
"Bagaimana dengan kesehatannya, apakah dia baik-baik saja? Apa aku harus melakukan sesuatu untuk menjaga kesehatannya? " Ryan bertanya kepada dokter, dan dokter menggelengkan kepalanya. Kemudian Anna mendekati suaminya dan melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
"Kesehatan nyonya William baik-baik saja" Dokter menjawab dengan ramah. Ryan mengangguk pada dokter tersebut lal keluar dari ruangan dan meninggalakan rumah sakit.
Begitu sampai di parkiran, Ryan membuka pintu mobil untuk istri dan anaknya. Iya membuka pintu belakang dan mendudukkan Ezra disana. Tiba-tiba Ezra Ezra bertanya.
"Tidak bisakah aku duduk dengan mommy? " Ryan menjawab dengan gelengan kepala. Bagaimana mungkin Ryan akan membiarkan Ezra duduk di pangkuan Anna.
"Tidak... Adikmu ada di dalam perut mommy. Kamu akan menjadi kakak, dan sebagai laki-laki kamu harus bisa melakukan semuanya sendiri di masa depan" Ryan menasihati putranya. Setelah Ryan mengatakan itu, Ezra mengangguk dengan tatapan serius menatap daddynya.
"Oke daddy, aku akan menjadi pria yang baik" Ezra berkata dengan serius. Ryan merasa ingin tertawa karena keseriusan di wajah Ezra, namun tidak mungkin Ryan melakukan itu. Dia sangat menyayangi anaknya. Karena Ezra sangatlah cerdas.
"Ryan... anak dalam kandunganku masih sebesar biji kacang, kenapa kamu bertingkah seperti ini? " Tanya Anna.
"Apa... Tidak... Anakku tidak sebesar biji kacang, siapa yang bilang, itu tidak mungin" Jawab Ryan. Anna menatap Ryan dengan heran lala menggelengkan kepalanya.
"Apa yang ingin kamu makan? " Tanya Ryan sambil mengusap perut istrinya dan tersenyum.
"Aku ingin makan anggur" Jawab Anna dengan penuh semangat.
"Anggur... Kenapa tiba-tiba ingin makan anggur" Tanya Ryan.
"Anggur... Yeeeey aku suka anggur" Ryan dan Anna mendengar Ezra berteriak, mereka lalu menatap kearah putranya.
"Bukannya anggur adalah bah favoritku, sama dengan Ezra. Tapi Anna..." Batin Ryan sambil berfikir.
"Ryan, aku tahu anggur adalah buah kesukaanmu, dan dulu aku hanya makan buah anggur saat masih mengandungnya" Tiba-tiba Anna berkata. Hati Ryan membeku saat mengingat Anna masih mengandung Ezra. Ryan bahkan tidak bisa melihatnya, apalagi bertanya apa yang dia inginkan dan apa yang ingin dia lakukan.
"Oke, aku akan membelikan anggur untukmu" Ryan berkata sambil membelai wajah istrinya dan tersenyum. Anna sangat manis. Tidak heran mengapa Ryan menginginkan anak perempuan sama sepertinya. Ryan menghentikan mobilnya di sebuah supermarket dan membelikan semua jenis anggur untuk istri dan anaknya. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Ryan berjalan kearah kasir dengan membawa sebuah tas besar berisi anggur untuk membayar. Namun dia merasa semua orang memandag ke arahnya.
__ADS_1
"Pindah..." Kata Ryan kepada seorang pria yang juga akan membayar sambil mendorongnya menjauh. Ryan tidak bisa menunggu sampai lelaki it selesai. Anna dan Ezra sedang menunggu dirinya.
"Pak, mohon tunggulah sesuai antrian" Seseorang menegurnya. Namun Ryan tidak bergeming.
"Tidak..." Sekali lagi Ryan mendorong lelaki itu menjauh dan meletakkan tas belanjaannya diatas meja kasir.
'Cepatlah... Istri dan anakku sudah menunggu" Kata Ryan, kasir itu pun mengangguk padanya dengan wajah ketakutan
"Ya Tuhan Tuan William. Senang melihat Anda datang berbelanja di sini" Seorang pria datang dan berbicara. Ryan hanya mengangguk padanya.
"Begitu banyak anggur" Lelaki itu menatap Ryan dan tersenyum.
"Eww.. lihat senyumnya. Kenapa rasanya aku ingin memukul wajahnya? Urghh lupakan" Batin Ryan.
"Boleh saya tahu mengapa Tuan William membeli anggur sebanyak ini?" Tanya lelaki itu.
"Untuk ku berikan padamu dan kemudian aku akan memberikan dirimu untuk makan buaya" Jawab Ryan dingin. "Apa hubungannya dia dengan barang-barang yang kubeli? " Gumam Ryan. Setelah Ryan mengatakan itu, wajah lelaki itu menjadi pucat dan dia dengan cepat pergi setelah meminta maaf kepada Ryan.
'Kenapa?" Ryan bertanya pada istrinya yang menghela nafas dan mengusap dahinya.
"Apakah aku memintamu untuk membeli semua anggur di supermarket itu, Ryan? " Anna berbicara dan mencubit tangan Ryan.
"Aku membeli untukmu dan Ezra" Ryan tersenyum pada istrinya. Anna berkata sambil memperhatikan Ryan mengangguk.
"Baiklah kalau begitu" Anna tersenyum dan mencium pipi Ryan. Ryan ingin sekalimeraih istrinya dan menciumnya, namun Ezra tidak akan tinggal diam dengan apa yang akan di lakukan daddynya, dia akan terus menganggu.
Setelah Ryan mengantar mereka pulang, Ryan langsung pergi ke kantor. Saat sudha memasuki rangan, iya melihat ayah dan Chris ada di sana. Ryan segera mendekat dan berbagi kabar gembira dengan mereka.
"Rulianna hamil. Baru enam minggu" Ryan tersenyum sambil memberitahu mereka, karena dia tidak tahu bagaimana menggambarkan atau menunjukkan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Selamat" Ayah Ryan dan Chris berkata bersama, tapi hatiku menegang saat mendengar kata itu. Ezra... Ryan tidak akan pernah bisa melupakan wajah bahagia Ezra ketika dia mengatakan kata itu kepada dirinya empat tahun yang lalu. Ryan memaksakan diri untuk melupakan rasa sakit di hatinya dan aku menatap Chris yang masih hancur karena wanita yang meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Ryan menghela nafas saat melihat bagaimana tubuhnya yang tegap menjadi kurus karena hal itu. Tidak ada yang bisa melihat perubahannya, tapi Ryan bisa melihatnya dengan jelas.
"Selamat Ryan" Ucap Chris dan dengan senyuman yang dipaksakan dan anggukkan pelan. Kemudian dia pamit dan meninggalkan kantor. Ryan menghela nafas dan menatap ayahnya yang sedang menatap dirinya sambil tersenyum.
"Berapa banyak anak yang kamu rencanakan bersamanya? " Ayah tersenyum pada Ryan dan Ryan juga membalas senyumannya.
"Sebanyak tim sepak bola" ayah Ryan tertawa saat anaknya mengatakan itu. Ryan melihat wajah ayahnyanya yang bahagia tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih.
"Ayah Ada apa? Kamu tidak pernah memberitahuku apa-apa" Ayah menatap Ryan dan menghela nafas.
"Ibumu meninggal saat dia mengandung adik laki-lakimu" Matanya memerah saat dia berbicara. Hati Ryan menegang saat mendengarnya.
"Meninggal... Bagaimana bisa? " Tenggorokan Ryan menjadi kering dan suaranya serak.
"Ayah tidak tahu apa yang terjadi. Yang ku lihat hanyalah mayatnya dan bahkan aku tidak tahu bahwa dia hamil anak keduaku" Ayah berbicara dan tiba-tiba mulai menarik rambutnya. Ryan bisa merasakan rasa sakit yang dia alami karena Ryan tah rasanya. Ryan belum pernah melihat ibunya dalam hidupnya. Ryan tidak ingat apa-apa.
"Dia dibunuh? " Ryan bertanya pada ayahnya saat dia menatap Ryan dengan mata penuh rasa sakit.
"Dia ditabrak truk dan dia sudah hamil selama empat bulan. Aku tidak bisa tinggal bersamanya karena aku pergi ke pedesaan selama dua bulan" Ayah memejamkan mata dan bersandar di sofa.
"Jika ibu masih hidup, aku punya saudara kan? " Batin Ryan.
"Apakah ayah mengetahui tentang kecelakaan itu? " Ryan bertanya kepada ayahnya karena hanya ingin tahu.
"Ayah melakukan segala cara untuk menemukannya dan masih terus mencoba tetapi tidak ada bukti. Yang ayah tahu adalah bahwa seseorang dengan sengaja membunuhnya dan adikmu" Ryan melihat wajah ayahnya yang hancur dan sedih. Ryan merasa hatinya sakit.
"Satu-satunya alasan aku terus hidup adalah kamu Ryan. Karena kamu satu-satunya yang dia tinggalkan untukku. Matamu selalu mengingatkanku padanya. Sangat cantik" Ayah menatap Ryan dan tersenyum. Ryan tidak sengaja tersenyum karena merasa bangga, dia terlihat seperti ibunya. Ryan hanya melihatnya di foto itu, tetapi dia adalah wanita yang sangat cantik.
Lima bulan berlalu dalam sekejap, dan perutt Anna terlihat sudah berisi. Dia sangat imut dan manis. Kita sudah tahu bahwa Anna akan melahirkan putri pertama dalam keluarga William. Seperti yang Ryan inginkan, bayi itu perempuan. Ryan keluar dari ruang kerja dan pergi mencari Anna. setelahmenemukan istrinya, Ryan melihat Ezra bersama mommynya sedang mencium perutnya. Tiba-tiba Ryan mendengar suara pesan masuk di ponselnya. Ryan mengeluarkan ponsel itu dari sakunya dan melihat jika pesan itu dari Chris.
__ADS_1
'Aku sudah menemukannya. Aku akan menidurinya karena meninggalkanku' Pesan dari Chris.
"Amelia? " Ryan menghela nafas karena dia tidak tahu apa yang akan sepupunya lakukan pada Amelia setelah merindukannya selama lima bulan, tapi Ryan yakin Chris tidak akan menyakiti Amelia.