
Cheryl panik, ia takut terjadi sesuatu dengan Jourrel. Pria itu sama sekali tak merespons panggilannya. Tak berapa lama helikopter milik sang ayah mulai mendarat tak jauh darinya. Bian yang diperintahkan langsung oleh sang boss, segera turun membawa Cheryl dan Jourrel ke Palembang.
“Nona, mari!” ajak Bian agar segera masuk helikopter.
Beberapa orang mulai membantu, memapah Cheryl yang melemas melihat Jourrel tak sadarkan diri. Sedang yang lain segera mengangkat Jourrel dan membawanya ke landasan helikopter tersebut.
“Tuan sudah menunggu di markas, Nona!” Bian memberi informasi.
Hari sudah menjelang pagi, mereka segera berangkat ke Palembang saat itu juga. Sisanya membereskan kekacauan yang ada.
Cheryl tak henti-hentinya menangis sembari memeluk tubuh Jourrel. Mereka segera berpindah ke pesawat yang sudah siap lepas landas. Cheryl sudah tidak peduli apa pun. Hanya keselamatan Jourrel yang memenuhi pikirannya saat ini.
Matahari mulai menyembul dengan perlahan, sudah ada beberapa mobil yang siap menjemput kedatangan Cheryl dan yang lainnya di bandara. Dengan cepat segera melesat menuju markas Black Stone.
Menit demi menit terlewati, jarak yang tak terlalu jauh terlampaui. Sudah ada tenaga medis khusus yang menyambut kedatangan Jourrel.
“Pa!” panggil Cheryl ketika baru turun dari mobil.
Tiger berlari menghampiri dan memeluk erat tubuh putrinya. Ia tidak tidur sama sekali demi memantau putri kesayangannya. Ketegangan yang menderanya sedari tadi kini mulai memudar setelah ia dapat memeluk Cheryl.
__ADS_1
Jourrel segera ditangani di ruang medis. Tiger tak melepas putrinya sedikit pun. Memapahnya, memeluknya dan terus menenangkan putrinya yang menangis sedari tadi.
Pintu kaca yang tergeser, mengalihkan atensi mereka berdua. Cheryl beranjak berdiri dengan cepat untuk mendengar penjelasan dokter setelah menunggu cukup lama.
“Terdapat luka ringan di sekitar punggung, dan tulang bahunya sedikit bergeser, bisa pulih secepatnya. Selain itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nona, Tuan,” lapor dokter setelah melakukan CT-Scan dan pemeriksaan lengkap.
“Kenapa dia enggak sadar? Bahkan sampai sekarang?” ucap Cheryl khawatir, sembari mengintip ke arah ranjang Jourrel. Pria itu masih nampak memejamkan mata.
“Untuk masalah ini, saya sarankan diperiksa oleh psikiater, Nona. Karena menurut hasil pemeriksaan saya, secara keseluruhan fisiknya baik-baik saja. Bisa jadi, mentalnya yang bermasalah,” jelas dokter itu lagi.
Cheryl menoleh pada Tiger, menggamit lengan sang ayah dan menggoyangkannya. “Pa, ayo telepon aunty mama. Suruh datang ke sini, Pa,” rengek Cheryl yang masih berderai air mata.
“Yaudah, ayo, Pa. Tunggu apa lagi!” tegas Cheryl memaksa.
“Iya, iya. Sabar, Sayang.”
Tiger segera meminta bawahannya untuk menyiapkan mobil. Mereka memindahkan Jourrel ke RS Sebastian, setelah menerima hasil rekam medis lelaki itu.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
__ADS_1
“Aunty mana sih, Pa?” tutur Cheryl mondar-mandir tidak tenang sedari tadi.
“Duduklah, dia sedang perjalanan sama mamamu juga,” ucap TIger.
“DEG!”
Cheryl membeku ketika mamanya disebut. Ia tidak tahu bagaimana reaksi sang mama nanti.
Tiger menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa?” tanya Tiger.
Cheryl memeluk punggung Tiger yang tengah duduk dengan tegap, menyandarkan dagunya di salah satu bahu kokoh sang ayah. “Pa,” panggil Cheryl.
“Hmmm?”
“Nanti bantu ngomong ke mama ya?” bisik gadis itu di telinga Tiger.
“Kenapa harus papa? Kamu ngomong sendiri dong,” elak Tiger menggodanya.
“Takut mama marah. Pokoknya papa harus bantuin, titik! Papa ‘kan udah janji, Cheryl nggak ada luka satu pun. Jou sampai kayak gitu juga karena nyelametin Cheryl, Pa,” pinta Cheryl memaksa.
__ADS_1
Bersambung~