
~Ryan~
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah tiga bulan sejak Ryan menikahi Rulianna. Memiliki Anna disetiap iya membuka mata dipagi hari adalah seperti syurga dalam hidup Ryan. Ryan merasa sangat bahagia karena dia memiliki anak dan seorang istri dalam hidupnya. Hanya satu yang menjadi beban di dalam hatinya saat ini, yaitu Chris. Setelah tahu bahwa Amelia meninggalkannya, Chris menjadi sangat hancur. Dia menjadi sangat emosian. Bahkan dia memukuli seseorang yang membuatnya marah. Dia ditangkap lebih dari 5 kali dalam sebulan ini. Chris mencari Amelia seperti orang gila. Dan Anna selalu mengatakan jika dirinya tidak tahu kemana Amelia pergi. Tapi Ryan dengan jelas mengetahui jika Anna menyembunyikan sesuatu. Terlihat rasa bersalah di matanya saat iya memandang Chris.
"Ryan, sarapannya sudah siap" Tiba-tiba Ryan mendengar suara Anna yang memasuki kamar. Dia sedang berganti pakaian. Anna terlihat selalu kelelahan ketika Ryan bertanya. Namun Anna selalu mengatakan jika mata Ryan bermasalah.
"Ayo kita sarapan" Ucap Ryan sambil meletakkan tangannya dipinggang Anna dan mencium kening istrinya. Anna tersenyum geli karena tingkah Ryan. Mereka turun ke bawah bersama, saat sudah berada di lantai bawah, mereka melihat Ezra yang sudah menonton film kesukaannya. Kartun spongebob.
"Daddy selamat pagi" Ucap Ezra. Terlihat putranya itu berdiri dan mendatangi dirinya dengan tersenyum manis. Ryan menggendong dan membawa putranya ke ruang makan lalu dengan perlahan menyuapinya. Saat sedang menyuapi putranya, tiba-tiba Anna berdiri dari kursi dan berlari sambil menutup mulutnya.
"Daddy, ada apa dengan mommy? Mommy kemarin juga seperti ini" Tanya Ezra dengan suara yang sedih. Hati Ryan membeku mendengar apa yang Ezra katakan.
"Kemarin, aku tidak tahu itu" Batin Ryan.
"Daddy akan melihat mommy dulu, kamu habiskan makanmu dulu ya" Ryan mencium kening Ezra, Ezrapun mengangguk dengan ekpresi yang khawatir. Ryan berjalan ke arah Anna, dan melihat istrinya sedang berada di kamar mandi.
"Sayang, ada apa? " Ryan bertanya. Anna menoleh terlihat tatapannya yang terlihat gugup. Ryan berjalan mendekat kearah Anna, meraih pinggang Anna dan membawanya keluar dari kamar mandi.
"Ryan, kamu tidak menggunakannya kan? " Tanya Anna saat mereka berjalan. Anna memalingkan muka dari Ryan dan menggigit bibir bawahnya.
"Menggunakan apa? " Tanya Ryan bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Pengaman... Kamu tidak menggunakannya kan saat kita melakukan itu? " Anna bertanya lagi. Sontak pertanyaan itu membuat jantung Ryan berdebar sangat kencang. Ryan tahu apa maksud Anna.
__ADS_1
"Apa kamu hamil? " Ryan bertanya dengan hati yang bergetar karena rasa bahagia.
"Entahlah... tapi kurasa aku tidak salah. Aku terlambat haid bulan ini" Jawab Anna. Ryan memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam karena ingin menenangkan hatinya yang bergetar hebat. Iya tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
"Ayo kita kerumah sakit, bersiaplah" Ryan berkata sambil mencium kening dan seluruh wajah istrinya.
"Kamu bahagia? " Tanya Anna. Ryan langsung menghentikan tindakannya dan menatap istrinya intens.
"Kamu ini bicara apa. Aku selalu menantikan ini. Aku sangat bahagia dan aku sangat mencintaimu" Ryan memeluk Anna dan mencium kepalanya. Ryan tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia saat ini.
"Apakah mommy baik-baik saja dad? " Tanya Ezra. Ryan menatap putranya yang terlihat meneteskan air mata. Ryan segera menghampiri dan menggendong putranya.
"Mommy baik-baik saja sayang. Kamu mau adik laki-laki atau perempuan? " Ezra memandang daddynya dengan penasaran, dia beralih menatap Anna yang sedang tersenyum.
"Aku suka adik perempuan seperti mommy" Ezra tertawa kecil dan menyembunyikan wajahnya di dada Ryan. Ezra perlahan memandang mommynya dengan pipi yang memerah.
"Bersiaplah" Ucap Ryan sambil tersenyum, Anna pun mengangguk. Saat Anna pergi kelantai atas untuk bersiap-siap, Ryan duduk di atas sofa sambil memejamkan matanya.
"Aku akan menjadi ayah lagi. Aku sangat ingin anak perempuan" Gumamnya. Setelah beberapa menit, Anna dan Ezra turun. Ryan segera berdiri dan menghampiri mereka.
"Ayo berangkat" Tutur Ryan. Mereka pergi ke rumah sakit. Ryan merasa sangat gugup. Iya ingin tahu semuanya. Ryan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Masih jam 8 pagi. Kemudian dia menoleh menatap istrinya yang duduk dengan tenang disampingnya. Ryan melihat putranya yang duduk di kursi penumpang. Terlihat dia sedang tersenyum lalu menutupi wajahnya dengan tangan kecilnya. Ryan kembali menatap Anna disampingnya yang menatap dirinya dengan tersenyum.
"Kenapa kamu terlihat tidak sabar, yang hamil itu aku" Anna berakata dan terkekeh sambil menepuk paha Ryan. Ryan pn fokus pada kemudinya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak sabar ingin melihat putri kecilku" Ryan berkata sambil meletakkan tangannya di perut Anna. Anna tertawa kecil dan mencubit pipi Ryan.
"Bagaimana kamu bisa memanggilnya putri kecil Ryan" Tanya Anna dan menghela nafas.
"Aku ingin seorang putri kecil dan aku akan memberikan segalanya untuknya" Ryan membungkuk dan mencium kening Anna.
"Jangan manjakan anak-anakku Ryan" Anna berkata sambil mendorong suaminya menjauh.
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan putri kecilku sama seperti mommynya sewakt kecil, beitu sombong dan jahat" Batin Ryan. Iya tersenyum mengingat kembali apa yang dulu pernah dialaminya. Ryan melihat lampu sdah berubah menjadi hijau.
Tak lama mereka telah sampai di rumah sakit. Ryan segera masuk keruangan dokter dan menyurh dokter untuk memeriksa Anna. Ryan menggendong Ezra dan menatap ke layar.
"Daddy, adikku dimana? " Tanya Ezra. Iya menatap Daddynya dengan mata bulat sempurna sambil tersenyum.
"Nah, ini dia, masih sangat kecil" Ucap dokter yang memeriksa Anna. Dokter itu menunjukkan sebah gambar kecil seperti bayi di perut Anna sambil tersenyum. Ryan menatap Anna yang sedang melihat kelayar monitor dengan senyum di wajahnya.
"Dia bahagia kan? " Batin Ryan.
"Nyonya Willian sudah hamil selama 6 minggu. Selamat tuan, sudah 6 minggu" Ucap dokter lagi.
"Kapan itu terjadi, aku tidak tahu jika Anna sedang hamil" Batin Ryan bahagia.
"Jadi aku menghamili Anna lagi. Anakku sekarang ada di dalam rahim Anna" Btin Ryan sangat bahagia.
__ADS_1
"Kapan bisa tahu jenis kelaminnya? " Ryan bertanya, dan dokter itu tersenyum pada Ryan.
"Setelah berumur 14 mingg tuan" Jawab dokter, Ryan mengangguk. Lalu iya menatap istrinya dan tersenyum. Senyum Anna, membuatnya terlihat semakin cantik.