
Tristan tidak berani menyela, sekalipun dia sangat penasaran. Apalagi sejak gadis itu memunculkan sikap berbeda. Tristan lebih berhati-hati lagi.
Tak berapa lama, Cheryl menegang ketika mendengar suara berat dari ponselnya. Ia semakin mendekatkan benda pipih itu pada telinga dengan debaran yang mulai mengguncang sekujur tubuhnya.
"Poltak! Kamu di mana?" seru Cheryl histeris. Jantungnya seperti hendak melompat dari dada.
"Sebentar lagi, Nona. Pintu gerbang selalu terbuka ketika ada truck kontainer pengantar barang. Saya sudah berjalan di sebelahnya dan bersiap menyelinap sebelum ketahuan para penjaga," terang Poltak.
"Buruan! Sudah nggak ada waktu lagi, Pol!" pekik Cheryl hampir menangis setelah mampu menangkap percakapan dari chips yang ada di punggung Jourrel.
Tubuhnya sampai gemetar, bulir keringat juga menyembul pada keningnya. Berkali-kali gadis itu menyibak rambutnya yang masih terikat, ke belakang. Kedua kakinya bergerak karena merasa tidak tenang.
"Iya, Nona!"
Sesuai rencana, Poltak menjalankan mobilnya dari sisi lali kontainer yang hendak memasuki area perusahaan. Gerbang yang tinggi dan panjang terbuka dengan sangat lambat. Hingga berhasil melalui pintu gerbang, sebelum beberapa satpam menyadarinya dan tengah disibukkan dengan driver kontainer tersebut.
Hanya menggunakan feeling, Poltak mencari lokasi parkir yang strategis. Tanpe menguncinya, ia segera keluar dari mobil tersebut.
Seorang satpam yang berjaga, tengah menghampirinya. Poltak mengedarkan pandangan, menyisir CCTV yang menyorot padanya. Ia pun segera beralih ke belakang mobil dan pura-pura membuka bagasi.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam tersebut.
__ADS_1
Poltak diam, pura-pura sibuk mencari sesuatu. Karena penasaran, satpam tersebut ikut merunduk untuk memastikan. Namun tanpa diduga, Poltak justru memukul tengkuk satpam itu dengan kekuatan penuh. Bahkan kini sampai tak sadarkan diri.
Poltak segera melucuti seragam itu, dan mengenakannya. Ia juga membuang satpam tersebut ke semak-semak yang ada di sudut perusahaan.
Langkahnya tegap, tanpa bersuara apa pun, Poltak berjalan sembari menurunkan ujung topinya. Ia segera melenggang ke ruang presdir. Yang mana, sudah ada petunjuk dalam lift.
************************
Di sisi lain, Jourrel sudah berdiri di hadapan Reno. Di balik punggungnya, ada dua pria berbadan tegap yang kini tengah bersiaga jika Reno mengeluarkan perintah.
"Hmmm ... Mr. J!" sapa Reno yang duduk di kursi kebesarannya sembari menatap pasir yang berada dalam gelas kristal. Pasir putih tersebut turun sedikit demi sedikit, berjatuhan pada gelas tertutup di bawahnya.
"Kau lihat pasir ini sudah semakin habis. Itu artinya, kesempatanmu juga sudah habis. Lalu, kenapa sampai sekarang aku sama sekali tidak mendengar kabar apa pun dari gadis itu! Apa kau sudah menjalankan tugasmu dengan benar? Atau ... kau siap mati karena sudah melanggar perjanjian," papar Reno menyeringai dingin.
Ia mengetuk-ngetuk gelas pasir yang ada di hadapannya, lalu menoleh pada Jourrel yang masih menatapnya kuat.
Jourrel bergerak maju, mengeluarkan berkas perjanjian dari balik kaos yang dikenakannya. Mengarahkan tepat di hadapan Reno. "Ini?" Jourrel berucap lalu merobek-robek kertas tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil.
Ia juga merogoh saku celana, menyerahkan selembar cek yang pernah ia terima. Mendorongnya tepat ke hadapan Reno yang tercengang melihatnya.
"Apa maksudmu Mr. J?" teriak Reno berdiri.
__ADS_1
Bahkan kini dua orang di belakang Jourrel tengah menodongkan senjata ke arah tubuhnya. Jourrel sama sekali tak gentar. Ia tetap berdiri seperti semula. "Tuan Reno, aku memutuskan untuk mundur dari misi ini. Cek masih utuh, hanya pernah kusentuh dan simpan saja. Aku tidak bisa melakukannya," jawab Jourrel dengan suara tegas.
Pernyataan itu tentu saja membuat Reno meradang. Tubuh gempal Reno sepenuhnya menegang dan memancarkan amarah.
"Dasar pecundang! Menghabisi nyawa satu wanita saja tidak becus. Hanya seorang Cheryl Anastasia, perempuan dan kau tidak bisa. Hahaha! Benar-benar pecundang! Dan kau ternyata sudah tidak ingin hidup?! Bereskan dia!" teriak Reno memerintahkan dua anak buahnya untuk menarik pelatuk mereka.
Dalam surat perjanjian mengatakan, jika Jourrel gagal atau mundur dalam misinya, maka dia harus siap kehilangan nyawa. Karena Reno tidak ingin ada yang membocorkan rahasianya. Dia tidak mau ambil resiko jika melepaskan pembunuh bayaran itu begitu saja. Satu-satunya cara adalah melenyapkannya.
"Klek!" seruan dua senjata api yang siap melesatkan timah panasnya.
********
"Jourrel?!" teriak Cheryl menahan napas. "Poltak! Kau di mana? Poltak jawab aku? Ke mana kamu, hah? Poltak!?" teriak Cheryl panik dan menangis.
Tristan baru mengerti bahwa sedari tadi, Cheryl begitu mengkhawatirkan kondisi Jourrel. Hatinya seperti tersengat aliran listrik. Terlihat sekali wajah Cheryl yang pucat pasi dan sangat gusar.
Bersambung~
Ayaaang 😖😖
__ADS_1