
Sementara itu di kediaman Sebastian, Cheryl langsung melempar tubuhnya di atas ranjang empuknya. Menyembunyikan tubuhnya di bawah gelungan selimut tebal.
Hanya menyisakan kepalanya saja. Kepalanya masih merasa nyeri dan berdenyut. Matanya terpejam menikmati debaran jantung yang mengamuk di dalam saja, tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Embusan napasnya pun tak beraturan.
Beberapa waktu berlalu, terdengar ketukan pintu kamar Cheryl. Gadis itu membuka kelopak matanya, namun enggan beranjak. "Masuk!" ucapnya pelan, mengizinkan.
Axel tampak melongokkan tubuhnya setelah mendapat izin dari sang pemilik kamar. Merasa kakaknya tidak baik-baik saja, ia segera melenggang dan duduk di tepi ranjang.
"Kakak kenapa?" tanya remaja itu memperhatikan wajah sang kakak yang begitu merah. Ia lalu meletakkan punggung tangannya pada kening dan pipi Cheryl. "Kakak sakit? Udah minum obat?" tanyanya perhatian ketika merasakan panas di permukaan kening sang kakak.
"Cuma kecapean paling. Ada apa?" tanya Cheryl menatap sayu.
"Luna tadi nyariin kakak. Katanya nggak bisa hubungi kakak. Dari mana sih? Ini 'kan weekend. Harusnya istirahat," cebik Axel tampak mendengkus.
"Mmm ada urusan bentar. Tolong teleponin balik dong, munpung kamu di sini," pinta Cheryl.
Axel menurut, kebetulan ponsel miliknya masih ada di genggamannya. Ia menyalakan loudspeaker, agar Cheryl juga bisa mendengarnya.
"Halo, Axel," Suara lembut di seberang mulai terdengar setelah beberala detik.
"Ini Kak Cheryl lagi sama aku, katanya mau ngomong," balas lelaki itu menekan rasa gugupnya.
__ADS_1
"Oh iya."
Axel menyodorkan ponselnya pada sang kakak. Cheryl masih enggan bergerak dari tidurnya. Ia berbicara sambil rebahan.
"Gimana, Lun?" ucap Cheryl fokus mendengarkan.
"Kak, aku ada beberapa fotonya. Tetapi semuanya mengenakan penutup wajah. Bahkan seluruh tubuhnya tertutup kain hitam juga," papar Luna melaporkan.
"Oh, gitu. Nggak apa-apa, kirim aja!"
"Udah, Kak. Aku udah kirim ke email kakak," ucap Luna.
"Makasih banyak ya, Sayang," balas Cheryl tersenyum puas.
"Iya, Sayang. Salam buat aunty mama ya. Bye Luna."
"Siap, Kak."
Sambungan telepon terputus. Axel masih bergeming menatap kakaknya. Bahkan ponselnya masih menggantung di depan mulut Cheryl.
"Woy! Melamun apaan?" seru Cheryl menepuk bahu Axel.
__ADS_1
"Eh, udah selesai!" ucap Axel terkejut.
"Iissh! Orangnya di sini, hati dan pikiran entah ke mana!" cebik Cheryl memutar bola matanya malas.
Axel kembali menyimpan benda pipih itu, ia hendak beranjak dari kamar sang kakak. Karena takut diledek terus menerus.
"Tunggu, mau ke mana? Aku minta tolong!" sergah Cheryl.
"Apaan?" tanya Axel membalikkan tubuhnya.
"Tolong bukain laptop aku, bukain email dari Luna dan print semua foto-foto yang ada di sana. Passwordnya tanggal lahir aku semua," perintah Cheryl.
Merasa tidak tega karena Cheryl terlihat kelelahan, ia pun berjalan menuju meja kerja Cheryl. Segera membuka laptop sang kakak dan melakukan setiap perintah Cheryl.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke hadapan Cheryl dengan beberapa lembar foto pria, berbalut kain serba hitam dengan sepeda motornya.
"Ini, orang yang nembak mobil kita dulu ya, Kak," tanya Axel ketika melihat motornya sama dengan malam itu.
"Iya!" tanya Cheryl mengamati dalam rebahannya.
Keningnya mengernyit, manik matanya menyipit untuk memperjelas pandangannya secara detail. Pria bermasker, dengan penutup kepala hitam itu hanya terlihat mata elangnya saja.
__ADS_1
"Mata ini ... aku, seperti pernah lihat matanya, siapa ya?" Cheryl bertanya-tanya dan mencoba mengingat-ingat.
Bersambung~