
"Jhon! Aku mau ngunjungin seseorang. Tolong anterin ke supermarket dulu ya!" teriak Cheryl menarik tas punggung Jourrel.
Motor mereka tengah melaju di keramaian. Suaranya tidak akan terdengar jika tidak berteriak. Cheryl merasa lebih aman ketika melihat Jourrel mengenakan tas ransel. Ia tidak perlu membuat jarak karena takut tubuh mereka bersinggungan.
"Jhoni! Lu denger nggak sih?" kesal Cheryl karena tidak ditanggapi pria itu.
"Siap, Tuan Putri! Di depan macet banget. Mana panas lagi!" sahut Jourrel menoleh, ketika berhenti di samping truck kontainer, mobil tersebut mampu menyembunyikan tubuh mereka dari silaunya matahari.
"Nggak ada jalan lain apa?" tanya Cheryl melongokkan kepala.
"Ada, tapi jalur tikus," jawabnya.
Sebenarnya bisa saja Jourrel melalui kemacetan itu. Karena motor yang tidak begitu besar, mampu menyusup ke celah-celah kecil. Akan tetapi, dia khawatir dengan Cheryl yang tidak terbiasa.
"Nggak apa-apa deh. Dari pada kejebak gini!" sahut Cheryl menutup kaca helmnya dan menepuk bahu Jourrel. "Gass, Jhon!" sambung Cheryl bersemangat.
Akhirnya, Jourrel putar balik sesuai keinginan Cheryl. Ia melaju dengan kecepatan rata-rata. Jalan yang mereka lalui jauh dari keramaian. Kanan kirinya merupakan area persawahan. Pepohonan yang menjulang tinggi juga berjajar menemani perjalanan mereka.
Meski sudah siang, angin yang berembus begitu sejuk. Cheryl membuka kaca helmnya. Kedua tangannya memeluk erat tas pungung Jourrel, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Jhon, aku nggak berat 'kan ya?" tanya Cheryl.
"Enggak!" sahut Jourrel berbohong. Tentu saja berat, harus menjaga keseimbangan motor, ditarik pula sama Cheryl. Namun ia menikmatinya.
"Ternyata asyik juga naik motor!" ucap Cheryl kembali duduk tegak dan tak sengaja melihat ke arah spion.
Keningnya mengernyit ketika melihat dua buah mobil berwarna hitam, mengikuti mereka. Ia mendekat ke depan dan berbisik pada Jourrel. "Jhon, keknya ada yang ngikutin deh!" gumam gadis itu.
Jourrel memutar pandangannya ke belakang, sekilas. Lalu kembali fokus pada jalan. "Kenal?" tanya Jourrel melirii Cheryl yang hampir menempel pada bahunya.
"Enggak. Tapi mungkin suruhan si Gevano. Masih nggak terima dia," jawab Cheryl.
"Hadapi lah! Malu-maluin papa aku kalau kabur!" cetus Cheryl meletakkan tasnya di antara tubuh Jourrel dengannya.
Kemudian membuka jas yang sedari tadi membalut tubuhnya dengan rapi. Jourrel mendelik saat satu per satu kancing jas itu terlepas.
"Hei?! Mau ngapain kamu, Cher?" pekik Jourrel panik.
"Siap-siap lah. Nggak lucu gelut pake jas," sahutnya santai menanggalkan jas kerjanya, menyisakan kemeja hitam khas perempuan, berlengan panjang. Itu pun di buka tiga kancing teratasnya, memperlihatkan sebuah thank top berenda berwarna hitam pula.
__ADS_1
"Nitip di tasmu ya, Jhon!" lanjut Cheryl membuka resliting ransel pria itu.
Tanpa menunggu jawaban, Cheryl sudah memasukkan jasnya. Jourrel sendiri tengah dilanda was-was, takut gadis itu curiga. Akan tetapi kekhawatirannya tidak terjadi. Karena Cheryl fokus menatap mobil yang semakin dekat dengannya. Gadis itu melepas helmnya.
"Udah, pelanin aja," ujar Cheryl mengikat rambutnya panjangnya tinggi-tinggi.
"Kamu yakin?" Jourrel memastikan.
Cheryl melihat sekeliling, lalu mengangguk yakin. "Yess!" sahutnya mantap.
"Pakai lagi helmnya. Jangan dilepas apa pun yang terjadi. Lumayan bisa lindungin kepala," titah Jourrel yang segera dilakukan Cheryl. Ia sudah pandai mengaitkan pelindung kepala itu.
Dan setelah laju motornya memelan, sebuah mobil menyilang di hadapan mereka. Di belakangnya juga berhenti mobil yang sama. Jourrel terpaksa menghentikannya.
Dua sejoli itu turun dari motor. Di mana mereka sudah dikelilingi orang-orang berbadan kekar dengan wajah yang menyeramkan.
Jourrel mengamatinya satu per satu. Ia mengenali beberapa orang bayaran itu. Karena Jourrel sering di ajak bergabung dengan anggota mereka. Tetapi ia selalu menolak.
Jourrel dan Cheryl saling memunggungi. Menatap waspada pada segerombolan pria yang membawa alat pemukul itu.
__ADS_1
Bersambung~