
"Ryan. Jangan kesini, kamu menyebalkan" Seorang gadis kecil berusia enam tahun berteriak sambil mengerutkan kening pada Ryan.
"Kamu selalu datang ke sini dan makan apa yang ayah masak. Dia bahkan memberimu lebih dariku, jadi aku tidak menyukaimu" Teriak Mariana dan melemparkan segelas air ke arah Ryan. Ryan tersenyum karena ekspresi wajahnya.
"Aku akan datang ke sini setiap hari dan makan apa yang dimasak om Nolan" Ryan semakin menggoda Anna karena Anna sangat imut ketika sedang marah.
"KAMU...." Dengan itu Mariana berlari ke arah Ryan dan meraih tangannya lalu menyeret ke taman dan mendorong ke kolam.
"Ryan jelek..." Mariana memperhatikan Ryan dan tersenyum jahat. Dia selalu menggertak Ryan, tetapi Ryan tidak pernah merasa marah pada Mariana karena dia selalu berpikir bahwa Mariana bodoh dan keras kepala.
"Ya Tuhan Marianna. Kamu mendorongnya lagi ke kolam... Jangan lakukan itu lagi sayang" Itu adalah suara ibu dari gadis kecil itu. Rambut cokelat muda yang mencapai lutut dan mata cokelat yang indah. Dia adalah wanita yang sangat cantik.
"Dia memakan semua yang dimasak ayah" Marianna mulai menangis saat ibunya membantu Ryan memanjat keluar dari kolam. "Kamu tidak boleh memperlakukan Ryan seperti ini Marianna. Dia akan menjadi milikmu" Kenang Ryan. Mata Ryan terbelalak saat mendengar seseorang mengetuk jendela mobilnya. Ryan menoleh dan menatap Chris yang baru saja datang. Ryan menghela nafas panjang dan turun dari mobil.
"Ada apa? " Chris bertanya pada Ryan sambil bersandar di mobil.
"Ingat Mariana? " Ryan bertanya pada Chris sambil menatap langit yang dipenuhi bintang. Ryan bisa merasakan Chris menatapnya dengan penuh arti, tapi Ryan tetap menatap langit.
"Nona muda yang hilang dari keluarga Holland. Tentu saja aku ingat. Bagaimana aku bisa melupakannya ketika dia satu-satunya yang menggertakmu ketika kita masih kecil" Chris tertawa kecil saat berbicara.
"Ryan. Kenapa tiba-tiba? " Chris bertanya kepada Ryan dan Ryan menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.
"Ini dia. Rulianna" Ryan menatap Chris dan berkata saat melihat ekspresi terkejutnya. "Apa-apaan ini... Tidak.. Tunggu... Anna mirip dengan Mariana" Chris berkata dengan suara penuh penasaran dan dia melihat wajah Ryan. "Cari tahu apa yang terjadi padanya dan Erza. Erza adalah bayi yang di lahirkan tante Miara. Aku juga ada di sana ketika tante Miara membawa pulang bayinya yang baru lahir" Ryan masih ingat wajah bahagia Mark dan paman Nolan.
"Bagaimana kamu bisa mengenalinya Ryan? " Chris bertanya pada Ryan sambil mengeluarkan bungkus rokoknya dari saku.
"Anak Mark yang mengenalinya, tapi aku tidak bisa membiarkannya tahu apa-apa" Ryan menghela nafas dan mengambil bungkus rokok dari tangannya.
__ADS_1
"Kamu masih belum tahu Ryan. Mungkin anak Mark tahunya Anna mirip dengan Mariana" Kata Chris sambil menghela nafas kasar.
"Kamu benar. Aku masih belum mengkonfirmasinya, tetapi ada kemungkinan besar untuk hal itu. Dan Rulianna juga bilang dia tidak ingat masa lalunya dan dia mengalami kecelakaan dan itu membuatnya kehilangan ingatannya. Tidak ada yang tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Marianna dan adiknya. Mereka hanya tahu bahwa dia sedang bermain dengan kakaknya di taman sementara tidak ada seorang pun di rumah" Ucap Ryan.
"Apakah kamu bertanya padanya? " Chris bertanya pada Ryan, Ryan pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak... aku tidak bisa membiarkan dia tahu, dan aku tidak bisa membiarkan keluarga Holland mengetahui tentang dia. Mark dengan jelas mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan aku memiliki saudara perempuannya. Aku akan menikahinya besok dan setelah itu tidak ada yang bisa mengubah fakta bahwa dia adalah istriku" Ryan berkata.
"Tentu saja dia tidak akan pernah dan jika dia tahu apa yang terjadi pada Anna dan dia telah melahirkan seorang anak untukmu, dia akan menjadi gila karena kebencian" Ryan mengangguk pada Chris karena dia benar sekali.
"Aku akan menikahinya besok. Aku hanya akan mendapatkan akta nikah" Ryan menatap Chris dan berkata, Chris mengangkat alisnya.
"Apa-apaan ini? Apakah kamu akan menikahinya? " Ryan mengangguk pada Chris dan tersenyum.
"Kenapa... Cemburu? " Ryan bertanya pada Chris, dan Chris wajahnya menjadi gelap dan membuang muka.
"Kenapa aku harus cemburu. Aku punya wanita. Kalau aku mau, aku bisa menikahi salah satu dari mereka" ucap Chris dengan nada kesal.
"Tentu saja aku akan memaksanya untuk menikah denganku" Chris menatap Ryan dan menyeringai sambil mengangkat alisnya.
"Dia sahabat Anna. Aku bertemu dengannya hari ini dan dia bahkan menyalahkanmu di depan Anna" Senyum Chris membeku karena apa yang Ryan katakan.
"Apa... Kamu melihatnya. Dimana? " Chris bertanya pada Ryan dengan suara tidak sabar. "Sial... Bukankah Anna memintaku untuk tidak memberitahunya" Batin Ryan.
"Maaf..." Ryan tersenyum pada Chris dan berbalik untuk pergi.
"Brengsek kamu Ryan... Katakan, aku ingin melihatnya. Sudah seminggu dan aku masih tidak bisa menemukannya" Chris menghela nafas dan berkata.
__ADS_1
"Datanglah ke apartemenku besok pagi" Kata Ryan ketika dia mendengar Chris menghela nafas.
"Oke" Ryan mendengar Chris berkata. Ryan merasa kasihan pada Chris karena dia tidak tahu apakah Chris bisa mendapatkan wanita itu dan menikahinya seperti yang dia katakan. Dasar bodoh.
"Kau akan menemuinya besok. Sekarang pergilah dari sini" Ryan berbicara lagi dan dengan itu dia meninggalkan Chris di sana dan masuk ke dalam rumah. Ryan berjalan menuju kamar tempat Ezra dan Anna sedang tidur dan melihat Anna yang sedang memeluk Ezra dengan sikap protektif. Ryan masuk ke kamar dan menutupi mereka dengan selimut lalu mencium dahi mereka, setelahnya iya pergi ke ruangan lain. Ryan melihat waktu dan itu sudah satu tiga puluh di dini hari. Ryan duduk di tempat tidur dan mengeluarkan surat yang ditulis Erza untuknya dan membacanya lagi. Ryan tidak bisa mengendalikan rasa sakit di hatinya. Dia mulai menarik rambutnya dengan kuat. Dia ingin merasakan sakit karena saya juga menjadi bagian dari ini.
"Erza harus mati sebelum waktunya dan itu juga salahku" Air mata Ryan keluar saat mengingatnya.
"Dia tidak pantas hidup seperti itu. Erza adalah anak dari keluarga Holland. Mengapa semua menjadi seperti ini. Dia meninggal tanpa mengetahui orang tua kandungnya dan siapa dia sebenarnya. Bukankah itu semua karena nenek. Dia adalah orang yang melakukan itu pada Erza, tapi aku yakin ada seseorang di balik segalanya selain nenek. Bagaimana aku bisa meringankan rasa sakit ini. Aku tidak bisa, karena setiap kali aku memejamkan mata, pikiranku mengingatku bagaimana Erza tersenyum padaku hari itu" Ryan ingin meringankan rasa sakit di hatinya. Namun bagaimana caranya, karena bahkan dia tidak bisa bernapas dengan benar.
"Ryan seharusnya menemui Erza hari itu tanpa peduli dengan apa pun. Dia adalah seorang pasien kanker dan aku jelas tahu itu bukan. Aku melihatnya di tempat itu. Persetan... Sial" Tiba-tiba tanpa memikirkan apapun, Ryan segera melepas bajunya dan mulai menggaruk tubuhnya.
"Apakah itu terjadi padaku lagi. Sial..." Ryan menggaruk tubuhnya sekali lagi dan itu tidak membantunya sama sekali. Jadi Ryan bangun dari tempat tidur dan mengambil gunting dari meja Anna dan melukai tangannya. Darah mengalir keluar dari lukanya, tetapi Ryan tidak bisa merasakan sakit.
"Sial... Ini tidak bekerja juga" Ryan memutuskan untuk melakukannya sampai dia merasakan sakit dan ketika dia akan menggoreskan lagi. Tiba-tiba Anna datang.
"Ryan... Apa... Sedang apa? " Ryan mendengar suara Anna lalu memandangnya. Matanya merah dan mungkin baru saja bangun dari tidur dan tiba-tiba matanya menjadi basah saat dia menatap Ryan.
"Apa-apaan ini Ryan? " Dengan itu Anna datang kepada Ryan dan mengambil gunting dari tangan Ryan. Lalu Anna pergi ke jendela dan membukanya, setelahnya, iya melemparkan gunting itu keluar.
"Kamu berdarah... Kenapa... Apa yang terjadi? " Anna berbicara dengan air matanya yang keluar dari matanya.
"Apakah dia menangis untukku. Bagaimana jika dia mengetahui kematian adiknya dan dia kehilangan keluarganya karena keluargaku? Apakah dia akan meninggalkanku? " Ryan berkata dalam hati dan bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap Anna.
"Kamu terlihat cantik Rulianna" Ryan menggerakkan jari-jarinya ke wajah Anna dan tersenyum saat Anna menatapnya dengan wajah marah.
"Masih gadis kecil yang sama" Batin Ryan.
__ADS_1
"Diam... Bodoh" Dengan itu Anna menarik tangan Ryan dan membuatnya duduk di tempat tidur. Anna dengan cepat meraih tangan Ryan yang lain dan menyuruh Ryan menutupi lukanya dengan erat.
"Pegang erat-erat" Anna memperingatkan Ryan lalu meninggalkan ruangan.