Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Kamu Mencuri Tante Dari Kami


__ADS_3

"Ryan bagaimana kabarmu? " Kakek bertanya pada Ryan. Dia menghela nafas dan menatap Anna yang memalingkan muka darinya.


"Dia marah kan? " Batin Ryan.


"Baik kek" jawab Ryan singkat sambil menatap Anna.


"Tentu saja, bajingan ini seharusnya baik setelah mengambil adikku sebagai rahim sewaannya, sialan" Hati Ryan menjadi dingin dan membeku ketika mendengar kata-kata Mark. Ryan yakin ucapan itu menyakiti Anna juga.


"Tutup mulutmu Mark, dia bukan rahim pengganti, dia istriku" Ryan mengerutkan kening pada Mark dan membalas ucapannya karena dia tidak ingin Anna berpikir bahwa dia hanya seorang yang menyewakan rahimnya.


"Ya, istri yang kamu curi dari keluarganya" Mark menyeringai pada Ryan dengan tatapan kebencian. Ryan tak mempedulikan itu, dan hanya membuang muka dari wajah Mark yang penuh kebencian.


"Hentikan Mark" Sekali lagi kakek berteriak sambil menatap Ryan dan Mark.


"Marianna, biarkan dia mandi di kamarmu. Gwen bawa pergi suamimu yang menyebalkan itu dan mandikan dia" Kakek menghela nafas dan berkata. Ryan menatap Anna dan Anna pun juga menatap suaminya. Ryan memaksakan tersenyum pada istrinya, tapi Anna malah membuang muka dan pergi ke kamarnya.


"Persetan... bagaimana aku akan membujuknya sekarang? "Batin Ryan.


"Aku akan bersama Marianna sampai bajingan ini pergi" Ucap Mark.


"Kenapa dia begitu menyebalkan? " Batin Ryan lagi.


"Mark" Kakek berteriak lagi pada Mati. Dan pada saat yang sama Ryan mendengar tawa pelan seorang anak kecil. Dia menatap anak Mark yang sedang cekikikan sambil menatap dirinya.


"Anak laki-laki ini sangat imut, tapi tidak semanis Ezra" gumam Ryan pelan tanpa didengar siapapun kecuali dirinya sendiri. Tanpa mempedulikan apa pun Ryan memasuki kamar Anna dan menutup pintu dengan seringai di wajahnya saat menatap Mark. Ryan yakin seringai itu membuat Mark menjadi gila. Aku menghela nafas sambil menutup pintu. "Mark mudah ditangani tetapi wanitaku ini benar-benar sesuatu" Ryan berfikir bagaimana caranya meluluhkan hati Anna.


"Nona William" Ucap Ryan dengan tersenyum manis pada Anna yang sudah duduk di tempat tidur sambil menatapnya dengan tatapan sangat marah. Anna menghela nafas panjang dan membuang muka.


"Anna dengarkan aku? " Ryan melangkah ke arah istrinya. Dia ingin menjelaskan semuanya pada Anna, mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya pada istrinya.


"Ryan. pergilah dan mandi" Anna hanya berdiri dari tempat tidur dan mencoba untuj pergi.


"Anna dengarkan aku" Ryan meraih tangan istrinya dan membuatnya duduk di tempat tidur lagi. Dia mencium kening Anna dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kehilanganmu. Itu sebabnya aku menyembunyikan semua kebenaran ini darimu. Tolong mengertilah aku" Ryan menghela nafas karena tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.


"Aku tidak tahu Ryan, kamu bisa saja memberi tahuku. Aku tidak pernah tahu jika aku punya kakak laki-laki dan juga saudara ipar, kakek, dan keponakan kecil. Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa kamu tidak ingin kehilangan aku?" Anna bertanya pada Ryan.


Sial, kali ini dia benar-benar marah.


"Baiklah, sekarang kamu sudah tahu itu. Ayo kita pulang sekarang. Ezra menangis" Ucap Ryan. Tatapannya perlahan melembut dan kemarahan itu hilang begitu Ryan menyebut Ezra. Ezra selalu menjadi penyelamatnya ketika Anna marah.


"Mandilah sekarang" Sekali lagi tatapan tajam Anna mengarahkan belati ke arah Ryan sambil menunjuk ke kamar mandi. Ryan mengangguk pada istrinya dan berdiri untuk pergi.


"Mau bareng sayang? Sudah lama kita tidak mandi bersama" Ryan tersenyum cerah pada istrinya karena dia sangat ingin menyentuhnya. Dia merindukan istrinya nya selama seminggu ini.


"Tidak... brengsek" Jawab Anna ketus. Ryan mengatupkan bibirnya dan mengangguk sambil memandang Anna yang memalingkan muka darinya. Ryan menghela nafas lalu pergi ke kamar mandi dan melihat dirinya melalui cermin.


"Sial, ew. Apa yang terjadi dengan wajah tampanku? Bagaimana aku menghadapi Ezra nanti? Sial.. tapi tidak apa-apa aku juga membuat wajah Mark seperti ini" Gumam Ryan. Dia segera mandi dan mengambil handuk lalu melilitkannya di pinggang dan berjalan keluar dari kamar mandi.


Saat Ryan keluar dari kamar mandi, sesuatu melayang dan mengenai wajahnya. Ryan segera menangkapnya. Ryan ingat jika itu adalah salah satu jaket basket lamanya yang biasa dia pakai ketika di sekolah, begitu juga dengan celananya.


"Bagaimana Anna bisa memilikinya? "Batin Ryan.


"Kamu menemukannya di dalam lemari itu?" Ryan bertanya pada istrinya karena Ryan terkejut dan tak mengira.


"Bagaimana itu bisa terjadi? " Gumam Ryan. Dia menatap Anna dan istrinya ituhanya mengangguk padaku.


“Kenapa kau mencurinya? Baik jaket maupun celanaku” tanya Ryan pada Anna karena ingin menggodanya. Tentu saja Ryan mencari jaket ini kemana-mana.


"Aku tidak mencuri. Aku bahkan tidak tahu" Anna mengerutkan kening pada Ryan. Ryan tersenyum pada Anna. Dia perlahan berjalan ke arah Anna dan meraih pinggang istrinya.


"Jadi kamu menyukaiku ya? Kamu naksir aku saat kita masih kecil. Tapi kamu mendorongku untuk pergi menjauh dengan bilang bahwa aku menyebalkan" Ryan membenamkan wajahnya di leher Anna sambil menciumnya dengan lembut.


"Kamu gila? Jangan bodoh, ganti saja bajumu ke dalam kamar mandi dan kesinilah lagi" Anna mendorong Ryan dan keluar dari ruangan ganti. Hati Ryan sangat senang, sangat senang karena dia baru saja menemukan fakta bahwa Anna juga menyukainya.


Setelah itu, Ryan mengenakan pakaiannya Lalu keluar dari kamar , dia melihat Mark sudah ada di sana dan menatap dirinya. Ryan balas menatap pada Mark dan menyeringai. Pandangan mata Mark tertuju pada apa yang Ryan kenakan. Pandangannya menjadi sejuk kembali, tiba-tiba matanya kembali menatap Ryan dengan tajam.

__ADS_1


"Lihat, dia menyimpan pakaianku selama ini" Ryan mengangkat alisnya dengan tatapan bangga. Mark memperhatikan Ryan dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan lalu berjalan melewati Ryan.


"Sebaiknya kau pergi sekarang" Ucap Mark. Ryan mendengarnya tapi seolah tidak peduli.


"Aku tidak akan pergi tanpa Rulianna" Balas Ryan.


"Ryan, ayo" Panggil Anna. Ryan memandang istrinya dan melihat Anna yang membawa kotak P3K. Ryan tersenyum pada istrinya dan berjalan ke arahnya. Terlihat senyuman kecil di bibir Anna.


"Dia masih marahkah? " Batin Ryan. Ryan duduk di sofa dan Anna mulai membersihkan lukanya dan mengoleskan obat. Ryan melihat anak Mark sedang menatap dirinya. Dia tersenyum pada Myles yang berjalan ke arahnya lalu melingkarkan lengannya di rok Anna.


"Daddy hebat, dia membalaskan dendamku" Ryan ingin tertawa karena apa yang Myles katakan. Ryan tahu dia sedang membicarakan adegan Ezra yang memukulinya hari itu.


"Myles, sayang kamu belum ngantuk?" Anna tersenyum pada keponakannya dan bertanya.


"Sial, senyum itu. Aku sangat merindukannya" Batin Ryan sambil menatap Anna.


"Belum" Myles tersenyum pada Anna, kemudian beralih menatap Ryan dan mengerutkan kening.


"Tante, apakah putri kecil di perutmu itu untukku?" Tanya Myles.


"Apa-apaan pertanyaannya itu" Gumam Ryan kesal.


"Tidak... dia milikku" kata Ryan. Myles menatap dan mengerutkan kening pada Ryan.


"Bagaimana dia bisa menanyakan sesuatu seperti itu" Gumam Ryan.


"Tapi kamu sudah tua. Daddy bilang kamu sudah mencuri tante dari kami" Bibir itu bergerak, Ryan memperhatikan Mark kecil di depannya. Cara bibirnya bergerak dan wajahnya semua sama dengan Mark.


"Tentu saja, karena bocah ini putranya" Batin Ryan sambil menatap Myles


"Tapi itu tidak berarti kamu bisa memilikinya" Ryan juga mengerutkan kening pada Myles saat Myles menatapnya dengan wajah yang marah. Sangat imut.


"Ryan, kamu masih kecilkah? Hentikan" Kata Anna sambil memukul kepala Ryan pelan.

__ADS_1


"Aduh, Anna kamu baru saja memukul kepalaku untuk anak nakal ini" Ucap Ryan pelan.


"Sial... mengganggu saja" Batin Ryan.


__ADS_2