Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Melahirkan Putri William


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan kepadanya? Kenapa dia bisa sampai melarikan diri dan berlari ke jalanan" Ryan tiba-tiba berbicara. Dan iya membayangkan siksaan apa yang telah diberikan kepada Mariana saat diculik.


"Aku tidak melakukan apa-apa kepada seorang gadis kecil. Dia melarikan diri karena ingin mencarikan susu untuk adik laki-lakinya. Sebenarnya dia sudah meminta kepada seseorang disana namun tidak di beri. Jika aku ada di sana Aku akan memberikannya. Aku akan memerintahkan orang-orang suruhan ku untuk tidak mengabaikan gadis kecil itu. Aku sangat menyesalinya" Jawab laki-laki itu sambil menunduk. Terlihat jelas penyesalan di wajahnya. Namun yang menjadi perhatian Ryan adalah laki-laki itu adalah penyebab dari semua musibah ini. Ryan menatap ke arah mark dengan bingung. Terlihat Mark yang mengepalkan tinjunya dan matanya yang terlihat merah. Semua ini terlalu sulit untuk Mark. Karena dia sangat menyayangi kedua adiknya melebihi dia menyayangi orang tuanya sendiri. Ryan masih ingat jika Ruliana adalah segalanya untuk Mark.


"Kamu tahu, hukuman apa yang pantas untukmu. Kamu harus mati" Mark berkata dengan sebuah senyuman. Dan dibalik senyuman itu, ada ungkapan rasa sakit dan sebuah kebencian yang mendalam.


"Di mana ibumu" Ryan kepada lelaki itu sebelum melakukan sesuatu kepadanya. Lelaki itu menatap Ryan sambil menyeringai.


"Kamu tahu... Nenekmu sangat banyak membantuku. Sungguh sia-sia membunuh wanita secantik dia. Ayahmu dan ayahnya benar-benar mendapatkan wanita yang terbaik sebagai pendamping hidupnya" Hati Ryan membeku mendengar apa yang diucapkan pria di depannya itu dengan wajah menyeringai.


"Bajingan" Ucap Ryan sambil mengepalkan tangannya. Sebelum Ryan berhasil memukul orang itu, asisten Mark datang sambil membawa sebuah dokumen di tangannya. Dia memperhatikan Ryan dan Mark sebentar lalu menyerahkan Dokumen itu kepada Mark. Mark memperhatikan dokumen itu sebentar, lalu melemparkannya ke arah Ryan. Ryan dengan cepat menangkap dokumen yang dilemparkan oleh Mark lalu memeriksa isinya. Suatu hal mengejutkan Ryan dengan tiba-tiba. Pria itu bukan anak laki-laki dari kakek Holland. Bahkan DNA nya nya saja tidak cocok.


"Bajingan ini telah sia-sia melakukan semuanya" Batin Ryan sambil memandang ke arah pria itu dan juga Mark. Batin Ryan sambil memandang kearah pria itu dan juga Mark.


"Bajingan... Ibumu telah berbohong. Kamu bukan putra dari keluarga Holland. Pasti ibumu adalah seorang pelacur... Lihat itu" Mark berteriak kepada pria itu dan Ryan melemparkan Dokumen itu kepadanya. Dengan tangan gemetar karena ketakutan pria itu memeriksanya.


"Ibumu pasti tidur dengan seorang pria dan itu bukan kakekku. Dasar idiot. Kamu akan segera mendapatkan hukuman yang setimpal" Mark Berkata sambil menjambak rambut lelaki itu.


"Bawa dia ke penjara. Dan bawa semua catatan. Tunjukkan pada mereka semua. Beritahu mereka untuk memberikan hukuman yang terbaik dan yang paling menyakitkan untuknya. Satu lagi jangan biarkan dia mati" Kata Mark kepada asisten pribadinya. Dan pada saat yang sama Ryan mendapatkan telepon dari orang rumah.


"Tuan muda tolong cepatlah kembali. Air ketuban nona muda sudah pecah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Nona muda akan segera melahirkan" Suara seorang pelayan dari seberang telepon yang mengatakan kepada Rian. Entah mengapa detak jantung Rian berpacu lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


"Bukanya HPL masih Minggu depan? " gumam Ryan di dalam hati.


"Baiklah aku akan segera kembali" Ucap Ryan sambil menatap Mark yang sudah menatap dirinya.


"Ruliana akan melahirkan aku pergi sekarang" Ryan berkata lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Mark. Ryan dengan segera keluar dari apartemen Mark dan menuju ke rumahnya dengan cepat. Setelah sampai di rumahnya ia melihat anak yang ditemani oleh bibi. Beruntung sekali bibi berada di rumah Ryan karena bisa membantu Anna.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit" Ryan dengan segera menggendong Anna turun melalui lift tanpa melewati tanggal.


"Ryan sakit... Sakit... Aku tidak kuat" Anna menangis sambil mencengkeram baju Ryan dengan erat-erat.


" Tolong bertahanlah sayang" Ryan dengan segera membawa anak ke dalam mobil. Iya sudah sampai di dalam mobil ia menyuruh sopirnya untuk mengemudi. Tak lama mobil Ryan pun sampai di rumah sakit. Begitu Rian turun dan masuk ke rumah sakit, ia melihat beberapa dokter dan perawat yang sudah menunggu. Ternyata bibi sudah memberitahu mereka jika Nyonya William akan melahirkan.


"Daddy" Ryan mendengar suara Ezra. Dia pun segera menoleh dan mendapati Mark yang sedang bersama putranya. Ryan benar-benar melupakan Ezra karena pikirannya terus memikirkan Anna.


" Lihatlah... Sebentar lagi Nona muda kecil akan segera lahir" Ryan berkata kepada putranya yang terlihat tidak sabar.


"Terima kasih Daddy telah memberitahu mommy" Ezra tertawa pelan sambil menatap ke arah Ryan. Terlihat senyumnya yang sangat menawan.


"Mark kamu pulang lalu membawanya kesini? " Tanya Ryan kepada Mark. dan Mark pun mengangguk kepada Ryan.


" Terima kasih" Ryan mengucapkan itu sambil tersenyum namun Mark malah membuang muka. Tentu saja dia masih marah kepada Ryan karena menikahi adiknya tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak masuk? " Tanya Mark dengan ekspresi penasaran dan penuh kekhawatiran. Ryan pun tersenyum dengan paksa.


"Aku takut... Aku aku juga takut melihatnya kesakitan" jawab Ryan jujur. Itulah sebabnya Mengapa Ryan tidak ingin masuk. Dia terlalu gugup menghadapi situasi seperti ini.


Sudah hampir 1 jam mereka menunggu Ruliana di luar ruang operasi. Begitu dokter keluar dari ruangan tersebut, segera melangkah dan menanyakan istri dan anaknya dengan detak jantungnya berpacu lebih cepat.


" Istri dan anak anda sangat baik dan sehat tuan William. Anda bisa melihatnya sekarang juga" Ucap dokter saat berdiri di depan Ryan. Bahkan Ryan pun belum sempat menanyakan apa-apa nomor dokter sudah paham dengan apa yang harus dilakukan. Dokter tersebut Berkata sambil tersenyum. Ryan mengangguk kepada dokter itu setelahnya iya menoleh ke arah Mark dan terlihat Mark yang mengangguk kepadanya.


" Ezra Ayo kita masuk" Ryan menggandeng tangan putranya dan mengajaknya masuk ke ruang operasi untuk melihat Ana. Hal pertama yang dilihatnya adalah Ruliana yang sedang kesakitan. Rambut yang menutupi wajahnya serta wajah yang pucat pasi seperti hantu. Ryan bisa dengan jelas melihat bahwa istrinya kesakitan dari ekspresi wajahnya. Ryan teringat disaat Anna melahirkan Ezra. Dia tidak ada di sana. bahkan Ryan menyakiti anna dengan menggunakan Ezra. Namun Anna memberikan seorang anak lagi kepada dirinya. Anna menjadikan Ryan ayah dari seorang putri kecil yang sangat cantik. Ryan pun perlahan berjalan mendekati Ana dan membelai wajahnya dengan lembut.


" Ryan..." ucapan Anna sambil membuka matanya yang terlihat memerah. Mungkin Anna baru saja menangis.


" Ruliana Terima kasih untuk semuanya" Ryan mencium kening anak dengan lembut. Ryan Benar-benar harus berterima kasih kepada Anna karena dia telah membuat Ryan menjadi lelaki yang sempurna.


"Terima kasih untuk semuanya mommy" Ezra mengulang kata-kata yang diucapkan oleh Ryan untuk Ana lalu mencium kening mommynya. Anna dan Ryan pun tertawa karena tingkah putranya itu. Tak lama kemudian Seorang perawat datang dengan membawa bayi yang baru dilahirkan Ana. anak bangkit dan bersandar di kepala tempat tidur Ryan pun turut membantunya untuk bangkit. Setelah itu Ryan mengambil bayi dalam gendongan seorang perawat dan memberikannya kepada Ana.


"Coba tebak warna matanya" ucap Anna di saat bayinya sudah berada dalam gendongannya. Ryan berfikir jika warna mata yang dimiliki putrinya adalah warna abu-abu yang sangat indah seperti yang dimiliki oleh mommynya.


"Seperti warna matamu" jawab Ryan. Dan di saat yang sama Mark pun masuk ke dalam ruangan. Pandangan Ruliana tertuju kepada Mark sambil tersenyum.


"Coba tebak warna matanya kakak" ucap Anna kepada mark. Ini adalah pertama kalinya Anna memanggil Kakak kepada Mark setelah mereka bertemu.

__ADS_1


__ADS_2