Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 53 : KHAWATIR


__ADS_3

Tanpa Jourrel sadari, Cheryl menyalakan kamera di ponselnya dan merekam video beberapa detik, menyorot pada punggung Jourrel, mengatur zoom agar tampilannya lebih besar. Sehingga wajahnya terlihat jelas saat berbalik memasuki lift dan sebelum pintu benar-benar tertutup.


Cheryl memindai sekeliling dengan manik tajamnya, tidak ada hal yang mencurigakan. Namun ia tetap harus waspada. Gadis itu segera melenggang masuk ke ruang rawat Ibu Dina. Menguncinya, sesuai dengan perintah Jourrel.


Sembari berjalan mendekati ranjang, Cheryl langsung menghubungi sang assisten. Tanpa menunggu lama, mereka pun saling terhubung.


"Rain, kirim nomor pengawal yang kamu tugaskan ke sini!" titah Cheryl tanpa basa basi.


"Oke. Sudah. Bisa jelasin nggak, kamu di mana, dengan siapa dan sedang berbuat apa sekarang?" tanya Rainer penasaran.


"Nggak bisa jelasin sekarang. Intinya aku baik-baik aja. Sudah dulu, ini urgent!"


Cheryl langsung mematikan sambungan ponsel tanpa menunggu jawaban apapun dari Rainer. Sehingga membuat pria di seberang sana berdecak kesal.


Gadis itu fokus mengirim setiap gambar dan video wajah Jourrel pada pengawal yang bertugas. Tak berapa lama, ia melakukan panggilan.


Pria bersetelan jas rapi berwarna serba hitam sudah stanby sedari tadi di depan rumah sakit di dalam mobilnya. "Iya, Nona! Siap menerima perintah!" sahutnya tegas.


"Gambar sudah aku kirim. Dia sedang perjalanan keluar. Awasi saja dari kejauhan, laporkan setiap apa pun yang terjadi padanya. Jika terlihat dalam bahaya, segera turun tangan. Kalau perlu panggil bala bantuan," balas gadis itu dengan suara dingin dan tak kalah tegas.

__ADS_1


"Siap Nona!" balas pengawal tersebut.


Barulah Cheryl mengembuskan napas lega. Ia mendaratkan bokongnya pada kursi tunggu. Menatap wanita renta yang kini terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.


Matanya menatap nanar, senyum tipis terbit di bibir merahnya. Ia menggenggam tangan Ibu Dina, menggerakkan ibu jarinya dengan perlahan pada permukaan kulit Ibu Dina.


"Bu, bangunlah. Aku yakin, Jourrel punya alasan tersendiri melakukannya. Ibu harus mendengar alasannya sebelum menghakiminya. Karena aku bisa melihat, Jourrel kehilangan pijakannya ketika ibu seperti ini. Jourrel sangat menyayangi ibu, dia sangat takut kehilangan ibu. Jourrel anak yang baik dan bertanggung jawab, Bu."


Gadis itu menyeka air matanya yang tiba-tiba terjatuh tanpa ia sadari. Ia sendiri masih belum mendapat jawaban, kenapa pria itu bisa mengambil pekerjaan yang sangat beresiko itu. Bahkan sewaktu-waktu bisa saja dia yang terbunuh.


Tangan Cheryl lainnya masih menggenggam erat ponsel. Tidak ingin ketinggalan informasi sedikit pun mengenai Jourrel. Pikiran dan hatinya carut marut, khawatir tengah menyergapnya sedari tadi.


Sementara itu, Jourrel berlari dari lift menuju loby sembari menghubungi Tristan sedari tadi. Namun tak ada jawaban sama sekali. Jourrel berhenti, ia berdecak kesal lalu mengirimkan sebuah pesan pada sahabatnya itu.


"Tan, kamu di mana?! Ini penting, menyangkut keselamatan Cheryl!"


Jourrel yakin, Tristan akan menanggapinya jika itu bersangkutan dengan Cheryl. Dan benar saja, tak berapa lama, Tristan menelepon balik.


"Di mana?" tanya Jourrel tanpa basa basi.

__ADS_1


"Cafetaria rooftop Rumah Sakit."


"Tunggu di sana!" seru Jourrel berlari masuk lagi ke dalam lift menuju cafetaria yang ada di rooftop.


Sesampainya di sana, Jourrel mengedarkan pandangannya. Napasnya masih menderu kasar. Bulir keringat mengalir deras di wajah tampannya. Namun ia tak peduli.


Setelah berberapa saat, Jourrel berhasil menemukan Tristan yang duduk di tepi pembatas gedung. Cafe terbuka yang memang dikhususkan untuk pengunjung. Dari sana bisa melihat padatnya lalu lintas dari ketinggian, juga melihat gedung-gedung pencakar langit yang ada di sekeliling rumah sakit.


Jourrel mempercepat langkahnya hingga berdiri tepat di sebelah Tristan yang tengah membelakanginya. Karena pria itu tampak menikmati pemandangan di seberang sana.


"Tan!" panggil Jourrel pelan.


Tristan berbalik, ia melemparkan tatapan tajam bak ujung mata pisau pada Jourrel. Lalu beranjak dari duduknya dengan kasar, bahkan kursinya sampai terjatuh. Kemarahan tampak berpendar dari wajahnya.


"BUGH!" Sebuah bogem mentah ia layangkan pada pipi Jourrel.


Jourrel hampir terjatuh jika saja ia tidak berpegangan pada meja. Wajahnya sempat tertoleh mengikuti pukulan Tristan, namun ia sama sekali tidak berniat untuk membalas.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2