
Setelah mengantarkan Ezra ke sekolah, Anna masuk dan berbaring di kamar. Fikirannya selalu memikirkan Ryan. Baru dua jam, namun rasanya sudah seperti 10 tahun tidak bertemu. Anna merindukannya, sangat merindukan suaminya. Sesaat kemudian, iya mendengar ponselnya berdering. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, Anna mengangkatnya. Ternyata Amelia.
"Amelia..." Anna langsung berkata ketika sambungan telepon sudah terhubung.
"Kenapa orang-orang itu tidak mencari orang lain saja untuk misi berdarah mereka yang sangat berbahaya itu? " Ucap Amelia tiba-tiba. Anna pun sebenarnya setuju dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Anna menghela Nafas panjang. Sebelumnya mereka menghabiskan waktu mereka dengan tenang dan damai. Namun tiba-tiba mereka datang mengajak suaminya untuk menyelesaikan sebuah misi.
"Iya, aku setuju denganmu" Jawab Ana sambil bersenandung.
"Apakah kamu mencoba menghentikannya juga? " Tanya Amelia.
"Iya.. tapi semua sia-sia" Jawab Anna. Iya lalu mengambil sebuah bantal yang biasa digunakan oleh Ryan lalu memeluknya erat-erat.
"Yaa, aku mengerti. Kalau begitu sudah dulu ya" Amrlia berkata dan setelah itu iya menutup panggilannya. Setelah panggilan berakhir, Anna membenamkan wajahnya dibantal Dan menghirup aroma manis rambut Ryan dalam-dalam.
"Uggghh... Aku benar-benar merindukannya. Dan aku menginginkanya disini" Gumam Anna.
Waktu berlalu, dan hari sudah malam. Setelah makan malam, Anna menidurkan Ezra dan Raylie. Setelah itu dia masuk kedalam kamarnya sendiri dan mandi. Dia mengambil salah satu kaos Ryan dan menggunakannya lalu naik ke tempat tidur. Anna bersikap biasa saja. Namun jauh dilubuk hatinya, dia kesepian tanpa Ryan. Anna tidak bisa jauh dari suaminya. Saat akan berbaring, Anna mendengar ponsel Ryan yang berdering. Anna segera mencarinya.
"Apa-apaan Ryan ini. Kenapa dia tidak membawa ponselnya. Dan apakah dia sedang menghubungiku? " Gumam Anna dengan kesal. Iya segera mengeluarkan ponsel Ryan dari saku jasnya. Setelah itu, Iya melihat siapa yang menghubungi, dan ternyata nomor baru.
__ADS_1
"Sudah larut malam seperti ini, siapa yang menghubungi? " Anna bergumam sendiri. Tanpa berfikir apapun lagi, Anna segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo" Ucap Anna. Namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Halo" Anna mengulangi untuk berbicara lagi, dan tetap tidak ada sahutan. Anna memutuskan untuk mematikan sambungan telepon. Namun saat akan memencet tombol mati, suara seseorang terdengar.
"Pergilah tidur" Ucap seseorang. Hati Anna berbunga-bunga dan merasa bahagia saat mendengar suara itu.
"Ryan... Apa kabar? Aku merindukanmu" Ucap Anna. Dan saat itu juga iya mendengar Ryan yang terkekeh. Anna benar-benar ingin Ryan berada disampingnya saat ini.
" Apakah kamu sangat merindukanku? Oh iya ini sudah sangat larut malam" Ucap Ryan.
"Apakah anak-anak sudah tidur?" Tanya Ryan dan Anna menjawab dengan senandung sebagai jawaban.
"Ponsel siapa yang kamu gunakan? " Tanya Anna karena pernasaran.
"Aku beli baru saat ingat ngga bawa ponsel" Jawab Ryan. Anna merebahkan badannya di atas tempat tidur sambil mendengarkan suara Ryan. Anna seperti sudah tidak mendengar suara Ryan selama bertahun-tahun.
"Foto selfie lah, dan kirimkan kepadaku" Ucap Ryan sambil menghela nafas. Anna mendengar itu, namundirinya merasa tidak yakin atas apa yang dia dengarkan.
__ADS_1
"Apa? " Anna kembali bertanya karena dia tidak yakin dengan apa yang dia dengar.
"Ambillah fotomu, lalu kirimkan ke aku. Aku ingin melihatmu" Ryan mengulangi ucapannya. Dengan pasti detak jantung Ana menjadi sangat cepat. Mengapa dia seolah merasa jika Ryan dan dirinya adalah sepasang kekasih dengan hubungan gelap.
"Oke" Ucap Anna. Dengan cepat Anna mengambil fotonya sendiri lalu mengirimkan kepada Ryan. Tak lama kemudian dia mendengar tawa suaminya.
"Kenapa kamu memakai bajuku? " Tanya Ryan. Entah mengapa Anna lupa. Tapi tak apa-apa, karena baju Ryan juga bajunya, fikir Anna.
"Aku merindukanmu Ryan. Tidak bisakah kamu diam-diam pulang dan menemuiku?" Anna tahu itu adalah sebuah saran yang bodoh, namun Anna benar-benar suaminya berada di sisinya.
"Aku akan kembali tiga bulan lagi. Aku sangat mencintaimu Anna. Aku tidak yakin biaa menghubungimu lagi. Karena tempat yang akan kita tuju sangat sulit ainyalnya. Jika ada kesempatan, aku akan sering menghubungimu" Ucap Ryan. Anna merasakan kekecewaan karena jawaban suaminya.
"Oke Ryan... Aku jauh lebih mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik. Jika ada bahaya datang, segeralah menjauh" Ucap Anna sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Oke sayang, aku akan menjaga diriku. Aku akan menutup teleponnya. Segeralah tidur" Ryan berkata. Setelah beberapa detik, panggilan pun berakhir. Hati Anna merasa koaong setelah telwpon dimatikan.
"Apakah aku terlalu bergantung kepadanya? Itu sebabnya aku tidak bisa hidup tanpanya. Bahkan baru sehari saja aku sudah tidak kuat menahan rindu. Atau memang cintaku kepada Ryan yang tidak ada batasnya" Anna bergumam dalam hati sambil menatap langit-langit kamar. Anna memejamkan mata sambil memeluk erat kemeja Ryan. Ini adalah pertama kali Anna tidur tanpa Ryan disisiny setelah menikah. Biasanya Ryan selalu ada untuknya. Bahkan saat dirinya berada di rumah Mark saat itu. Walaupun Ryan datang sudah larut malam. Setidaknya dia selalu ada untuk Anna. Namun Anna kali ini harus membiasakan diri tanpa suaminya selama kurang lebih 3 bulan.
Waktu berlalu, sudah tiga bulan Ryan mwninggalkan Anna. Sejak terkahir kali iya menghubungi Anna saat itu. Ryan belum pernah menghubungi Ana lagi. Anna sudah berkali-kali menghubungi suaminya. Namun semua kendalanya ada pada sinyal. Anna tidak bisa menenangkan fikirannya. Karena setiap hari tanpa Ryan selalu seperti sepuluh tahun baginya. Dua bulan sudah dilewati Anna sendiri tanpa Ryan. Namun jauh dilubuk hatinya, iya merasakan sekarat hari demi hari. Amelia pun juga mengatakan hal yang sama. Chris hanya menghubunginya sekali setelah itu sudah tidak ada lagi. Setiap hari Raylie menanyakan dimana daddynya. Bahkan putrinya itu menangis karena merasakan rindu kepada daddynya. Ryan terlalu memanjakan putrinya, sehingga saat ini Raylie pun tak bisa hidup tanpa daddynya. Anna tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan putrinya. Dan Anna sendiripun selalu tidak bisa berbuat apa-apa saat iya memikirkan keberadaan Ryan. Perasaan kehilangan Ryan tumbuh subur dalam jatinya. Anna tidak tahu mengapa. Namun tanpa alasan yang pasti, Anna merasa jika akan terjadi sesuatu yang buruk. Anna memaksakan diri untuk melupakan semua perasaan dan fikiran buruknya. Dia tidak ingin peduli apakah Ryan benar-benar akan kembali kepadanya atau tidak. Anna harus mennggu selama satu bulan lagi. Anna berfikir tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting. Karena Ryan sudah berjanji akan kembali lagi kepada dirinya.
__ADS_1