Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Hanya Mamiliki Satu Ibu


__ADS_3

Setelah Anna menjauh dari tebing, Ryan segera meraih pinggang Anna dan memeluknya begitu erat sambil tertawa di telinga Anna. Ryan tidak akan pernah melepaskan wanita ini. Bagaimana dia bisa meminta Ryan untuk melepaskannya. Tidak mungkin.


"Kenapa aku lupa bahwa kamu pembohong sialan Ryan" Anna berkata sambil menggigit bahu Ryan.


"Sialan... kamu menggigit bahuku. Apakah kamu ini seekor anjing. Uurrgh, sakit" Ucap Ryan. Lalu Dia melepaskan Anna dan Anna menatap Ryan dengan wajah tanpa emosi.


"Aku berbohong karena aku ingin kamu menjauh dari tebing sialan itu" Kata Ryan lalu meraih tangan Anna dan menariknya berjalan menuju mobil.


"Ryan... Aku tidak ingin berdebat denganmu, tolong lepaskan aku. Aku tidak akan datang ke sini lagi dan aku tidak akan mengganggu kalian" Tatapan Anna berlinang air mata saat dia menatap Ryan.


"Apa... Ke mana dia ingin pergi? " Batin Anna. "Kamu mau kemana Anna? " Ryan berteriak pada Anna lalu menepis tangannya.


"Kenapa wanita ini begitu keras kepala. Kenapa dia tidak bisa mengerti? " Gumam Ryan.


"Di mana aku tinggal sebelumnya" Anna menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Lucu sekali.


"Oke, pergilah. Kupikir kamu mencintai dan menyayangi Ezra, dan kamu akan menghabiskan hari ulang tahun Ezra bersamanya. Jangan pernah datang menemuinya lagi" Kata Ryan sambil berbalik untuk pergi.


"Aku... Aku mencintainya. Bukankah kamu yang ingin mencarikan ibu untuknya Ryan. Apakah aku tidak memenuhi syarat untuk menjadi ibunya karena aku wanita miskin? " Jawab Anna. Hati Ryan menegang saat mendengar suaranya yang patah.


"Apa-apaan itu? " Ryan segera menoleh ke belakang untuk melihat Anna. Dan terlihat wajahnya memerah serta air mata mengalir di pipinya.


"Apa yang kamu bicarakan? " Ryan berjalan ke arah Anna dan menangkup wajahnya. Anna menatap Ryan sebentar dan membuang muka. "Kau menemukan wanita lain sebagai ibu baru untuk Ezra bukan? " Anna bertanya pada Ryan sambil memaksa air matanya kembali.


"Sial... Apa-apaan ini. Aku tidak pernah menemukan wanita lain" Batin Ryan.


"Aku tidak pernah menemukan seorang wanita untuk menjadi ibu Ezra. Apa yang kamu bicarakan Anna. Jika aku ingin wanita lain menjadi ibunya, mengapa aku membiarkannya bertemu denganmu? " Tanya Ryan sambil mengusap air matanya.


"Dan secara khusus aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa kamu adalah wanita miskin. Aku punya uang, jadi itu berarti juga punya kamu" Ryan mencium kening Anna dan berkata.


"Tapi aku melihat" Anna kembali mendorong Ryan dan berbicara.

__ADS_1


"Apa yang dia lihat? " Batin Ryan penasaran.


"Apa yang kamu lihat. Apa-apaan ini? " Pikiran Ryan kacau karena hal-hal yang Anna katakan padanya saat ini.


"Nenekmu menunjukkan fotomu dan Ezra dengan seorang wanita. Dia bilang kamu akan menikahinya dan dia bisa menerima anakku" Jawab Anna. Hati Ryan diselimuti kemarahan. Nenek menunjukkan gambar dan menceritakan hal-hal itu pada Anna.


"Anna dia mengatakan hal itu kepadamu, tetapi apakah aku pernah bertindak seperti aku akan menikahi seorang wanita dan menjadikannya ibu Ezra? " Ryan bertanya pada Anna dan saat itu juga Anna menatap Ryan.


"Tapi kamu tidak datang selama tiga minggu penuh Ryan, dan kamu bahkan membiarkan wanita lain menyentuh putraku" Anna berteriak pada Ryan dengan wajah penuh amarah. Ryan mengambil napas dalam-dalam dan meraih pergelangan tangannya lalu membawanya ke mobil. Wanita ini adalah sesuatu yang tidak bisa Ryan kendalikan.


"Kemana kau akan membawaku? " Tanya Anna. Namun Ryan mendorongnya ke kursi penumpang dan mengikat sabuk pengamannya sambil mengabaikan teriakannya. Ryan masuk ke mobil dan menatapnya.


"Aku tidak bisa datang karena sesuatu terjadi dan aku tidak membiarkan wanita sialan itu menyentuh anakku. Nenekku ingin aku menikahi wanita itu dan itu tidak berarti aku menikahinya Anna. Apa-apaan kamu ini... Ezra bahkan tidak menyukai wanita itu, begitu pun aku. Ezra hanya punya satu ibu dan itu kamu kenapa kamu begitu bodoh? " Ryan bertanya pada Anna. Tiba-tiba Anna mengerutkan kening pada Ryan.


"Aku tidak bodoh Ryan, yang bodoh itu kamu. Kamu bodoh" Ucap Anna.


"Apa... Itu kata-kata Ezra. Ezra telah mewarisi kata-kata mommynya dengan baik" Batin Ryan. Dia ingin tertawa karena mendengar Anna mengatakannya.


"Hentikan mobilnya. Aku ingin membeli sesuatu untuk Ezra" Anna berkata. Ryan menatap Anna dan mengangguk.


"Wanita ini sudah memperlakukanku seperti pelayannya. Tidak masalah selama aku bisa menjadikannya milikku" Batin Ryan sambil tersenyum. Dia menghentikan mobil di depan sebuah pusat perbelanjaan miliknya dan setelah Ryan menghentikan mobilnya, Anna turun dari mobil.


"Urghh wanita ini" Gumam Ryan


"Anna" Ryan turun dari mobil dan segera mengejar Anna. Saat Ryan sudah disampingnya, iya meraih tangan Anna.


"Kamu gila? " Anna seperti kucing yang sangat marah. Fikir Ryan.


"Kenapa dia selalu meneriakiku. Dia bahkan memukulku berkali-kali" Gumma Ryan sambil terus menarik tangan Anna.


"Ayo pergi bersama" Dengan itu Ryan melingkarkan lengannya di pinggang Anna dan juga menarik Anna mendekat padanya. Ryan tahu Anna ingin mengatakan sesuatu, tapi Ryan tidak mengizinkannya. Mereka berjalan di dalam pusat perbelanjaan dan Anna akhirnya berhenti di depan sebuah toko mainan. Ryan menatapnya dan melihat dia tersenyum sambil melihat mainan. Hati Ryan terasa dingin saat melihat senyum lembut Anna. Sangat manis. Kemudian Anna dengan cepat melihat ke arah Ryan dan tersenyum. Anna berlari ke toko itu. "Mengapa wanita ini sangat manis. Dia seperti anak kecil" Gumam Ryan sambil mengikutinya masuk ke toko dan berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Bolehkah aku melihat robot itu? " Anna bertanya sambil tersenyum pada pria yang ada di dalam toko.


"Sial... Kenapa Anna tersenyum padanya. Urghhh" Ryan bergumam tidak suka.


"Ya nyonya" Tidak lama setelah itu pria itu memberikan robot yang diambilnya pada Anna. "Aku ingin yang ini. Berapa? " Anna memeriksa beberapa bagian pada cover robot itu dan ternyata tidak ada hargannya.


"75.000 nyonya" Anna mengeluarkan dompetnya, tetapi sebelum Anna berhasil melakukannya, Ryan memberikan kartunya kepada penjual.


"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak punya uang untuk membeli hadiah untuk anakku sendiri. Aku tidak menginginkan uangmu" Ucap Anna. Dengan itu dia mengambil kartu yang Ryan berikan dari penjual dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.


"Mengapa wanita ini begitu berani. Dia bahkan berani memarahiku di depan karyawanku" Ryan bergumam sangat pelan tanpa bisa di dengar Anna.


"Tuan William" Ryan mendengar suara yang dia kenal dan segera melihat ke belakang. Dia melihat putra dari manajer di pusat perbelanjaan ini. Ryan mengangguk padanya dan menyadari matanya tidak tertuju pada Ryan, tapi pada wanita yang berdiri di samping Ryan.


"Beraninya dia melihat wanitaku" Ryan tak suka ada yang memandang Anna.


"Aku sudah selesai ayo pergi" Anna memberikan hadiah yang baru saja dia beli ke tangan Ryan dan memberitahunya.


"Apakah aku benar-benar pelayannya? " Batin Ryan sedikit kesal.


"Tuan William ini? " Ryan menatap pria yang masih menatap Anna seperti orang yang sangat mengagumi.


"Persetan kau bajingan" Batin Ryan. Lalu Ryan melihat wajah terkejut lelaki itu karena cara Anna memperlakukannya.


"Wanitaku" Dengan singkat menjawab pertanyaan lelaki itu, Ryan kemudian meraih pinggang Anna dan menariknya lebih dekat dengannya, Ryan menarik Anna pergi bersamanya. Lelaki itu menatap Ryan dan kemudian matanya menatap Anna lagi. Ryan berhenti lalu berkata.


"Apa yang kamu lihat. Tertarik padanya. Jika kamu ingin hidup tanpa mata, kamu dapat melanjutkan untuk tetap mengawasinya" Lelaki itu dengan cepat melihat ke bawah dengan ketakutan saat Ryan berbicara. Ryan benar-benar puas dengan tanggapannya.


"Maaf Tuan William. Saya salah" Kata lelaki itu menunduk. Ryan tersenyum smirk sambil berbelok ke kiri bersama Anna lalu perlahan melangkah pergi


"Apa yang barusan kamu lakukan Ryan. Apakah kamu penjahat atau apa. Bagaimana kamu bisa mengancam orang seperti itu? " Anna Sekali lagi berteriak.

__ADS_1


__ADS_2