Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 87 : JODOH TAK TERDUGA


__ADS_3

Kedatangan Jourrel bersama Cheryl seketika membuat Tristan berdiri. Ia sudah sampai beberapa menit yang lalu. Mereka duduk berempat, Rico memilih menunggu di luar. Tidak ingin ikut campur urusan anak muda.


“Jadi gimana?” Cheryl yang tampak begitu antusias, tidak sabar mendengar ceritanya. Ia duduk di sebelah Jourrel.


“Mmm... berawal waktu aku menunggu ibu.” Tristan bertatapan dengan Gita kemudian mulai menceritakan semuanya.


Mulai dari ajakan nikah Dokter Gita, perjanjian pra nikah karena sama-sama menolak perjodohan, sampai saat pertemuan Tristan dengan mama Gita yang langsung ditolak mentah-mentah.


Mama Gita memiliki kandidat tersendiri sebagai calon menantunya. Akan tetapi, Tristan pantang menyerah. Terus berusaha menaklukkan calon mertuanya itu. Demi menepati janjinya pada Gita.


Sampai hari ke-4, mama Gita masih menolaknya. Segala macam cara sudah dilakukan,  tetap saja ditolak. Akhirnya Tristan menggunakan jalan terakhir, yaitu membawa papanya mendatangi rumah Gita.


Betapa terkejutnya mereka semua, papa Tristan dan mama Gita saling mengenal. Mereka teman dekat, dan bermaksud saling menjodohkan anak-anak mereka.


Gita terperangah karena sempat bertemu dengan papa Tristan. Ia mengira, mamanya akan menjodohkan pria tua itu dengannya. Siapa sangka, ternyata rencana mereka sebenarnya saling menjodohkan anak mereka.


Tristan sendiri selalu menolak perjodohan yang diatur sang papa. Karena itu dia membangkang, jarang pulang dan lebih sering tidur di bengkel miliknya. Apalagi, di hatinya sudah terukir nama Cheryl.


“Hah?! Jadi, ngapain kalian susah-susah pake acara mau kawin kontrak segala. Hahaha!” ledek Cheryl tertawa terbahak-bahak.


“Aku nggak tahu, awalnya aku pikir mama mau jodohin sama papanya dia. Kan aku parno duluan,” tunjuk Gita pada Tristan sambil tersenyum kaku.

__ADS_1


Cheryl semakin terpingkal-pingkal. Kedua lengannya menekan perut sambil membungkuk, karena tak tahan dengan tawanya. Kemudian memukuli lengan Jourrel dengan gemas. Ia gemas sendiri mendengar kisah Tristan dan Gita.


“Ibaratnya nih ya, kalian lagi ke suatu tempat harus melalui banyak tikungan, tanjakan dan turunan dulu. Padahal di depan mata ada jalan lurus tanpa hambatan. Gitu nggak sih?” ucap Cheryl tertawa memeragakan dengan tangannya.


“Yaudah sih! Jangan diledekin mulu! Jadi karena udah sesuai keinginan orang tua kita, alhasil pernikahan dipercepat. Mereka heboh sendiri terutama mama mertua. Katanya lebih cepat lebih baik. Sampai-sampai kami sama sekali nggak nyebar undangan,” lanjut Tristan menyandarkan kepala di bahu Gita.


Hingga membuat gadis itu merasa risih. Tidak terbiasa dengan situasi seperti itu. Jika hanya berdua, pasti selalu ditepis, ditolak dengan berbagai alasan. Tidak untuk saat ini. Gita hanya tersenyum mengiyakan.


“Memang sebelumnya kalian belum pernah ketemu sama orang tua masing-masing?” cecar Cheryl yang lebih banyak bicara sedari tadi. Jourrel hanya menjadi pendengar saja.


“Belum pernah. Udah lama sih. Mungkin pas kami masih kecil. Nggak ingat!” jawab Tristan masih bersandar nyaman.


“Ooo! Yaudah selamat deh buat kalian. Mau kado apa nih?” tawar Cheryl.


“Nggak sekalian rumahnya?” canda gadis itu.


“Ah, nggak. Nanti ketagihan!” sahut Tristan yang juga tertawa.


Gita dan Jourrel menghela napas panjang. Tanpa mau menimpali percakapan seru mereka berdua. Meski sebenarnya ada perasaan dongkol di hati mereka.


“Emang nggak pengen ngadain resepsi gitu? Nanti Extraordinary Riders biar konvoy di jalan ngiring kalian berdua!” seru Cheryl antusias.

__ADS_1


“Mmm... belum kepikiran. Gita udah ambil banyak cuti. Nanti gampang lah. Kalian orang pertama yang kami repotin kalau memang pengen resepsi!” papar Tristan.


“Oke, siap!” sahut Cheryl dengan cepat.


 “Yaudah kalau gitu, kami balik dulu ya. Jangan lupa buatin desainnya, Cher!” ucap Tristan beranjak berdiri.


Cheryl mengangguk, “Siap, Boss!” ujarnya turut berdiri dan memeluk Gita. “Selamat ya, Dok. Kalau mau tanya-tanya boroknya Tristan, langsung chat saja. Nanti aku bongkar semua!” bisik Cheryl namun dengan suara keras.


“Heh! Awas aja, mobil lu gue tahan!” ancam Tristan menarik lengan Gita.


“Udah gue ambil, week!” balas Cheryl menjulurkan lidahnya.


“Dihh! Awas ya kalau bicara yang nggak-nggak!” ancam lelaki itu menunjuk wajah cantik Cheryl.


Cheryl abai, hanya melambaikan tangan pada Gita saja hingga mereka keluar dari rumah kecil Jourrel.


Sedangkan Jourrel bergeming, masih duduk di sofa dengan wajah yang cemberut dan nampak kesal. “Seru ya, ngobrolnya! Sampai lupa kiri kanannya," sindir Jourrel tanpa menatap Cheryl.


“Eh?”


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2