Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
7 Bulan Setelah Kepergian Ryan


__ADS_3

"Daddy" Terdengar suara Raylie dan Ezra yang terdengar begitu senang.


"Apa? Daddy? Siapa yang mereka panggil Daddy? " Gumam Anna. Dia menyingkirkan semua barang-barang didepannya dan mencuci tangan sebelum keluar dari dapur. Anna berjalan menuju ruang tamu dan dia mendengar tawa Raylie. Ketakutan benar-benar merasuk dalam hatinya ketika dia mendengar anak-anaknya.


"Apa yang anak-anak ini lakukan? " Tanya Anna sambil berjalan. Setelah iya memasuki ruang tamu, seluruh tubuhnya membeku ketika dia melihat pria yang sedang duduk di sofa sambil memeluk Raylie dan Ezra. Anna memperhatikan mereka sebentar dan menggigit bibir bawahnya. Karena dia tidak bisa mengerti atau bahkan percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Sesaat kemudian mata biru yang familier itu menatapnya dengan senyum yang indah.


"Apakah aku sedang bermimpi? " Anna kembali melihat Raylie dan Ezra, mereka memeluk lelaki itu dengan begitu erat.


"Ryan? " Anna menatap mata Ryan dan berbicara dengan suara pelan. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Mungkin semua ini akan segera hilang dalam hitungan detik, karena Anna telah melihat banyak ilusi selama empat bulan ini dan semua itu hanya menyebabkan rasa sakit yang tak ada habisnya.


"Kemarilah" Ucap Ryan sambil melambaikan tangannya.


"Suara ini. Berapa kali aku membayangkan suara ini? Apakah dia benar-benar di sini atau ini juga hanya sebuah halusinasi yang kulihat. Dia benar-benar pulang? " Gumam Anna dalam keterketujannya. Dia memperhatikan Ryan sebentar dan tiba-tiba matanya menjadi basah.


"Aku tidak ingin terluka lagi. Dia tidak nyata" Anna menggelengkan kepala dan sambil mundur beberapa langkah untuk berbalik dan berlari ke lantai atas.


"Dia tidak Nyata Rulianna. Ryan sudah pergi. kamu membayangkan semuanya. Seolah-olah itu adalah nyata. Minumlah obatmu" Anna berkata pada dirinya sendiri. Pikirannya terasa kacau kembali. Dan dengan segera iya masuk ke kamar dan mengambil paket obatnya. Anna mengambil obatnya pada waktu yang tepat, tetapi sekali lagi hal itu terjadi. Anna masuk ke kamar mandi lalu mengisi segelas air. Iya kembali lalu mengambil semua obatnya. Anna segera memasukkannya ke dalam mulut untuk diminum. Tapi di saat yang bersamaan pintu kamar terbuka dan Ryan masuk.


"Rulianna... apa... Apa yang kamu lakukan? " Ryan berjalan ke arah Anna dan meraih dagu istrinya. Lalu dia mengeluarkan obat dan yang hampir di telan Anna lalu membuangnya.


"Dia nyata... bukan? Tapi aku bisa merasakannya" Ucap Anna sambil memperhatikan pria di depannya.

__ADS_1


"Apa ini? Mengapa kamu meminumnya? " Anna melihat wajah Ryan yang khawatir dan dia merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Karena setelah hampir delapan bulan, Ryan kini ada didepannya.


"Ryan.. apakah ini benar-benar kamu? " Anna bertanya pada pria di depannya dan memperhatikan wajahnya. Ryan mengangguk padanya dan mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Anna. Tapi sebelum dia bisa melakukan hal itu, Anna menampar wajah Ryan dengan keras.


"Kenapa dia tidak berbicara denganku dan memberitahuku jika dia selamat? " Batin Anna untuk memastikan jika itu benar-benar Ryan.


"Bajingan..." Ryan memperhatikan Anna dengan wajah terkejut dan kemudian matanya perlahan melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.


"Aku tahu kau pasti akan memukulku" Ryan tersenyum pada Anna dan berkata. Kemarahan memuncak dan darah Anna mendidih di dalam dirinya saat dia melihat suaminya masih menggoda setelah membuatnya menjadi yang sekarang.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku? Kenapa kamu membuatku seperti ini? Kenapa? Pergilah, aku tidak membutuhkan pria egois sepertimu. Setidaknya kamu bisa memberiku satu kabar saja. Hanya satu" Aku mendorongnya menjauh dan berteriak. Air mata mengalir dari mata Anna saat dia mengingat betapa sulitnya untuk hidup selama empat bulan ini dengan kenyataan bahwa Ryan tidak akan kembali ke hidupnya. Ryan menatap Anna dengan tatapan terluka, tetapi matanya melunak saat dia menarik Ana ke arahnya dan memeluk istrinya.


"Jantungnya berdetak.. Yeah.. dia hidup" Anna merasakan kebahagiaan dalam hati.


"Mereka bilang kamu... kamu tertembak dan jatuh dari tebing" Anna menatap suaminya dan berkata. Ryan memperhatikan Anna sebentar lalu mengangguk.


"Ya, aku memang jatuh dari tebing" Ryan tersenyum pada Anna dan membelai wajah Anna. Anna hanya bisa menghela napas dalam-dalam karena merasakan sentuhan Ryan kembali setelah hampir delapan bulan.


"Apa yang terjadi? Bagaimana ceritanya?" Anna bertanya kepada suaminya. Ryan menghela nafas dan tersenyum pada Anna.


"Aku punya sesuatu untukmu" Ryan memasukkan tangannya ke dalam saku kanan celananya dan mengeluarkan sebuah tas kecil.

__ADS_1


"Apa ini? " Anna bertanya pada Ryan dan menggigit bibir bawahku.


"Peluru yang menembus beberapa inci dari jantungku. Aku mengeluarkannya sendiri karena aku tidak ingin mati. Aku ingin kembali kepadamu dan anak-anakku. Kamu begitu bodoh dan naif, jadi bagaimana aku bisa meninggalkanmu? " Ryan terkekeh dan memberikan peluru tersebut kepada Anna. Ana mengambilnya dan mengamatinya dengan cermat.


"Peluru bajingan ini ... Aku benci..." Gumam Anna.


"Kamu mengeluarkannya sendiri? Bagaimana mungkin? " Anna mengalihkan pandangan dari mata suaminya dan bertanya karena Ana merasa sedih namun tidak ingin menangis.


"Aku membawa belati kecil disakuku, jadi benda itu sangat membantu" Tanpa sengaja Anna menatap Ryan dan melihat senyum di wajahnya. Lalu dengan cepat dia membuka kancing kemeja suaminya dan melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Hati Anna menegang saat melihat luka di dada suaminya. Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan menangis. Anna tidak bisa menghentikan tangisannya. Tubuh Ryan begitu sempurna, tetapi sekarang dia memiliki bekas luka yang mematikan di dadanya.


"Rulianna, jangan menangis. Maafkan aku. Hampir tiga bulan untukku bisa sembuh. Dan hari ini adalah hari aku melangkah keluar dari tempat aku tinggal. Jadi setelah aku keluar dari tempat itu, aku langsung datang ke sini untukmu dan anak-anak" Ucap Ryan. Anna mengangguk pada suaminya dan memeluknya begitu erat. Dia kembali dan itu sudah cukup. Cukup. Anna tidak sendirian lagi dan dia tidak perlu menangis di malam hari lagi.


"Tapi mereka menemukan mayat" Anna menatap Ryan dan berkata sambil menghela nafas.


"Entahlah. Yang pasti itu bukan aku. Aku jatuh ke sungai. Urghh.. aku tidak ingin mengingatnya" Jawab Ryan. Anna mengangguk pada suaminya dan tersenyum. Kemudian Ryan memperhatikan Anna sebentar. Seringai mesum muncul di wajahnya.


"Tidak... Ryan" Anna dengan cepat mendorong suaminya menjauh dan mencoba melarikan diri, tetapi sebelum dia bisa menjauh dari Ryan, Ryan meraih tangan Anna dan mendorongnya ke tempat tidur.


"Sudah lebih dari tujuh bulan Anna" Ryan berkata sambil mulai menggelitik istrinya. Anna hanya bisa tersenyum karena tindakan suaminya. Tiba-tiba Ryan menghentikan tindakannya dan menatap Anna. Dan kemudian pandangannya jatuh di atas kepala Anna. Wajahnya berubah dan tatapannya menjadi tajam. Tiba-tiba rasa takut menghampiri Anna saat dia tahu di mana Ryan melihat. Dia segera melepaskan diri dari cengkeraman Ryan dan mencoba bangkit dari tempat tidur.


"APA...APA INI... APA YANG TERJADI PADA TANGANMU? " Tanya Ryan sambil menatap tajam ke arah Anna.

__ADS_1


__ADS_2