Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 22 : EMPATI


__ADS_3

"Terserah. Yang penting, siap-siap aja! Setinggi apapun jabatanmu, sebesar apapun perusahaanmu, kalau tidak ber-atittude, nilainya nol besar, Tuan!" jawab Cheryl mengurai senyum lebar, meninggalkan lelaki itu.


Kemudian ia meminta sopir untuk membawakan belanjaan Dina dan memasukkannya ke mobil.


Cheryl menggerakkan kepala untuk dua pengawal bayangannya agar pergi dan tidak meladeni lelaki itu lagi. Pelajaran untuknya dirasa cukup. Walaupun masih terlihat raut tak percaya dari Gevano.


"Ciih! Ancaman macam apa itu. Sok sok'an tahu mengenai Sebastian Group!" gerutu lelaki itu segera berbalik menuju mobilnya, lalu melesat dengan sangat cepat. Buru-buru ingin membersihkan mobilnya.


"Mari, Bu. Saya antar pulang." Cheryl menggamit lengan Dina dan mengajaknya masuk ke mobil.


Sebenarnya Dina merasa sungkan, akan tetapi tubuhnya gemetar sedari tadi. Keringat dingin membasahi wajahnya. Cheryl merasa ada yang tidak beres dengan wanita di sebelahnya.


"Bu, apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Cheryl sopan.


"Ah, tidak, Nak. Ibu hanya lupa meminum obat saja tadi pagi. Padahal harusnya rutin. Jadi beginilah," tolak Dina, suaranya melemah.


Cheryl mengangguk, "Ibu sebutin alamatnya ya. Kami akan mengantar ibu sekarang."

__ADS_1


"Aduh, ibu jadi merepotkan kamu, Nak," ucapnya tidak enak.


"Sama sekali tidak, Bu. Sejak kecil mama selalu bilang agar terus membantu orang yang membutuhkan, membela yang benar dan melawan jika kita ditindas," tukas Cheryl mengulas senyum manis.


Dina menatap haru, "Mamamu pasti bangga memiliki anak gadis yang cantik sepertimu. Bukan hanya cantik parasnya, tetapi hatinya jauh lebih cantik. Alamat ibu ada di Kampung Hijau, sudut kota ini. Cukup jauh dari sini, Nak. Terima kasih banyak ya sebelumnya," ucap Dina, napasnya mulai tersengal.


Mengerti dengan kondisi wanita itu, Cheryl mengangguk. Tidak mengajaknya berbicara lagi agar bisa beristirahat. Ia segera meminta sopir untuk mengantarkannya ke alamat yang dituju.


Hampir satu jam perjalanan mereka tempuh. Dina memejamkan matanya, karena rasa pusing dan lemas yang mendera. Sedangkan Cheryl sibuk dengan ponselnya untuk memberi kabar mengenai keterlambatannya datang ke tempat Tristan.


"Nona, kita sudah berada di ujung gang," ucap sopir tersebut ketika melihat jalan buntu.


"Eh, maaf, ibu malah ketiduran." Dina terbangun melihat sekeliling. "Iya, benar, Nak. Rumah ibu masuk gang sempit itu. Jalan setapak, dan tidak bisa dilalui mobil," tunjuk Dina pada sebuah gang kecil.


"Oh yasudah. Paman, tolong bantu Ibu membawa barang-barangnya ya," pinta Cheryl.


"Eh, tidak usah, Nak. Sampai sini saja," elak Dina merasa tidak enak.

__ADS_1


"Bu, nanggung udah sampai sini. Udah yuk, biar dibantu sama Paman Coy. Tolong ya, Paman," ucapnya turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Dina.


"Baik, Nona!" tanggap sang sopir.


Setelah berjalan selama lima belas menit, mereka sampai di sebuah rumah sederhana. Cheryl mengedarkan pandangannya, memang bersih, rapi, walaupun sederhana. Akan tetapi dia heran, kenapa memilih tinggal jauh dari pemukiman penduduk, jugal jauh dari kota?


Di teras yang tidak terlalu luas Cheryl melihat sebuah motor sport berwarna hijau dengan stiker api pada badan motor.


"Ini motor siapa, Bu?" tanya gadis itu.


"Oh, ini motor anak ibu. Mungkin dia baru pulang kerja. Dia pulangnya nggak menentu. Mari masuk, Nak."


Baru mengeluarkan kunci rumah, Dina tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri. "Eh! Bu! Ibu bangun!" teriak Cheryl panik.


Bersambung~


Guyss.... kisah Bang Bara ada di Fi**o ya.. awal bab sedikit flash back waktu pesta. Tapi hanya fokus pada Bara dan Jeje. 😁 mampir yuk.. gratis kok...

__ADS_1



__ADS_2