Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 29 : OMELAN DARI CINTA PERTAMA


__ADS_3

"Memang sudah seharusnya begitu!" seru salah satu teman Tristan berdiri tepat di hadapan Jourrel dengan tatapan tak bersahabat. Jarak wajah mereka pun hanya beberapa inchi saja. Sepasang netranya melotot dengan sangat tajam.


Tristan menahan dada temannya dan sedikit mendorongnya, "Sabar, Bro. Ini rumah sakit. Kita nggak boleh ribut, demi kenyamanan Cheryl," sanggahnya menengahi.


Tak berselang lama, pintu ruang rawat terbuka. Seorang suster memberi kabar bahwa Cheryl sudah sadarkan diri. Mereka semua berebut ingin menemui sang ratu pada club mereka.


Hanya Jourrel dan Tristan yang bergeming di depan ruangan. Menyaksikan para lelaki berjubal melewati pintu yang tidak begitu lebar itu.


"Tan! Nggak tahu lagi ucapan di atas terima kasih," ucap Jourrel menoleh perlahan hingga bersitatap dengan Tristan.


Tristan mengurai senyum, menepuk salah satu bahu Jourrel dan meremasnya. "Kita saudara!" ucapnya.


"Saudara beda ayah dan ibu!" celetuk Jourrel yang akhirnya bisa tertawa lega.


Tristan mengangguk dan merangkul sahabatnya itu. Mereka memilih menunggu di luar, karena Cheryl tidak akan nyaman jika terlalu ramai di dalam.


Benar saja, gadis itu mendesis sembari memijit pangkal hidungnya saat pertanyaan demi pertanyaan mulai menghujaninya. "Guys! Makasih banyak sebelumnya! Tapi serius, aku nggak apa-apa. Jangan terlalu berlebihan, okay. Lihat, aku masih hidup, masih utuh juga. Jangan khawatir, ya?" ucapnya menatap jengah satu per satu dari para member.


"Tetep aja kita-kita khawatir, Cher!" seru salah satunya yang langsung diangguki semuanya.

__ADS_1


"Iya, tapi sekarang aku baik-baik aja. Bahkan lebih baik lagi kalau aku beristirahat. Iya 'kan?" Cheryl tersenyum paksa. Karena memang kepalanya justru terasa berdenyut dikerumuni seperti itu.


"Baiklah, kita biarin Cheryl istirahat dulu. Biar pulih tenaganya. Ayo balik!" ucap salah satu temannya.


Dalam hati, Cheryl bersorak. Namun mata indahnya seolah sedang mencari-cari seseorang. Ada rasa penasaran sekaligus kecewa ketika tidak menemukannya.


Rombongan para member club, pamit satu per satu. Hingga ruang rawat Cheryl kini kembali sunyi. Ia meraba-raba ponsel di celananya. Sialnya, saat menatap tubuhnya, pakaiannya sudah berganti dengan pakaian pasien rumah sakit.


"Ck! Gawat kalau papa atau orang-orangnya nelepon," gumamnya menggigit bibir bawahnya.


Tak tahan berdiam diri, Cheryl kesusahan beranjak duduk, tepat bersamaan dengan pintu yang terbuka. Terdengar langkah kaki yang semakin cepat mendekatinya.


"Hei, mau ke mana?" ujar seorang pria khawatir segera berlari menyentuh lengan dan bahunya.


"Mau ke mana?" ulang Jourrel sekali lagi.


"Ah, eee ... itu, aku nyari ponsel. Ya, cari ponsel," jawabnya sedikit gugup. Secara, pertemuan mereka sebelum-sebelumnya, ia selalu melakukan kekerasan pada pria itu.


Canggung, begitulah yang dirasakan Cheryl saat ini. Jourrel membantu menegakkan duduknya, meletakkan sebuah bantal di punggung gadis itu agar duduk dengan nyaman.

__ADS_1


"Itu ada di atas nakas," tunjuk Jourrel dengan dagunya, kemudian berjalan ke seberang ranjang untuk mengambilkan benda pipih itu, lalu menyodorkannya pada Cheryl.


"Ma ... makasih," balas Cheryl berusaha menekan rasa gugupnya.


Ia segera menyalakan alat elektronik di tangannya. Sesuai perkiraan, puluhan panggilan tak terjawab tampak di layar tersebut. Bukan hanya nomor sang papa, namun juga banyak sekali nomor tak dikenal yang kemungkinan para bawahan Tiger.


Buru-buru Cheryl menelepon balik sang ayah. Tidak menunggu lama, dalam satu ketukan nada sambung langsung terdengar gema suara bariton papanya.


"Cheryl! Kemana saja kamu? Kenapa ponselmu mati sedari tadi? Sudah papa bilang, jika tidak ingin pengawal bayangan, kamu jangan pernah mematikan ponsel! Kenapa melanggarnya? Kalau seperti ini, papa juga bisa melanggarnya!" cecar lelaki paruh baya itu di seberang telepon.


Cheryl bahkan sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. Matanya terpejam dengan senyum tertahan mendengar omelan dari cinta pertamanya itu.


Sedangkan Jourrel sendiri terkejut akan keposesifan orang di balik telepon. Namun ia hanya bergeming, memperhatikan dalam diam.


Bersambung~


Ayang Jou...


__ADS_1


Anak Macan 🥰



__ADS_2