
Leon dan Tiger kembali ke rumah utama. Leon sudah menempatkan diri di depan layar laptopnya dengan serius. Saling berkomunikasi dengan asisten Gerry untuk menelusuri jejak Perusahaan Alvaro yang tiba-tiba lenyap dari dunia bisnis.
Sedangkan Tiger sendiri juga mencari tahu melalui jaringannya dalam dunia mafia. Baik itu rival maupun sekutu. Semua dia selidiki bersama para anggota mafia yang terhubung dengannya di markas.
Dua pria dewasa yang hebat itu tidak saling bertukar suara, hanya gemeletuk suara keyboard yang menggema di ruangan rahasia mereka.
Di sisi lain, Cheryl mendampingi Jourrel hingga proses pemakaman selesai. Semua anggota SSG yang sebelumnya menangkap Jourrel juga turut hadir dan mendoakan. Rico masih setia di belakang Cheryl, tugasnya menjaga gadis itu belum selesai.
“Pulanglah, papamu pasti menunggumu,” pinta Jourrel ketika mereka berjalan beriringan keluar dari makam.
Cheryl menggeleng, “Enggak. Papa masih sibuk. Aku udah minta izin tadi, yang penting ada uncle!” tunjuk Cheryl ke belakang, tepat berdirinya Rico.
“Tapi aku mau pulang, Cher. Kamu berisitrahatlah. Jangan capek-capek. Terima kasih banyak atas semua bantuan kamu dan juga keluargamu,” tutur Jourrel menyentuh lengan Cheryl sembari menatapnya lembut.
“Enggak mau, Jourrel. Aku mau ikut ke rumahmu!” kekeh Cheryl.
“Hah! Keras kepala.”
“Seperti mamanya!” celetuk Rico menyela membuat dua sejoli itu menoleh serentak. Cheryl mendelik, sedangkan Rico membuang muka sembari bersiul. Seolah tidak mengatakan apa-apa.
Tristan dan Gita masih menunggu di depan mobil. Keduanya tersenyum ketika melihat Cheryl dan Jourrel mendekat.
__ADS_1
“Dokter, terima kasih banyak bantuannya,” ucap Jourrel menganggukkan kepala.
“Sama-sama. Bukankah sekarang kita teman? Atau mungkin bisa disebut saudara,” seloroh gadis cantik berprofesi dokter itu.
Kening Jourrel mengernyit, tidak mengerti apa maksud ucapan Gita. Ia menoleh pada Cheryl yang hanya mengedikkan bahu, sama tidak mengertinya.
“Bro! Gue tahu ini mungkin nggak tepat buat kasih tahu lo. Mungkin lo bakal terkejut mendengarnya. Tapi juga bahagia karena kehilangan rival," ujar Tristan terkekeh semakin membuat Jourrel tak mengerti.
Tristan saling bertatapan dengan Gita, kemudian mengangguk bersamaan. Pria itu mengangkat jemari lentik Gita dan menunjukkannya pada Jourrel.
“Kok cincinnya samaan? Kalian ....” tanya Cheryl menunjuk Tristan dan Gita bergantian.
“Ya! Kami sudah menikah,” sahut Tristan.
“Jadi dua minggu ini kamu menghilang karena menikah?” Jourrel memastikan, dijawab sebuah anggukan oleh Jourrel. “Bagaimana bisa?” teriaknya sulit percaya.
“Ayo pulang! Aku jelasin di rumah!” Tristan melepas tautan tangannya, kemudian bergegas masuk ke mobil diikuti oleh istrinya.
Cheryl dan Jourrel pun bergegas ke mobil yang disopiri oleh Rico. Dua sejoli itu duduk di kursi belakang. Cheryl tidak mau melepas tautan tangannya, bahkan menyandarkan kepala pada bahu kokoh pria itu. Sudah terlalu nyaman.
“Cher,” panggil Jourrel bersuara pelan.
__ADS_1
“Hmm?” sahutnya tanpa menoleh.
Diam, tidak ada suara lagi. Hanya deru mesin mobil yang mendominasi perjalanan mereka. Cheryl menautkan sepasang alisnya, menoleh pada pria di sebelahnya. “Kenapa?” tanya gadis itu karena Jourrel tak kunjung bicara.
“Aku ... aku ....” Tiba-tiba pria itu tergagap. Bingung bagaimana mengolah kata. Rico hanya mencebikkan bibirnya tanpa mau menimpali.
Cheryl menaikkan kedua alisnya, menunggu dengan sabar kalimat yang akan diucapkan oleh Jourrel.
“Aku mau pulang ke Medan. Terima kasih banyak atas semuanya. Mungkin, seribu ucapan terima kasih tidak bisa membalas kebaikan kamu dan keluargamu.”
Jourrel menautkan tangannya di sela-sela jemari lentik Cheryl. “Mungkin hari ini terakhir kita bertemu. Aku tidak tahu kapan ke sini lagi. Semoga kamu selalu bahagia Cheryl. Siapa pun yang akan menjadi pendampingmu nanti, pasti akan sangat beruntung,” ucapnya sedikit bergetar. Tersenyum walau hatinya sendiri terasa teriris.
Cheryl mencengkeram kuat genggaman tangannya. Matanya memicing dengan tajam. Napasnya mulai menderu dengan kasar. Namun sebisa mungkin gadis itu menahan amarahnya. Karena tahu, Jourrel masih dalam suasana hati yang buruk.
"Oke, silakan pergii. Tapi harus bersamaku!" tegas gadis itu merapatkan tubuhnya. "Kamu boleh pergi kemanapun, asal denganku!" sambungnya.
"Ke ... Kenapa?" ujar pria itu gugup karena jarak mereka terlalu dekat.
"Kenapa kau bilang? Masih nanya kenapa? Kamu sendiri yang bilang semoga aku selalu bahagia. dan kau tau?" Cheryl menangkup kedua pipi Jourrel dan menatap dalam kedua manik matanya. "Kebahagiaanku itu ya kamu, Jourrel!" ucapnya dengan serius.
__ADS_1
Bersambung~