
Jourrel digiring dalam keadaan tangan diborgol. Masih banyak anggota SSG yang menodongkan senjata ke arahnya.
Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyadari, ada dua sosok manusia yang bersembunyi di bawah semak-semak. Sepasang suami istri yang baru saja menikah, bukannya honeymoon ke tempat yang indah namun justru harus dihadapkan dengan situasi menegangkan seperti itu.
“Ssttt! Jangan bersuara!” lirih Tristan membekap mulut istrinya. Gita hampir berteriak ketika melihat Jourrel digiring orang-orang berseragam SSG. Disertai dengan senjata yang mengarah pada Jourrel.
Tristan dan Gita, baru saja melalui hari yang begitu sibuk, melelahkan dan serba kilat. Sehingga mereka mengabaikan apa pun demi kelancaran tujuan mereka. Setelah selesai dengan acara sakral mereka, barulah Tristan berencana menghubungi Jourrel. Bukan melalui ponsel, namun ingin memberi kejutan secara langsung.
Akan tetapi sesampainya di gang kecil, Tristan mengernyit karena begitu banyak mobil mewah berjajar di tepi jalan. Ia pun menepikan mobilnya, lalu mengajak Gita turun dan berjalan dengan mengendap-endap. Dari kejauhan, Tristan dan Gita bisa melihat orang-orang bersenjata yang berbaris di depan rumah Jourrel.
Mereka pun bersembunyi di balik rumput liar yang sangat tinggi. Berjongkok saling bergenggaman tangan. Gita yang ketakutan mencengkeram erat tangan suaminya.
“Itu temanmu mau dibawa ke mana?” tanya Gita ketakutan, ketika rombongan mobil mewah itu menghilang dari pandangan.
Tristan beralih menatap Gita, tanpa berbicara apa pun, Tristan langsung beranjak dan bergegas masuk ke rumah. Tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya.
Gita pun sedikit kuwalahan menyamakan langkah kaki dengan sang suami. Walaupun tidak mengerti kenapa suaminya panik seperti itu.
“Ibu!” seru Tristan ketika langkahnya sampai di ruang tamu.
Pria itu mengedarkan pandangan, hingga terdengar seruan tangis dari sebuah kamar tak jauh darinya.
“Sepertinya dari kamar ini,” tunjuk Gita pada sebuah pintu.
__ADS_1
Tristan mengangguk, lalu membuka pintu kamar tersebut. Benar, Ibu Dina menangis meraung di atas ranjang. Kedua tangannya mencengkeram kuat seprei yang menjadi alas tidurnya.
Lelaki itu segera berjongkok, mendekatkan tubuhnya pada kepala Ibu Dina. “Ibu, ibu baik-baik saja ‘kan? Mereka tidak menyakiti ibu ‘kan?” tanya Tristan khawatir menelisik sekujur tubuh wanita tua itu.
“Tris ... di mana Jourrel? Ibu mendengar ada banyak orang yang mengancamnya, menekannya, dia baik-baik saja ‘kan? Panggilkan dia, Nak. Ibu mau melihatnya,” cecar Ibu Dina di sela tangisnya.
Tristan bingung menjawab apa, ia menoleh pada Gita yang kini membawakan segelas air putih di tangannya.
“Ibu, minum dulu ya,” ucap Gita menundukkan tubuhnya.
Tristan bermaksud membantunya duduk, tetapi satu lengan Ibu Dina menyangkal, “Ibu tidak bisa duduk, Nak. Ibu terkena struk ringan, sebagian tubuh ibu tidak bisa digerakkan,” ucap wanita itu.
“Ya Tuhan, Bu. Maafin Tristan!” Tristan memeluk wanita tua itu sembari menangis.
“Tidak apa-apa, Nak. Di mana Jourrel? Ibu mau minta maaf karena sudah mendiamkannya selama dua minggu ini. Ibu hanya kecewa, ibu tidak sama sekali tidak membencinya. Tolong panggilkan Jourrel,” pinta Ibu Dina memohon.
Tristan semakin menangis, bahunya bergetar hebat. Gita mengusap punggung pria itu dengan perlahan, menatapnya iba. Tristan teringat malam itu, malam di mana Jourrel berpesan untuk menyampaikan semua rahasia yang ia pendam selama ini. Ia yakin, selama ibu Dina mendiamkannya, Jourrel belum bercerita.
“Bu, ibu dengarkan aku baik-baik. Aku tahu ibu pasti kecewa dan marah. Tetapi, Jourrel melakukan semua itu demi ibu, demi merebut kembali apa yang menjadi miliknya!” terang Tristan.
“Apa maksudmu?” tanya Ibu Dina.
Tristan menghela napas panjang, ia menggenggam jemari Ibu Dina dan menatapnya lekat-lekat.
__ADS_1
Tristan menceritakan semua hal yang pernah Jourrel ungkapkan, mulai dari kenapa dia menjadi seorang pembunuh bayaran, saat mengincar Cheryl, hampir mencelakainya, namun juga menyelamatkan gadis itu, dan beralih melindunginya.
Hingga terakhir, Tristan menceritakan bagaimana orang-orang tadi membawa Jourrel, yang ia sendiri tidak tahu siapa mereka dan akan membawa ke mana.
Ibu Dina semakin menangis histeris. Mengingat Jourrel begitu tulus merawatnya dengan sangat baik, sekalipun ia mendiamkan anak lelakinya itu selama ini. “Jourrel!” pekik Ibu Dina meremas dadanya.
“Ibu, ibu tenang saja. Aku akan berusaha mencarinya. Tapi ibu harus janji, ibu harus berusaha sembuh ya! Kita akan menemukannya!” janji Tristan.
Akan tetapi Ibu Dina masih belum bisa tenang. Menumpahkan semua air matanya. Penyesalan yang begitu dalam begitu menyesakkan dadanya.
Selama ini Jourrel berusaha keras demi dirinya, demi keluarganya. Akan tetapi apa yang dia lakukan? “Jourrel! Maafin ibu!” seru Ibu Dina dalam deraian air mata.
Gita berjongkok agar sejajar dengan suaminya, “Aku telepon salah satu suster untuk merawat ibu saja ya. Kasihan beliau kalau ditinggal sendirian?” tanya Gita yang langsung diangguki Tristan.
Gita mengecek denyut nadi Ibu Dina yang begitu cepat. Sayangnya, tidak membawa alat apa pun. “Biarkan ibu meluapkan emosinya, siapa tahu nanti bisa membuatnya lebih tenang,” ujar Gita lalu keluar dan meminta salah satu suster untuk merawat Ibu Dina.
Sedangkan Tristan terduduk di lantai. Ia mengingat, Cheryl pernah berhasil melacak dan menyelamatkan Jourrel. Buru-buru dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi gadis cantik itu.
Bersambung~
Nanti bakal ada flashback kenapa om papa bisa tahu. Sama, gimana pernikahan Tristan dan Gita. Tapi... nanti ya.
__ADS_1
Ayang 🥺