Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 67 : PANTAS DIPERJUANGKAN


__ADS_3

“Bilang yang jelas apa maksud ucapan lo!” geram Tristan sudah mengepalkan kedua tangannya begitu kuat, sampai urat-uratnya menonjol.


Jourrel tidak mengerti, dia hanya bergeming dengan kerutan di keningnya yang semakin dalam.


Kemarahan Tristan justru membuncah. Ia menepuk kedua bahu Jourrel, mencengkeramnya sangat kuat. Giginya bergemeletuk dengan mata melotot tajam.


Jourrel sampai mendesis kesakitan. Ia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


“Bodoh!” teriak Tristan tertahan, mengingat masih berada di dalam ruangan Ibu Dina. “Kalau saja lo nggak sedang terluka, gue banting tubuh lo!” sambungnya membuang napas kasar diiringi lengannya yang tertahan, agar tidak menyakiti Jourrel.


Tristan membuang mukanya, mengatur deru napas yang berembus tak beraturan. Ia melepas lengannya dari bahu Jourrel, mengusap keningnya yang basah karena keringat.


Ruangan mendadak sunyi selama beberapa saat. wajah Tristan masih memerah karena menahan amarah. Sedangkan Jourrel sendiri hanya diam menunduk, menatap wajah pucat sang ibu tanpa berkedip.


“Lo lihat sepatu di belakang pintu itu?” tunjuk tristan setelah dia bisa menguasai amarahnya.


Jourrel menengok, ia langsung tahu jika sepasang high heels itu adalah milik Cheryl. Dia beralih menatap Tristan meminta penjelasan.


“Dia bahkan khawatir setengah mati mendengar lo dalam bahaya. Cheryl mengerahkan semua bawahannya untuk nolongin lo. Dia berteriak histeris ketika mendengar lo terluka. Air matanya bahkan mengalir deras di pipinya. Dia kesulitan berlari saat kamu sampai di roof top dengan helikopter miliknya. Sampai harus melepasnya dan berlari tanpa alas kaki!” cerita Tristan panjang lebar.

__ADS_1


“DEG!”


Dada Jourrel seperti tersambar petir mendengarnya. Tanpa sadar, air matanya pun mulai menggenang di kedua netranya.


“Kenapa lo bodoh banget sih, Bray? Nggak bisa ngerasain ketulusan Cheryl. Lo nggak bisa lihat cinta di matanya buat lo, hah? Sumpah lo bodoh banget jadi laki! Liat gue!” umpat Tristan menaikkan dagunya, dengan mata memicing tajam pada Jourrel.


Perlahan Jourrel mengangkat kepalanya. Pandangan mereka saling melekat kuat. Tristan seolah menerobos isi hati Jourrel dari sorot mata terluka pria itu.


“Lo suka nggak sama Cheryl? Lo ada perasaan nggak sama dia? Jawab jujur dari hati lo. Jangan pikirkan yang lainnya. Fokus sama jawaban hati lo!” tandas Tristan mengintimidasi.


Jourrel menelan ludahnya, matanya berkedip cepat dan langsung memalingkan muka dari Tristan, “Enggak!” jawabnya singkat dengan bibir bergetar. Bola matanya bergerak ke mana-mana.


“Gue tanya sekali lagi. Pikirkan baik-baik, jangan hanya karena kasihan sama gue. Karena lebih kasihan kalau cinta gue bertepuk sebelah tangan.” Tristan sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Jourrel yang masih membisu. “Lo suka nggak sama Cheryl, Jou?” desak Tistan lagi. Namun lagi-lagi tak ada jawaban apa pun dari Jourrel.


Tristan menghela napas berat. Ia kembali menegakkan punggungnya, “Oke, kalau memang nggak. Gue bakal sampein ke Cheryl. Biar dia nggak terlalu berharap sama lo! Karena gue tahu rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Gila aja, lo nyia-nyiain wanita hebat seperti dia! Gue nggak rela dia menangis hanya karena lo! Karena selama ini, gue belum pernah liat dia menangis. Apalagi gara-gara cowok!” ancam Tristan memutar tubuhnya dan melangkah dengan sangat pelan keluar ruangan.


Dalam hatinya sedang berhitung, ‘Ayolah, Bro. Gue hapal banget muka lo!’ Tristan gemas sendiri karena Jourrel tak mengakuinya. Ia sampai melambatkan langkahnya mencapai pintu.


“Sepuluh,” gumam Tristan meraih handel pintu dan hendak menariknya.

__ADS_1


“Ya! Aku suka sama Cheryl, sayang sama dia. Tetapi aku juga nggak mau nyakitin perasaan kamu. Dan lagi, status sosial kami yang seolah terpisah jurang yang begitu luas dan dalam. Tidak memungkinkan untuk bersatu. Dia akan lebih bahagia jika bersamamu!” aku Jourrel sedikit berteriak sebelum Tristan melangkah keluar.


Bibir Tristan menyeringai tipis. Persis seperti dugaannya. Pria itu kembali lagi mendekati Jourrel yang memainkan tangannya pada ranjang ibunya. Kepalanya tertunduk dalam.


“Perlu lo catet di kepala lo yang bocor ini, kebahagiaan itu tercipta di dalem sini!” Tristan menunjuk dada Jourrel, membuat Jourrel menatapnya.


“Dan cinta berlabuh sesuai dengan keinginan hati. Nggak bisa dipaksa. Karena justru akan menyakiti keduanya. Gue kenal banget sama Cheryl, Bro. Dia sama sekali nggak pernah mandang harta. Semua orang dia rangkul dan tetap berlaku baik selama orang itu juga baik.”


Tristan tersenyum lebih lebar, “Kalau Cheryl nggak cinta sama lo, sudah pasti dia akan menembak kepala lo setelah tahu lo pernah hampir bunuh dia! Tapi lihatlah, apa yang dia lakukan?” ucapnya menaikkan kedua alisnya.


“Dia bahkan mati-matian menyelamatkan lo melalui tangan-tangan bawahannya. Dia histeris ketika lo terluka. Lo butuh apa lagi biar yakin?”


Kedua tangan Jourrel menyiku di atas ranjang. Meremas rambut pendeknya, menyesali ucapan dan tindakannya tadi.


“Cheryl sangat pantas diperjuangkan!” ucap Tristan menepuk-nepuk bahu Jourrel.


Wajah Jourrel nampak gusar, ia panik dan ketakutan mulai merajai hatinya. “Tolong hubungi Cheryl. Aku nggak tahu ponselku di mana! Dia pasti sakit hati gara-gara aku!” pintanya memohon. Tidak menyangka jika Tristan begitu luas hatinya. Tidak tahu lagi sebutan apa yang pantas untuk sahabatnya itu.


Tristan mengeluarkan ponselnya, segera melakukan panggilan pada gadis cantik itu. Namun sayangnya, sudah berulang kali sama sekali tidak ada jawaban.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2