Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 48 : SULIT PERCAYA


__ADS_3

Seakan ada sesuatu yang melesat dan menusuk jantungnya. Tubuh Cheryl menegang, napasnya menderu dengan kasar. Ia beranjak dan menoleh pada Jourrel, melayangkan tatapan penuh kobaran api yang menyala.


"Jadi kamu adalah Jourrel Alvalo? Pria yang malam itu hampir mencelakaiku? Pria yang berniat untuk membunuhku?" tutur Cheryl penuh penekanan.


Jourrel menelan salivanya dengan berat, bibirnya terbuka namun kesusahan untuk mengeluarkan kata-kata. Sepasang netra Cheryl memerah, antara terkejut, marah dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.


"Jawab!" teriak Cheryl mendorong dada Jourrel sangat keras.


Tubuh pria itu terhuyung ke belakang, kepalanya menunduk. Hatinya semakin membenarkan bahwa Cheryl bukan gadis biasa. Ia bahkan berhasil menelusuri identitasnya dengan mudah.


"Tidak menjawab artinya, benar. Kalau kamu ingin melenyapkanku, kenapa sekarang pura-pura melindungiku? Pura-pura baik padaku?" Cheryl mengikis jarak di antara mereka. "Oh, jangan-jangan kamu menggunakan trik mendekatiku terlebih dahulu, agar tidak ada yang mencurigaimu. Lalu kamu membunuhku dengan perlahan?! Begitu 'kan?" bentak Cheryl sedikit mendongak, manik birunya melotot dengan tajam.


Jourrel memejamkan mata sejenak, kemudian saat netranya kembali terbuka, langsung bertumbukan dengan raut kemarahan gadis itu. Jourrel memberanikan diri menyentuh kedua bahu Cheryl, "Dengarkan aku," gumamnya dengan suara pelan.


Seperti maling yang kepergok, Jourrel pun menjadi panik. Tubuhnya gemetar, hingga kesulitan untuk merangkai kalimat.


Cheryl menghempaskan lengan Jourrel dengan kuat. Wajah cantiknya memerah menahan emosi yang membuncah. "Aku cuma butuh jawaban, iya atau tidak!" pekik Cheryl dengan suara yang tegas dan tidak terbantahkan.

__ADS_1


"Awalnya ...." Ucapannya terpotong oleh suara Cheryl.


"Iya atau tidak! Pertanyaanku cuma dua, Jourrel!" berang gadis cantik itu tidak dapat membendung rasa kecewanya.


Jourrel mengangguk pasrah, "Iya, tapi apa yang kamu tuduhkan tidak benar. Aku bisa menjelaskannya. Ikutlah sebentar," gumam Jourrel menyentuh lengan Cheryl.


Pandangan gadis itu beralih pada lengannya, sebenarnya masih ada sisa rasa sakit akibat serangan dari para musuhnya tadi. Tetapi dengan cepat Cheryl menghempaskan tangan Jourrel. "Jangan pernah berani menyentuhku! Atau aku patahkan lenganmu!" desis Cheryl dengan suara yang membuat Jourrel bergidik.


Mereka tidak sadar, bahwa saat ini ada wanita tua yang begitu syok mendengar percakapan mereka. Teriakan-teriakan Cheryl seolah terus terngiang di telinganya. Berputar-putar di kepalanya.


Tubuh wanita itu melemas, ia bersandar pada sandaran sofa sembari menekan dadanya kuat-kuat. Debaran jantung yang meningkat membuat Dina merasakan nyeri yang luar biasa.


"Ya! Terus bersamamu aku justru semakin berada dalam bahaya. Bagaimana bisa aku percaya dengan orang yang hampir membunuhku? Aku bukan perempuan bodoh, Tuan!" ketus Cheryl.


Jourrel bingung menjelaskan dari mana. Ia mengusak rambutnya dengan kasar. Hendak bersuara lagi, pandangannya menemukan tubuh ibunya yang ambruk dan tak sadarkan diri.


"Ibu!" teriak Jourrel melenggang menghampiri sang ibu.

__ADS_1


Ia menopang leher ibunya, mencoba menyadarkan wanita tua itu. Tangannya menepuk-nepuk pipi Dina dengan gemetar. "Ibu, ibu, bangun, Bu," panggil Jourrel ketakutan.


Cheryl menutup mulutnya yang menganga. Ia sendiri terkejut dengan kondisi Dina. Tubuhnya terpaku, amarah yang sedari tadi meledak-ledak kini perlahan meluruh.


Jourrel sedikit berdiri untuk mengambil ponselnya. Mengoperasikan dengan tangan gemetaran, mencari kontak sahabatnya, lalu menekan panggilan.


Tak berapa lama, panggilan pun tersambung. "Tan, tolong. Ibu pingsan. Bantu aku bawa ibu ke rumah sakit. Buruan, Tan!" ucap Jourrel setelah terdengar teleponnya tersambung.


"Apa? Oke, aku segera ke sana!" sahut Tristan di ujung telepon.


"Thanks, hati-hati," pesan Jourrel mematikan ponsel.


Jourrel merebahkan Dina di sofa, menyamankan posisinya. Kemudian, ia sendiri berlari ke kamar untuk menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa.


"Ibu," gumam Cheryl bersuara lirih. Sulit sekali percaya, bahwa Jourrel adalah pria yang ia cari-cari karena hampir membunuhnya.


Bagaimana tidak? Wajah pria itu yang begitu lembut dan tampan, sama sekali tidak menyangka akan berlaku sekejam itu. Ditambah, kondisi sang ibu. Semua benar-benar di luar dugaan.

__ADS_1


Cheryl terduduk lemas di kursi, menatap nanar wanita yang kini terbaring lemah di sana. Lalu beralih pada Jourrel yang mondar mandir ketakutan.


Bersambung~


__ADS_2