Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 96 : RENCANA BARU


__ADS_3

Bonar menghentikan langkahnya sebelum memasuki restoran tersebut. Ia juga mencekal lengan Dame agar segera berhenti. Matanya memicing dengan tajam melihat interaksi Cheryl dan Jourrel melalui kaca jendela transparan yang sangat luas. Bonar menarik putranya bersembunyi di balik dinding namun masih bisa mengintip keberadaan Cheryl dan Jourrel.


“Kurang ajar! Sudah kuduga, pasti ada rencana tersembunyi dibalik kerja sama ini!” geram Bonar dengan emosi yang mulai membuncah.


“Ada apa, Yah?” tanya Dame kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa sang ayah tiba-tiba menghentikannya. Padahal hari ini jadwal mereka sangat padat dan sibuk. Dame tidak ingin membuang-buang waktu.


“Lihatlah gadis yang kau puja-puja tadi pagi,” tunjuk Bonar dengan dagunya.


Dame meluruskan pandangan, mencari-cari maksud dari sang ayah. Hingga matanya menemukan Cheryl yang sedang bersenda gurau dengan seorang pria di hadapannya.


“Apa yang salah, Yah? Mungkin itu kekasihnya,” gumam Dame.


“Bodoh! Lihat baik-baik wajah pria itu!” umpat Bonar menepuk kepala putranya dengan berkas di tangannya.


Dame meringis sembari mengusap-usap kepalanya. Ia kembali menilik wajah Jourrel dengan lamat-lamat. Tak berapa lama lelaki itu mendelik dengan mulut menganga. “Ke—kenapa mirip sekali dengan ....”


“Hemmm ... sudah kuduga dari awal. Tidak mungkin gadis itu tiba-tiba melakukan kerja sama bahkan langsung tahu lingkup perusahaan kita. Padahal aku tidak pernah mendengar perempuan yang menjadi anggota mafia. Ternyata anak sialan itu masih hidup!” geram Bonar dengan tatapan tajam.


“Jadi, sekarang kita harus apa, Yah?” tanya Dame.


“Apalagi? Tentu saja kita ikuti permainannya, kita percepat transaksinya. Lalu kita hancurkan mereka berdua tanpa sisa!” timpal Bonar mengepalkan kedua tangannya. “Batalkan semua pertemuan selanjutnya. Kita susun rencana kilat di kantor!” sambungnya melenggang pergi yang segera diikuti oleh Dame.


\=\=\=\=000\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan, Klan Blackstone segera kembali setelah merapikan ruangan yang sempat diacak-acak dan mengancam para karyawan agar tidak mengadu apa pun pada bossnya.


“Saya sudah mengantongi semua identitas kalian! Jika sampai ada yang berani membocorkan masalah ini pada boss kalian, sama saja kalian menyerahkan nyawa!” ancam Bian mengedarkan pandangan sembari memeluk senjata laras panjangnya dan menodongkan ke atas layaknya prajurit.


“Apa kalian paham?!” teriak Bian menggelegar.


“Paham, Tuan!” sahut mereka serentak.


“Bagus! Kembali bekerja seperti biasa!” perintah Bian membubarkan massa.


Bian menekan alat komunikasinya, “Lapor, misi selesai!” ucapnya tegas sembari mengajak para bawahannya kembali. Mendengar itu, tak lama kemudian Leon dan tim pun segera menyalakan kembali jaringan telekomunikasi di perusahaan tersebut.


“Tolong antar ke hotel saja, Paman!” sahut Cheryl di seberang sana.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Kamar Cheryl kedap suara dan sangat aman. Cheryl, Jourrel, Rico, Bian dan dua pengacaranya sudah berkumpul di ruangan tertutup rapat itu. Di depan bahkan penjagaan begitu ketat.


Cheryl mulai membuka satu per satu dokumen yang mereka dapat dari Perusahaan Greenlight. Kemudian menyamakan dengan semua asset yang dimiliki Keluarga Alvaro melalui kuasa hukumnya.


Cukup lama mereka bergelut dengan pendataan yang rumit itu. Dan hasilnya, semua asset yang dimiliki Keluarga Alvaro, baik itu warisan maupun harta yang dirintis oleh ayah Jourrel sendiri sekarang beralih atas nama Baron semuanya.


“Bagaimana bisa!” seru Cheryl tidak terima mendengarnya.

__ADS_1


“Kemungkinan Ibu Dina diancam sehingga meninggalkan Kota Medan hingga tidak kembali lagi. Sehingga, semua harta yang seharusnya jatuh ke tangan ahli waris, yakni saudara Jourrel terpaksa diwakilkan oleh Tuan Bonar sampai berusia minimal 20 tahun. Akan tetapi, karena tidak ada kabar dari Ibu Dina dan saudara Jourrel hingga melebihi batas usia tersebut, semua asset tersebut jatuh di tangan Tuan Baron,” papar pengacara Jourrel.


Semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Sesak dan amarah Jourrel kembali memuncak. Terlihat jelas dari kepalan tangan Jourrel yang begitu kuat dan gerahamnya yang mengetat.


“Apakah kita bisa mengusut kasus perampokan di rumah saya waktu itu?” tanya Jourrel menahan gertakan giginya.


“Kasus tersebut sudah lama ditutup, Tuan. Sepertinya ini akan sedikit sulit. Karena selain waktu yang sudah cukup lama, dulu tidak ada bukti yang mengarah pada pembunuhan berencana,” balas pengacaranya.


Cheryl menoleh, memperhatikan raut Jourrel yang hampir kehilangan kendali. Tangannya terulur, mengusap paha Jourrel dengan perlahan. Berharap Jourrel mampu meredakan amarahnya, meski ia tahu ini pasti sulit. Karena sama saja membuka luka lamanya kembali.


“Sepertinya kamu harus bertemu empat mata dengannya, Jou. Tapi kamu harus berhasil memancingnya untuk kasus perampokan waktu itu,” anjur Cheryl menoleh pada Bian.


“Paman, bisa minta tolong kasih chips untuk merekam percakapan Jourrel nanti?” tanya Cheryl.


“Ada, Nona. Akan saya siapkan.” Bian menyahut dengan anggukan mantap.


“Oke, pertama kamu harus dapat bukti itu, Jou. Tapi kamu harus hati-hati dan tahan emosimu, okay? Jangan terpancing.” Cheryl menambah rencananya dengan cepat. Tidak ada waktu lagi, mereka memang harus bergerak serba cepat dan hati-hati.


“Jika berhasil mendapatkan bukti itu, semua asset akan kembali ke tangan Anda, Tuan!” tambah pengacaranya.


Jourrel memejamkan matanya. Keringat dingin mulai bermunculan menghiasi wajah tampannya, napasnya sesak tak beraturan. Teringat ayahnya yang meninggal dengan cara yang tragis. Dan terakhir, ibunya yang sakit-sakitan hingga berakhir meninggal dunia.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2