Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 61 : JATUH CINTA?


__ADS_3

“Uncle ....”


Tenggorokan Cheryl seakan tercekat, bingung harus bercerita dari mana.


“Hemm .... ” gumam Rico meliriknya.


“Mau bicara sama uncle aja bisa nggak?” ucap Cheryl pelan.


Rain mendengkus mendengarnya. Namun ketika melihat kode lirikan dari sang ayah, Rain pun menurut. Dengan berat, beranjak berdiri, “Aku ngopi dulu, Yah. Kalau ada perlu apa-apa, telepon saja!” pamit Rainer diangguki oleh ayahnya..


Cheryl dapat melihat punggung Rainer yang semakin menjauh. Ia mendongak menatap pengawal setia keluarganya. Sepasang netra indah itu berkaca-kaca, “Uncle, tolong jangan bilang sama Papa atau Om Papa,” rengeknya.


“Bilang apa? Apa yang membuatmu sesedih ini, hmm?” tanya Rico menyeka ar mata yang mulai berjatuhan di pipi gadis itu.


“Uncle, dia ...." Cheryl menghela napas panjang, "Ah entahlah, perasaanku campur aduk melihatnya seperti itu. Aku takut terjadi sesuatu sama dia. Uncle, dia tertembak, kepalanya juga terluka. Aku takut,” cerita Cheryl apa yang ada dalam hatinya dengan raut penuh kekhawatiran.


Rico mengulas senyum di bibirnya. Tentu saja sangat mengerti apa yang dirasakan oleh nona mudanya itu. Ia mengusap puncak kepala Cheryl, “Hei, kamu sudah dewasa rupanya.”


“Uncle iihh, Cheryl memang udah dewasa. Udah 24 tahun, bentar lagi 25. Uncle aja yang masih nganggep aku kecil mulu!” Cheryl mengerucutkan bibirnya.


Ia beralih bersandar pada tembok di belakangnya, menarik napas dalam-dalam karena merasa sesak sedari tadi. Lalu membuangnya dengan kasar, “Ibunya juga dirawat di rumah sakit ini. Beliau sakit parah. Kasihan banget ‘kan?” lanjutnya dengan pandangan kosong lurus ke depan.


“Wow, udah dikenalin ke orang tuanya! Pria mana nih yang mampu meluluh lantakkan nona kecilku!” godanya turut menyandarkan punggung kokohnya dan menoleh pada Cheryl.

__ADS_1


“Aaah Uncle, kenapa mikirnya ke sana sih? Kami nggak ada hubungan apa-apa!” gerutu Cheryl.


Rico terkekeh melihat wajah nona mudanya memerah seperti tomat, “Apa kamu berdebar tiap bersamanya? Merasa kangen nggak kalau lagi berjauhan? Terus seneng nggak kalau lagi jalan sama dia?” bisik Rico.


Dalam hati Rico menggerutu, ‘Anak sama ibu sama aja. Sama-sama gengsi ngaku kalau lagi jatuh cinta!’ Ia teringat dengan Jihan yang dulu selalu mengelak dan enggan mengakui rasa cintanya.


“Iya sih, Uncle. Eh!” Cheryl memutar bola matanya, lalu mengerjap berulang.


“Wah, jadi makin penasaran! Bentar lagi ada yang lepas lajang nih!” goda Rico yang tentu saja langsung mendapat tinju di lengannya bertubi-tubi.


“Ah Uncle, ngomongnya makin ngawur!” seru gadis itu menghujani pukulan bahkan tendangan juga di kakinya.


Rico yang tertawa terbahak-bahak langsung merapatkan bibir dan meraih kaki Cheryl. “Ini kenapa sampai merah gini? Mana sepatu?” tanya nya penuh selidik.


“Yaampun, nona kecilku sedang diserang virus jatuh cinta ini! Pangeran mana yang berhasil menaklukkan anak macan?” ucap Rico gemas menarik kedua pipi Cheryl dan menggerakkannya.


Gadis itu membeku, ‘Hah? Jatuh cinta, benarkah?’ batin Cheryl tampak berpikir keras.


Lampu berwarna merah sudah padam, beberapa saat kemudian pintu ruang operasi terbuka. Membuyarkan lamunan Cheryl. Gadis itu segera beranjak, diikuti oleh Rico.


“Kami akan melakukan observasi selama 1 x 24 jam untuk memastikan keberhasilannya. Untuk sementara, operasi berjalan dengan lancar. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap,” papar dokter menjelaskan sebelum Cheryl bertanya.


Cheryl mengangguk tanpa bersuara apa pun. Ia mendadak jadi tegang. Langkahnya seirama dengan para perawat yang mendorong brankar Jourrel. Manik indahnya tak lepas dari pria tampan yang masih menutup rapat matanya.

__ADS_1


Rico tentu bisa melihatnya dengan jelas. ia tersenyum sembari berjalan santai di belakangnya.


Poltak sebenarnya sudah sampai sedari tadi, namun ia menahan langkahnya ketika terlihat perbincangan serius antara Rico dan Cheryl. Tidak berani menyela. Ia turut mengikuti langkah atasannya itu, takut kalau nanti dibutuhkan. Makanan dan minuman untuk Cheryl masih aman di tangannya.


Setelah sampai di ruangan VIP dan semua perawat melenggang pergi, Cheryl buru-buru masuk mendudukkan tubuhnya di kursi yang disediakan.


Kedua tangannya saling tumpang tindih di tepi ranjang, menatap lekat lelaki itu. Ia ingin memastikan sesuatu. Benar, dadanya bergemuruh hebat, sesuai dengan pertanyaan dari Rico tadi.


‘Benarkah aku jatuh cinta? Sama Jourrel?’ batinnya bertanya-tanya.


Rico melipat kedua lengannya di dada, berdiri berseberangan dengan Cheryl sembari menatap kuat pria yang terbaring lemah di atas ranjang itu.


“Siapa namanya? CEO perusahaan mana? Kenapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Apa dia bukan asli sini? Seorang pendatang ya?” cecar Rico bertubi-tubi.


DEG!


Cheryl mendongak, gemuruh dadanya semakin kuat. Tubuhnya tampak menegang mendengar pertanyaan itu.


Bersambung~


 


 

__ADS_1


__ADS_2