Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Ezra Syadeva William


__ADS_3

Anna mengenakan rok hitam selutut dengan tali dipinggangnya Badannya basah kuyup karena hujan yang mengguyurnya. Ryan bisa dengan jelas melihat lekuk tubuh sialan itu karena baju yang di kenakan Anna menempel di tubuhnya. "Apa dia tidak merasa kedinginan, apa yang terjadi padanya dan mengapa dia seperti itu? " Batin Ryan memperhatikan. Saat Anna melihat ke arahnya, Ryan merasa dia sangat mirip dengan Erza. Ketika mobil melewati Anna, Ryan menoleh ke belakang dan melihat Anna menatap ke arah mobil.


"Tetapi mengapa dia datang ke sini? " Berbagai fikiran menghampiri Ryan. Dia penasaran karena tahu isi perjanjian dalam kontrak, Anna tidak boleh melihat bayinya setelah lahir.


"Mungkin dia datang menemui bayinya untuk terakhir kalinya" Ucap Ryan dalam hati. Ryan menghela nafas dan memejamkan mata karena dia tahu ini akan menjadi yang terakhir kali Ryan melihatnya. Ryan datang ke mansion dan melihat nenek yang sedang menatap anaknya yang sedang tidur. Hati Ryan dipenuhi dengan cinta saat melihat mereka.


"Nenek" Ryan berbicara saat neneknya menoleh dan tersenyum.


"Anak malasmu sedang tidur. Dia benar-benar seperti daddinya yang pemalas" Ucap nenek tiba-tiba.


"Aku... Malas... Tidak" Ryan tertawa dan duduk di sampingnya di sofa.


"Aku tidak malas, nenek" Kata Ryan sambil mengambil bayi itu dari tangannya.


"Jadi Ryan. Siapa namanya? " Tiba-tiba nenek bertanya. Ryan terdiam karena belum punya ide.


"Aku tidak tahu" Kata Ryan sambil mencium pipi kecil bayi laki-lakinya.


"Beri dia nama. Kamu ayahnya" Hati Ryan terasa menegang ketika dia ingat bahwa anaknya tidak akan memiliki ibu. Ryan menghela nafas dan memejamkan mata, tapi pikirannya dipenuhi dengan bayangan Erza. Ryan tersenyum saat mengingat cara Erza mengucapkan selamat kepadanya.


"Ezra... Ezra Syadeva William" Ryan akhirnya berkata karena dia berfikir tidak akan pernah bisa melupakan anak laki-laki yang menarik perhatian dan cintanya dalam satu kali pertemuan.


"Kenapa dengan nama itu? " Tanya nenek, Ryan menatap nenek yang terlihat gelisah lalu mengerutkan kening pada Ryan.


"Bukankah itu nama yang bagus? " Ryan bertanya pada nenek dan nenek mengalihkan pandangan dari Ryan, kemudian mengangguk.


"Pilihanmu memang bagus" Setelah itu nenek bangkit dan pergi. Ryan tiba-tiba teringat pada Anna.


"Nenek, Kenapa wanita itu datang ke sini lagi, aku melihatnya beberapa waktu yang lalu? " Ryan bertanya pada nenek dan melihat nenek menghentikan aktivitasnya. Nenek menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara dengan Ryan.


"Dia datang ke sini untuk minta uang lagi" Ucap nenek.


"Apa, Uang... Apakah nenek tidak membayarnya? " Batin Ryan.


"Apakah nenek tidak membayarnya? " Ryan bertanya. Setelah beberapa detik nenek menatap Ryan dan ekspresi wajahnya sangat sulit untuk dimengerti.

__ADS_1


"Nenek membayarnya tapi dia meminta lebih banyak uang. Dia bilang dia akan membawa bayinya jika kita tidak membayar lebih banyak" Jawab nenek.


"Apakah nenek memberinya uang lagi? " Tanya Ryan. Neneknya tampak menjauh dari Ryan dan mengangguk.


"Nenek memberinya Ryan dan kamu tahu apa yang dia lakukan? " Nenek menatap Ryan dan berbicara dengan jijik.


"Apa itu? " Ryan bertanya karena penasaran.


"Dia tidak membayar uang untuk operasi pacarnya dan pacarnya sudah meninggal" nenek terus berbicara.


"Tidak.. tidak mungkin. Bagaimana dia bisa. Bukankah dia menjual tubuhnya untuk pacarnya? "Batin Ryan.


"Dan dia bahkan menemukan kekasih baru lagi" nenek berucap. Ryan hanya terdiam. Dia merasa Jantungnya berhenti.


"Pacar baru? " Gumam Ryan. "Bagaimana bisa seorang wanita begitu tidak berperasaan. Tapi saat aku melihatnya hari ini, dia tidak telihat bahagia, bahkan sebaliknya" Ucap Ryan memikirkan seuatu.


"Jika aku tahu dia wanita seperti itu, aku tidak akan membiarkannya melahirkan bayimu Ryan" Kata nenek. Tiba-tiba kebencian menguasai Ryan.


"Dia tidak pantas menjadi ibu dari anakku" Kata Ryan dengan jijik. Ryan tersenyum dingin karena penampilan Anna yang polos itu palsu. Wanita tak punya hati.


"Kenapa nenek malah tersenyum? " Batin Ryan. Dia merasa penasaran.


"Apakah nenek mengatakan yang sebenarnya? " Ryan bertanya pada dirinya sendiri sambil melihat senyum neneknya. Sesaat kemudian, nenek menyadari Ryan menatapnya, sehingga Nenek dengan cepat mengubah senyumnya menjadi sedih.


"Apa itu tadi? " Batin Ryan.


"Ryan pergilah mandi. Aku akan menjaga anakmu! " Nenek mengambil bayi Ryan dan masuk ke kamar. Pikiran Ryan sedang kacau. Ryan tidak percaya bahwa Anna wanita seperti itu dan Ryan bahkan tidak tahu namanya. Dan saat dia pergi hari ini. Ryan tidak percaya jika Anna membiarkan pacarnya mati. Ryan mengingat semuanya dan dia ingat cara Anna menangis di bawah tubuhnya waktu itu. Anna menangis karena Ryan melakukannya dengan kasar. Jantung Ryan mulai berdetak sangat cepat saat dia mengingat rintihannya. "Persetan... Lupakan dia... Dia juga sama seperti wanita lain yang hanya menginginkan uang.


Keesokan harinya, Ryan bangun dan dan bersiap untuk pergi kantor, tapi sebelumnya, iya akan menemui kakaknya Erza, karena salah satu teman Erza memberitahunya bahwa Erza mempunyai sesuatu untuk Ryan dan kakaknya, jadi Ryan penasaran. Ryan tidak bisa tidur semalam karena senyum Erza dan wajah wanita itu terus menghantuinya. Ryan merasakan perasaan sedih padahal tidak kenal kepada mereka.


"Aku terlambat. Aku bisa membayar biaya operasi Erza. Aku memang tidak berguna. Mungkin Erza menungguku" Ucap Ryan sambil melihat dirinya melalui cermin dan melihat matanya yang memerah. Ryan memejamkan mata dan menghela nafas. Setelah sarapan, Ryan mencium kening bayinya lalu pergi. Ryan tidak ingin melihat nenek dan dia tidak tahu mengapa itu terjadi. Dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. David menelepon dan memberi tahu alamat rumah Erza kemarin malam. Jadi Ryan pergi ke sana.


Ketika Ryan datang ke rumah Erza, yang terlihat adalah sebuah rumah kecil. Hati Ryan terasa ngilu karena berfikir bagaimana kakak Erza tinggal di sini tanpa adiknya. Tanpa pikir panjang lagi Ryan mengetuk pintu tapi tidak mendapat respon apapun. Ryan melakukannya beberapa kali tetapi tetap tidak ada jawaban. Ryan mencoba membuka pintu tapi pintunya terkunci. Lalu dia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang menatap Ryan dengan wajah ingin tahu.


"Bolehkah aku tahu di mana kakak Erza berada? " Ryan bertanya pada wanita paruh baya itu. Dia menatap Ryan sambil mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mencarinya? " Wanita itu bertanya dengan nada dingin. Ryan tidak tahu apa yang membuat wanita itu berbicara kepadanya seperti ini.


“Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya” kata Ryan singkat karena tidak ingin marah pada wanita didepannya ini.


"Dia tidak ada di sini" Setelah itu dia berbalik, pergi.


"Lalu di mana dia? " Ryan bertanya. Ryan benar-benar marah pada wanita ini tetapi tidak ingin menunjukkannya karena dia seorang wanita tua yang harus dihormati.


"Aku melihatnya pergi kemarin malam dan dia juga membawa koper besar. Aku pikir dia meninggalkan rumah karena kematian Erza" Kata wanita itu dengan wajah khawatir.


"Meninggalkan rumah. Kemarin hujan deras di malam hari jadi bagaimana dia pergi dan kemana dia pergi? " Gumam Ryan.


"Apakah Anda tahu di mana dia pergi? " Ryan sangat penasaran karena kenapa kakak Erza pergi dengan tiba-tiba.


"Tidak. Aku tidak tahu ke mana Rulianna pergi" Setelah berkata, wanita itu pergi.


"Ruliana. Apakah itu namanya. Itu nama yang indah tapi bagaimana aku bisa menemukannya? " Ryan menghela nafas dan memutuskan untuk pergi ke kantor sebelum terlambat.


Tiga Tahun Kemudian


Ryan sedang sarapan sambil menyuapi anaknya. Ezra sangat lucu dan sikapnya sangat berbeda dengan Ryan. Ryan yakin dia mewarisi sikap dari ibunya. Hati Ryan kembali menegang saat mengingat ibu Ezra. Setiap kali wanita itu muncul di pikiran Ryan, hatinya sakit. Sudah tiga tahun dan Ryan masih tidak bisa melupakannya. Dia muncul dalam mimpi Ryan setiap hari dan Ryan membencinya karena itu. Dia membuat Ryan jatuh cinta padanya. Ryan terus mencarinya tetapi tidak menemukannya. Ryan mencari dua wanita dan tidak dapat menemukan mereka berdua. Saudara perempuan Erza dan ibu dari anaknya.


"Daddy, Ahhh" Panggil Ezra tiba-tiba. Ryan tersadar dari lamunnya oleh suara manis Ezra.


"Maaf sayang" Setelah itu Ryan kembali menyuapi Ezra. Ezra tertawa senang. Tapi entah kenapa setiap kali Ryan melihat senyumnya selalu mengingatkan pada Erza. Erza memiliki senyum yang sama dengan Ezra. Mungkin Ezra memiliki senyum seperti ibunya. Ryan menghela nafas karena Ryan belum pernah melihat ibu Ezra tersenyum.


"Daddy, aku melihat mommy" Ezra berkata. Detak jantung Ryan seakan berhenti saat mendengar apa yang dikatakan anaknya.


"Melihat mommy Dimana? " Suara marah nenek.


"Kenapa dia malah marah? " batin Ryan, lalu menatap nenek dan melihatnya mengerutkan dahi pada Ezra, tetapi Ezra bahkan tidak memandang nenek sama sekali. Ezra bersikap sesuatu yang tak dimengerti oleh Ryan. Karena Ezra tidak suka pada nenek. Ezra tidak menyukai sentuhan nenek, suara dan semua yang dilakukan nenek, sama sekali tidak menyukainya.


"Daddy, mommy sangat cantik. Seperti mmmm. Uhhh dad apa nama yang kita panggil untuk seorang wanita cantik dengan sayap yang indah? " Ezra menatap Ryan sambil menunjukkan seluruh deretan gigi putihnya.


"Hahaha" Ryan memaksakan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2