


Jourrel menekuk kedua jari tangannya hingga terdengar bergemeletuk. Kemudian melompat jendela dan menjajak di atas genteng mengkilap rumah mewah itu. “Ya Tuhan, jangan biarkan aku mati dalam kondisi masih menyimpan dendam.” Bibir Jourrel terus meracau.


Dengan sangat hati-hati disertai jantung yang bertalu begitu kuat, Jourrel melangkah. Tangannya berpegangan kuat pada dinding-dinding yang dilaluinya. Bulir keringat mulai bermunculan di wajah tampannya.


Kemudian berjongkok, kedua tangannya menopang dari belakang tubuhnya hingga napasnya berembus lega ketika berada tepat di belakang Cheryl.


“Cher!” panggil Jourrel menyentuh bahu Cheryl.


Namun Cheryl refleks menepis tangan itu hingga membuat Jourrel terpeleset. Tubuhnya merosot hingga kini kedua kakinya bergelantungan.


“Jourrel!” pekik Cheryl terkejut.

__ADS_1


“Hah! Hah! Cheryl! Cheryl! Aku belum mau mati. Aku masih mau balas dendam. Cheryl!” teriak Jourrel mencengkeram kuat tepian genteng.


Bersambung~


__ADS_2