Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 41 : PEMUTUSAN KERJA SAMA


__ADS_3

"Enggak kok. Dia cuma memperkenalkan diri. Oh ya, aku ke sini mau nganterin obat kamu. Kemarin kelupaan," ucap Jourrel menyerahkannya pada Cheryl.


"Oh, makasih. Silakan duduk dulu," balas Cheryl meraihnya kemudian duduk berhadapan dengan Jourrel.


Pria itu pun kembali mendaratkan bokongnya di sana. "Kalian, tinggal berdua saja?" tanyanya.


"Enggak, mama sama papa kebetulan lagi ada pekerjaan di Palembang. Jadi ya di rumah sama para pekerja aja," ujar Cheryl.


Jourrel mengangguk-angguk. 'Sepertinya kalau di rumah, dia aman. Banyak penjaga, dan sepertinya bukan penjaga biasa,' batin Jourrel mengira-ngira.


"Ayo diminum dulu!" Cheryl mulai mencairkan kecanggungan di antara mereka.


Tidak tahu saja, sebenarnya ia tengah menahan gejolak dalam dadanya. Penampilan Jourrel pagi ini memang berbeda. Lebih berantakan, namun justru semakin terlihat menarik di mata Cheryl. Ah, sepertinya sesuatu terjadi dengan hatinya.


Jourrel mengangguk, "Minum ya," ucapnya mengangkat gelas berisi minuman dingin itu lalu meneguknya.


"Oh ya, besok sudah ditentukan tempatnya?" tanya Jourrel setelah meletakkan gelasnya kembali.


"Belum, besok langsung aku kabari. Oh ya, para penjaga 'kan udah pada tahu kamu, nanti langsung masuk aja ya," ucap Cheryl.


"Iya," sahut Jourrel tersenyum.


Bingung mau membahas apa lagi, Jourrel pun memilih berpamitan. Ia sendiri merasa seperti tengah diawasi sejak masuk tadi. Entah hanya perasaannya atau memang benar begitu.


"Kalau begitu aku permisi. Jangan lupa diminum obatnya. Lekas sembuh ya," ucap Jourrel.


"Iya, terima kasih," balas Cheryl tersenyum. Ia mengantar kepulangan Jourrel hingga depan pintu. "Hati-hati," tuturnya.

__ADS_1


Jourrel mengangguk, mengenakan helm dan mulai melajukan motornya. Ia menyalakan klakson sebagai tanda pamitan.


Akhirnya Cheryl bisa bernapas lega. Sedari tadi dadanya seperti genderang mau perang. Ia tersenyum sendiri memasuki rumah, berjalan pelan ke kamar. "Ah kenapa aku ini?!" gumamnya bertanya-tanya.


Cheryl segera mengecek kinerja Rain esok hari. Melakukan panggilan pada sang asisten ketika merasa ada yang kurang. Mereka pun berdiskusi secara serius selama kurang lebih 3 jam lamanya. Rain juga ditugaskan untuk menemui pengacaranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, tepat pukul sepuluh pagi, Rain sudah menunggu di sebuah cafe. Tempat ia melakukan janji temu dengan CEO Perusahaan Agra. Sudah satu cangkir kopi diteguk sampai habis, namun perwakilan dari perusahaan tersebut belum juga nampak.


"Ck! Tidak tepat waktu!" gumamnya berdecak malas.


Tetap berada dalam kesabaran, Rain menunggu. Hingga tak lama kemudian, Gevano beserta sekretarisnya akhirnya hadir juga. Rain yang duduk tak jauh dari pintu kaca, langsung mengetahui kedatangan mereka. Ia segera mengirim pesan pada Cheryl bahwa mangsa sudah masuk perangkap.


"Selamat siang, Tuan Rainer. Mohon maaf atas keterlambatan kami. Karena ada sedikit kendala ketika kami dalam perjalanan ke sini," sapa sekretaris Gevano.


"Oh, tidak perlu, Tuan. Terima kasih tawarannya. Mari kita mulai kesepakatannya. Apakah ada perubahan dalam kerja sama kita?" tolak Gevano langsung to the point.


"Pertanyaan bagus!" Rain menyodorkan sebuah berkas lengkap dengan tanda tangan dari para petinggi Perusahaan Sebastian beserta kuasa hukum.


"Berikut adalah surat pemutusan kontrak kerja sama kita. Dan di sana juga tertera bahwa Perusahaan Sebastian akan menarik semua saham yang ada di Perusahaan Agra," jelas Rain dengan tenang.


Sontak, Gevano dan sekretarisnya saling melempar pandang. Keduanya terkejut luar biasa. "Tunggu! Saya tidak mengerti. Mungkin ada kesalahan teknis dari kami atau bagaimana? Bisa dijelaskan dulu, Tuan. Kami akan segera memperbaikinya," tutur Gevano mencondongkan tubuhnya yang mulai menegang.


Bagaimana tidak? Perusahaan Sebastian merupakan penanam saham terbesar di perusahaannya. Jika sampai itu terjadi, perusahaan nya terancam gulung tikar.


"Saya sudah mengirimkan pemberitahuan melalui surel Anda sebelumnya, apakah belum diterima? Jika belum, silakan bisa dibaca di sini," tunjuk Rain pada berkas yang disodorkan pada pria itu.

__ADS_1


Dengan cepat, Gevano meraih berkas tersebut membacanya dengan cepat. Gerahamnya sudah mengetat, cengkeraman pada berkas tersebut begitu kuat.


Sang sekretaris yang berdiri di belakang Gevano melebarkan matanya ketika turut membaca surat tersebut.


"Apa-apaan ini?" teriak Gevano menghempaskan berkas tersebut di meja.


Tubuhnya sudah dikuasai amarah, matanya menatap nyalang. Sekretaris nya sampai terlonjak kaget karena teriakan sang boss. Rainer hanya tersenyum misterius, menatap malas pada pria angkuh di hadapannya.


"Semua poin sudah menjelaskan alasannya, keputusan diambil dengan berbagai pertimbangan, Tuan Gevano. Dan surat itu sah di mata hukum. Mulai detik ini, Perusahaan Sebastian resmi memutuskan kerja sama dengan perusahaan anda. Silakan untuk mengembalikan saham kami dalam jangka waktu yang ditentukan. Jika tidak, kami akan mebawanya ke meja hijau," papar Rainer dengan nada santai.


Berbanding terbalik dengan Gevano yang emosinya sudah membuncah hingga ke ubun-ubun. Ia menggertakkan gigi-giginya hingga terdengar bergemeletuk.


"Apa ini bisa disebut pencemaran nama baik?" geram Gevano dengan tatapan nyalang.


"Bagaimana bisa disebut pencemaran nama baik, kalau yang Anda lakukan adalah sebuah kenyataan? Jelas-jelas Anda sudah sering kali bersikap tidak baik pada CEO Perusahaan Sebastian. Bahkan pernah melecehkannya. Kami, tidak bisa bekerja sama dengan orang yang memiliki attitude buruk," terang Rain menegakkan punggungnya.


"Jaga bicaramu? Saya tidak pernah melakukan tindakan apapun terhadap Anda!" pekik Gevano dengan seluruh ototnya yang menegang menunjuk wajah pria muda di hadapannya.


Rain tersenyum, ia menunjuk sebuah tanda tangan dengan inisial nama C.A.S sebagai jabatan tertinggi yang berkuasa di perusahaan. "Anda perhatikan baik-baik. Di sini tertera inisial CEO Perusahaan Sebastian."


Rain melirik kedatangan Cheryl yang mulai mendekat. Keduanya tampak saling melempar senyum miring. Gadis cantik dengan balutan jas rapi dan celana panjang itu hadir tepat waktu.


"Cheryl Anastasia! Perkenalkan, saya CEO dari Perusahaan Sebastian," serobot Cheryl yang baru datang sembari menyodorkan tangannya ke hadapan Gevano. Pria itu menoleh.


"DEG!"


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2