Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 103 : THE WEDDING


__ADS_3

Satu bulan kemudian ....


Sebuah gedung yang luas dan begitu megah kini telah dipenuhi dekorasi dan rangkaian bunga yang memukau, sebagai saksi janji suci sehidup semati dua insan yang saling mencintai.


Jourrel sudah berdiri gagah dengan jas serba putih yang senada dengan gaun pengantin wanita, di hadapan pendeta yang akan menikahkannya secara agama. Secara negara, Jourrel dan Cheryl sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mengingat, nama mereka telah tercatat di kantor pencatatan sipil.



Pernikahan mereka diadakan di Palembang. Hanya orang-orang spesial yang menghadiri pernikahannya. Tidak ada ada siaran televisi, tidak ada liputan dan semacamnya. Cheryl ingin pernikahannya sakral dan tidak terlalu ramai. Mengingat, gadis itu tidak pernah suka mengumbar privasinya.


Beberapa petinggi perusahaan Sebastian Group, baik di Jakarta maupun Palembang, tak ketinggalan para anggota club extraordinary riders yang begitu terkejut sekaligus menjadi hari patah hati nasional bagi mereka, ketika menerima undangan pernikahan itu. Semua akomodasi dan penginapan sudah disediakan oleh Tiger dan Leon.


Pengantin yang masih terhitung baru pun juga tidak ketinggalan. Siapa lagi kalau bukan Tristan dan Gita juga turut menjadi saksi Jourrel dan Cheryl memasuki kehidupan baru.


Denting musik mulai menggema sebagai pertanda hadirnya mempelai wanita. Cheryl mencengkeram kuat lengan ayahnya ketika berjalan dengan perlahan di atas karpet merah yang membentang. Riasan MUA ternama, ditambah gaun putih yang indah nan mewah hasil karya sang mama, menyempurnakan penampilan Cheryl hari ini.


Jauh-jauh hari, Jihan memang sudah merancang gaun pengantin untuk putri kesayangannya. Tinggal menyempurnakan ukuran ketika menjelang hari-H.


Jourrel berbalik ketika sang MC telah memberi isyarat bahwa mempelai wanita telah berdiri di tepat di belakangnya bersama pria paruh baya yang masih gagah dan berwibawa. Dua pria itu saling menatap kuat. Gugup, gemetar dan jantung yang berdegup hebat kini dirasakan Jourrel.


“Aku lepaskan putriku yang sudah kujaga selama 25 tahun. Jika kamu berani menyakitinya, walau seujung rambut, aku ledakkan kepalamu saat itu juga!” tegas Tiger tanpa basa basi. Banyak yang ingin dia ucapkan akan tetapi tenggorokannya tercekat. Matanya sudah berkaca-kaca.


“Baik, Papa mertua,” sahut Jourrel dengan mantap, menerima uluran tangan Tiger dan menyatu dengan jari jemari lentik Cheryl.


Tiger tidak kuat lagi, ia segera berbalik dengan cepat dan duduk di tempatnya. Tiger menangis sejadi-jadinya. Jihan menyodorkan tissu pada pria itu sembari mengusap bahu kokoh Tiger yang bergetar hebat.


“Hei, ketua mafia menangis sesenggukan? Sungguh memalukan!” cibir Leon bersedekap yang duduk tepat di sebelah Tiger. Khansa mencubit pinggang suaminya, memelototi agar diam. Leon memamerkan deretan gigi putihnya.


“Patah hati seorang ayah, adalah melepas putrinya saat menikah. Kau akan merasakannya kelak. Awas saja kalau menangis, aku rekam dan sebarkan di seluruh penjuru dunia!” ancam Tiger menyeka kedua matanya yang tidak bisa berhenti mengeluarkan air mata.


Jihan sendiri bingung, bagaimana menenangkan suaminya itu. Padahal, dia yang sedari awal paling ngotot ingin Cheryl menikah.

__ADS_1


“Hari ini, tepat usianya 25 tahun. Hari yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup. Terutama Cheryl. Tepat di hari lahirnya, Cheryl memulai kehidupan barunya. Semoga selalu bahagia, putriku,” ucap Jihan yang bibirnya bergetar menyaksikan prosesi pernikahan putrinya.


Rico, pengawal setia yang puluhan tahun mengabdikan diri pada keluarga itu juga turut berkaca-kaca. Tersenyum meski dalam dadanya sesak menahan tangis, namun malu untuk dikeluarkan. “Selamat nona kecilku, selamat ulang tahun dan selamat menempuh hidup baru,” gumam Rico dengan tubuh bergetar walau berdiri dengan   tegap.


Khansa memeluk lengan Leon, menyandarkan kepala di bahu sang suami. Tersenyum bahagia melihat keponakan kesayangannya telah meraih kebahagiaannya.


Janji suci telah terucap, penyematan cincin kedua mempelai pun telah usai. Semua rangkaian upacara pernikahan berjalan dengan lancar. Jourrel dan Cheryl telah resmi menjadi sepasang suami istri. Keduanya saling bertatapan penuh cinta. Cheryl sedikit mendongak, sedangkan Jourrel menunduk merengkuh pinggang ramping Cheryl. Tangan lainnya meraih tengkuk pengantinnya itu.


“Aku tidak menyangka, targetku adalah jodohku,” ucap Jourrel menempelkan hidung mereka. “I love you, istriku. Selamat ulang tahun,” sambungnya merapatkan tubuh Cheryl.


“Jodoh itu rahasia Tuhan. Siapa yang menyangka, orang yang pernah mengincar nyawaku adalah jodohku! I love you too, suamiku,” sahut Cheryl tersenyum lebar. Dan tak lama kemudian, Jourrel mencium bibir wanitanya di hadapan semua orang, tanpa harus ada yang ia takutkan lagi.


Tepuk tangan menggelegar di gedung pernikahan yang begitu megah itu. Dengan kue pengantin 5 tingkat, berbagai hidangan nusantara maupun makanan mewah terhidang di sepanjang meja tamu. Minuman warna warni turut memenuhi meja.


Acara disambung dengan resepsi setelah selesai sesi dokumentasi dengan keluarga dan teman-teman Cheryl. Dia ingin segalanya cepat selesai tanpa jeda waktu.


Ucapan selamat bergulir satu per satu menjabat pasangan pengantin. Sebagian rekan-rekan Cheryl masih berat merelakannya harus bersanding dengan lelaki lain.


“Sialan! Nggak perlu diajarin!” balas Jourrel menepuk lengan Tristan.


Gita mencium kedua pipi Cheryl sembari mengucapkan selamat. Walaupun masih ada sedikit rasa sungkan dan cemburu, karena tahu pengantin itu adalah perempuan yang digilai suaminya. “Selamat ya, Nona Cheryl,” ucapnya.


“Terima kasih, Dokter Gita. Gimana, Tristan nggak macem-macem ‘kan? Bilang aja biar aku habisin nanti,” canda Cheryl.


“Ya jangan dong. Aku nggak mau jadi janda kembang,” celetuk Gita tertawa yang juga memecah tawa pasangan mereka.


Axel naik ke panggung setelah suasana agak sepi. Ia melangkah gontai sendirian, berdiri di hadapan sang kakak dan mematung selama beberapa saat.


Dua kakak beradik itu, saling menatap lekat. Hanya sorot mata mereka yang saling berbicara. Jourrel hanya diam saja memandangi mereka bergantian.


“Kakak! Nanti aku kesepian!” ucap Axel yang akhirnya bersuara. Kedua matanya sudah memburam karena dipenuhi air mata. “Nggak ada lagi yang ngajakin aku berantem, balapan, korbanin ke mama. Aku bakal kangen sama kakak!” ucapnya lagi dengan suara parau.

__ADS_1


Cheryl langsung memeluk adik kesayangannya itu. “Dek, kelak kamu juga akan menemukan kehidupanmu sendiri. Belajar yang bener ya. Sampai kamu bisa handel perusahaan, aku masih di Jakarta kok.”


“Tetep aja udah beda.”


“Apanya? Kita tetep kakak adik. Nggak ada yang berubah. Dan jangan pernah berubah. Kalau ada apa-apa jangan sungkan datengin kakak. Yang kuat jadi cowok,” ucap Cheryl menepuk-nepuk punggung adiknya.


Jourrel merasa iri dengan kedekatan mereka. Sebagai anak tunggal, tentu tidak pernah merasakan hangatnya saudara, selain Tristan tentunya.


“Jagain kakakku. Dia memang cerewet dan galak. Tapi dia baik. Sangat baik malah!” Kini Axel beralih memeluk kakak iparnya.


“Pasti!” sahut Jourrel.


Setelahnya remaja itu turun dengan pandangan menunduk. Langkahnya gontai mengingat kebersamaannya bersama sang kakak selama ini.


Xavier berjalan seorang diri, tanpa senyum, salam, sapa, pria itu menjulurkan tangannya ke depan Cheryl. “Selamat, Kak!” ujarnya singkat. Beralih pada Jourrel dengan ucapan yang sama.


“Luna mana, Vier?” tanya Cheryl yang tidak menemukan sepupunya itu.


“Sibuk, Kak. Nggak bisa dateng,” sahut Xavier lalu berpamitan untuk turun.


Cheryl mengembuskan napas berat. “Dia tuh anaknya Om Papa. Kenapa jadi duplikatnya papa sih? Dingin, irit bicara,” ucap Cheryl heran.


“Mungkin sewaktu hamil, aunty kamu benci banget sama papa kamu,” cetus Jourrel.


“Hah? Emang ngaruh? Ngaco kamu!” Cheryl terbahak sembari memukul lengan suaminya.


Jourrel ikut tertawa, “Mungkin!” sahutnya memeluk pinggang Cheryl dan merapatkan tubuhnya.


Bersambung~


\=\=\=\=000\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2