Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 102 : SIDANG CALON MERTUA


__ADS_3

Kening Cheryl mengernyit, “Sewa villa? Hotel?” Gadis itu menghela napas panjang. Pandangannya lurus ke depan,  “Jou, villa deket sini hampir 70% milik papa. Hotel jauh dari sini, kebanyakan milik om papa,” tutur gadis itu.


Dada Jourrel semakin sesak mendengarnya, berulang kali ia mengembuskan napas berat. Akan tetapi sama sekali tidak bisa mengurangi kegugupannya.


“Cher, balik aja deh,” ajak Jourrel memelas.


“Ck! Yaudah! Balik aja sana sendiri. Enggak usah datang-datang lagi! Enggak niat emang!” ketus Cheryl kesal lalu turun dari mobil dan berlari memasuki rumah.


Jourrel menyandarkan punggungnya sembari mengembuskan napas kasar. Kepalanya mendongak dengan mata terpejam, “Aaaarrghh! Bukan begitu, Cheryl! Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku!” serunya mengacak-acak rambutnya.


Di dalam sportcar itu, Jourrel terus berusaha menenangkan diri, bibirnya memaksa untuk tersenyum dan merangkai kata demi kata untuk menghadapi calon mertuanya nanti.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Langkah kaki Cheryl berhenti sejenak ketika melihat papa dan mamanya yang sangat romantis di depan televisi. Saling bersenda gurau dan menatap penuh cinta. Hal itu membuat Cheryl semakin kesal. Ia langsung berlari melalui orang tuanya begitu saja, menuju kamarnya.


“Lho, Cher! Mana Jourrel?” tanya Tiger mendongak karena putrinya sudah berada di lantai atas.


“Enggak tahu!” teriak Cheryl menutup pintu kamar dengan kasar.


“Eh, kenapa tu anak?” Jihan ikut mendongak setelah terjingkat kaget. Kemudian saling lempar pandang dengan suaminya yang hanya mengedikkan kedua bahu.


“Ehm! Permisi, Tuan, Nyonya,” sapa Jourrel mengangguk sopan ketika dua orang paruh baya itu melihat ke arahnya.


Jourrel memutuskan segera masuk, setelah mengumpulkan segenap tekad keberanian. Diantar oleh seorang pelayan untuk menemui Tiger dan Jihan.


Tiger dan Jihan segera beranjak serentak. Berjalan mendekati lelaki yang begitu tegang melebihi saat menghadapi musuhnya.

__ADS_1


“Duduklah!” ucap Tiger mempersilahkan.


“Terima kasih, Tuan,” ucapnya duduk di sebuah sofa tak jauh darinya. Diikuti Tiger dan Jihan yang berseberangan dengannya.


Jourrel menelan salivanya berulang-ulang, memangku kedua tangan di atas paha, dengan kegugupan yang sulit ia kendalikan.


“Kamu mau diam begini sampai kapan?” Jihan membuka suara ketika tak sabar melihat Jourrel yang diam sedari tadi setelah menyapa.


“Maaf, Nyonya.” Jourrel menarik napas dalam-dalam. Kemudian menarik kedua sudut bibirnya. “Saya Jourrel, datang kemari bermaksud ingin melamar putri Anda, Cheryl Anastasia." Demi apa pun, jantung Jourrel saat ini terasa meloncat-loncat di dalam sana. Tangannya gemetar meski tak begitu kentara.


“Kau ingin menikahi putriku? Apa yang kamu janjikan?!” todong Jihan dengan suara tegas.


Jourrel berusaha bertahan, “Saya tidak bisa menjanjikan harta atau kekayaan. Karena Cheryl sudah memilikinya, bahkan jauh di atas saya. Akan tetapi, saya akan berusaha untuk selalu membuatnya bahagia. Meski tidak tahu bagaimana kehidupan kami kelak, tapi saya akan terus berjuang dengan segenap cinta saya untuknya. Saya akan terus menjaganya, menjadi pelindungnya sekaligus menjadi rumahnya untuk pulang. Maaf jika saya lancang dan tidak tahu diri, tetapi saya sangat mencintai putri Anda, Nyonya,” papar Jourrel dengan suara yang mulai bergetar.


Jihan masih pada pendiriannya, walaupun dalam hatinya mulai tersentuh dan ingin menangis haru. “Apa alasan kamu mencintainya?” tanya Jihan menatap manik Jourrel dalam-dalam. Untuk melihat kesungguhan jawaban Jourrel.


Lega, walaupun tidak sesuai dengan apa yang ia susun sedari tadi. Akan tetapi Jourrel mampu berbicara dengan lancar. Itu saja sudah membuatnya bangga pada dirinya sendiri.


“Apa yang kamu lakukan ketika saya menolakmu!” tantang Jihan.


DEG!


Jourrel menguatkan dirinya, tetap tersenyum walaupun dadanya seperti dihantam beban yang begitu besar.


“Saya akan terus berjuang sampai Anda bisa menerima saya,” sahut Jourrel dengan tegas walau matanya berkaca-kaca.


“Pulanglah!” tandas Jihan memalingkan muka.

__ADS_1


“Sayang?” panggil Tiger yang terkejut dengan keputusan istrinya.


“Jangan ikut campur!” timpal Jihan dengan tegas. Lalu menoleh kembali pada Jourrel. “Ayo pulang! Kamu nggak dengar?” seru Jihan lagi beranjak dari duduknya.


“Baik, Nyonya. Saya akan datang lagi esok.” Jourrel berdiri membungkuk hormat lalu memutar tubuhnya melangkah menuju pintu.


“Siapkan semua dokumen pernikahan!” teriak Jihan ketika Jourrel hampir mencapai pintu.


Seketika tubuh Jourrel membeku, ia tidak berani bergerak. Masih ragu dengan apa yang ia dengar. Namun dadanya campur aduk saat ini.


“Jangan lama-lama atau aku berubah pikiran!” tambah Jihan lagi yang seketika membuat Jourel berbalik dan berlari menghampiri Jihan dan Tiger.


Pria itu menjabat tangan Jihan dengan mantap dan percaya diri, “Terima kasih, Nyonya. Terima kasih banyak kepercayaannya! Tuan, terima kasih!” ucap Jourrel beralih menjabat tangan Tiger.


Tiger menepuk bahu Jourrel, tersenyum dengan sebuah anggukan kecil.


“Sayang! Kita nikah secepatnya!” teriak Jourrel menggelegar di seluruh penjuru ruangan.


Cheryl yang sedari tadi menguping bersandar pada pegangan tangga kini berlari dengan kaki jenjangnya. Ia turut tegang mendengar Jourrel dicecar oleh sang mama seperti itu. Tangisnya sudah pecah ketika berpikir mamanya akan menolaknya. Dan terkejut saat mendengar kalimat terakhir Jihan.


Tanpa rasa malu atau sungkan Cheryl melompat memeluk erat pria yang dicintainya itu. Kedua lengannya mengalung dengan sangat erat, Jourrel pun membalas pelukan itu lebih erat lagi.


Tangis haru mewarnai bangunan besar milik Tiger. Jihan direngkuh oleh suaminya, ia ikut menitikkan air mata haru melihat putrinya terlihat sangat bahagia dengan lelaki pilihan hatinya.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2