Pria Bayaran dan Gadis Mafia

Pria Bayaran dan Gadis Mafia
BAB 64 : TERIMA KASIH


__ADS_3

“Mana yang sakit, Dok?” Tristan menjulurkan kedua tangannya, hendak menyentuh lengan sang dokter.


Wanita itu segera mundur dengan cepat agar menjauh dari jangkauan Tristan. “Anda jangan kurang ajar ya?” sentak dokter tersebut melotot tajam.


“Duh! Kurang ajar gimana coba? Saya kan cuma tanya, mana yang sakit, biar saya pijit. Tenang aja, gini gini saya ahlinya!” terang Tristan percaya diri. ‘Walaupun biasanya pijit mesin sih,’ sambungnya dalam hati.


“Dokter Gita baik-baik saja?” tanya suster di belakangnya yang juga khawatir.


“Mmm ... sudah selesai infusnya?” tanya balik dokter tersebut menoleh sekilas.


“Sudah, Dok,” sahutnya mengangguk.


“Kalau begitu lanjutkan dulu ke ruangan selanjutnya. Saya akan menyusul,” perintah sang dokter yang segera diangguki oleh dua susternya. Keduanya melenggang meninggalkan ruangan Ibu Dina.


Dokter Gita melempar tatapan menyelidik pada Tristan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yang menjadi objek, justru salah tingkah. Ruangan dingin itu semakin mencekam melihat wajah dingin Dokter Gita.


“Eee ... begini saja. Dokter silakan rontgen, jika memang mengalami retak tulang, atau geser, atau ada masalah apa gara-gara saya, bisa langsung hubungi saya. Tenang aja, saya nggak akan kabur,” lanjutnya meraih dompet dan memberikan sebuah kartu nama.


Dokter tersebut meraihnya, membacanya sekilas lalu tampak seperti memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, pandangannya kembali pada Tristan.


“Oke, saya pegang kata-katamu. Dan satu yang mau saya sampaikan. Jika sedang menunggu orang sakit, sesekali dipantau. Jangan keblabasan tidurnya. Apalagi tadi sampai hampir kehabisan cairan infus. Itu sangat berbahaya. Tensinya sudah mulai turun, harusnya sih sudah sadar. Tapi kita tunggu sampai besok pagi.” Dokter Gita melihat jam tangannya, lalu memasukkan kartu nama Tristan di saku jas putih yang melapisi gaunnya.


“Iya, Dok. Terima kasih,” ucapnya tersenyum begitu manis.

__ADS_1


Dokter Gita memutar bola matanya malas. Ia segera melenggang pergi dengan langkah cepat, melanjutkan kunjungan malam.


Tristan mendesah kasar ketika pintu kembali tertutup. Ia lalu berjalan menuju ranjang pasien, duduk di kursi sambil menatap lekat wanita tua itu. Perasaannya mendadak gelisah. Tidak ada kabar apa pun dari Cheryl mengenai kondisi Jourrel.


Sudah meraih ponsel, tetapi takut untuk menghubungi Cheryl. Mengingat jam sudah hampir lewat tengah malam. Ia kembali mengurungkan niatnya. Meletakkan ponsel di atas nakas, dan ia melanjutkan tidur sambil duduk. "Besok sajalah!" gumamnya.


*************


Jourrel terperanjat dari tidurnya. Ia hampir mendudukkan tubuhnya dengan paksa. “Aaarggh!” erangnya kesakitan menyentuh perutnya. Lalu kembali melempar tubuhnya ke ranjang. Lagi-lagi mendesis, merasakan nyeri di kepalanya.


“Hei, kau mau ke mana? Jangan banyak bergerak dulu,” tandas Rico yang masih terjaga.


Erangan kesakitan Jourrel tentu menyelusup di telinga Cheryl. Gadis itu membuka mata dengan cepat, dadanya berdentum hebat.


Jourrel masih mengatur napasnya. Matanya terpejam memudarkan pusing yang mendera. Juga berusaha mengingat-ingat apa yang sudah ia alami sebelumnya.


“Jou, apa yang kamu rasakan? Mau minum?” tawar Cheryl.


Perlahan, Jourrel kembali membuka matanya. Manik matanya langsung bersirobok dengan binar cantik yang terpancar dari wajah Cheryl. Senyum tulus mengembang di bibir gadis itu.


“Apa yang terjadi?” tanyanya merasa bingung. Bagaimana bisa ia berada di rumah sakit padahal sebelumnya sedang berada di ambang kematian.


“Tenanglah, semua aman sekarang. Reno juga sudah dibekuk,” ujar Cheryl mendudukkan tubuhnya di kursi.

__ADS_1


Sepasang mata Jourrel melebar, bibirnya bergetar dan ketakutan menyergapnya. Jika Reno tertangkap, artinya dia sendiri pasti tidak aman.


Melihat kepanikan di wajah Jourrel, Cheryl menggenggam jemari pria itu. Ia mendongak masih dengan senyum menghiasi bibirnya. “Terima kasih, sudah mengorbankan nyawamu karena mundur dari misi itu,” tutur gadis itu bersuara pelan.


“Kamu mengetahuinya?” gumam Jourrel.


“Hmm,” Cheryl mengangguk. “Aku mendengar semua percakapan kalian. Aku salut sama keberanian kamu. Dan sebagai gantinya, semua biaya rumah sakit aku yang tanggung. Termasuk pengobatan ibu,” papar Cheryl.


Dada Jourrel seperti dihantam beban yang begitu berat, hingga sesak ia rasakan. Tidak menyangka Cheryl bisa mengetahui dengan detail. Wajahnya semakin pucat, apalagi saat menyadari ada orang lain selain mereka berdua. Ia sudah pasrah apa pun yang terjadi padanya nanti.


Jourrel tersentak, matanya membelalak, “Ibu!” seru Jourrel baru teringat dengan ibunya. Sontak, memaksa diri untuk bangun dari ranjang.


“Hei, kamu masih observasi, Jou,” sergah Cheryl menekan bahu Jourrel.


“Tidak! Aku harus melihat keadaan ibu!” ucapnya kekeh menyibak selimutnya. Menahan rasa sakit di perutnya juga kepalanya seolah berputar-putar.


“Berhenti!” Suara bariton Rico begitu tegas menggema di ruangan. Tatapannya begitu tajam mengarah pada Jourrel.


Sontak, gerakan Jourrel pun berhenti. Ia menelan ludah ketika bersitatap dengan pria paruh baya di sebelahnya.


 


Bersambung~

__ADS_1


 


__ADS_2