Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Aturan kontrak


__ADS_3


Rulianna -



Anna melihat anaknya. Sangat lucu dan menggemaskan. Anna memaksakan diri untuk menahan air mata karena dia tidak ingin menangis. Sudah tiga tahun dan Ezra telah tumbuh dengan baik. Ezra terlihat seperti daddynya. Emosi melonjak dalam diri Anna. Dia ingin pergi dan memeluk Ezra lalu mengatakan bahwa aku ibunya. Anna sangat merindukan Ezra dan setiap malam selama tiga tahun ini, mimpi Anna selalu dipenuhi dengan anak dan adiknya. Anna melahirkannya, tetapi Ezra tidak tahu tentang ibunya. Segera setelah Anna mendengar bahwa Ryan William datang dengan putranya, Anna datang untuk melihat putranya. Anna melihat putranya dengan berlinang air mata dan dia tersenyum karena Ezra tak membiarkan siapa pun menyentuhnya kecuali Daddynya. Anna ingat hari pertama dia membawa Ezra ke dalam pelukannya. Anna telah kehilangan bayinya.


Mereka berada di tengah aula dan tidak ada yang bisa menjangkau mereka karena pengawalan yang mereka miliki di sekitar mereka.


"Bagaimana Aku bisa bertengkar dengan keluarga William karena anakku. Tidak ada yang akan memihakku dan aku tahu aku pasti kalah" Anna berkata dalam hati. Dia terus memperhatikan Ezra, dan setelahnya, Anna mengalihkan pandangannya ke Ryan yang sedang menatapnya. Anna tidak merasa takut lagi pada Ryan. Semua orang takut padanya, tetapi Anna tidak takut pada pria ini karena Ryan telah membuat Anna kehilangan semua yang dia cintai. Anna menatap Ryan saat matanya menjelajahi tubuh Anna. Anna ingin tertawa karena Ryan bertingkah seperti pria yang baik sambil menyembunyikan sisi binatangnya. Tetapi tanpa alasan yang jelas, detak jantung Anna meningkat setiap kali Ryan ini menatap matanya.


"Jangan jatuh cinta pada dia! " Anna berbisik memperingatkan dirinya lagi. Anna mengabaikan tatapan Ryan dan menatap Ezra lagi. Ezra melihat lampu yang tergantung di atap dengan senyum lebarnya. Imut sekali. Hati Anna tertutup cinta untuk Ezra. Tiba-tiba, Ryan membungkuk dan mengambil Ezra sambil mencium pipinya. Anna tahu Ryan sengaja melakukannya. Ryan ingin menyakiti Anna. Anna melihat Ezra tersenyum saat Ezra melingkarkan lengan kecilnya di leher daddynya. Anna bisa merasakan cinta yang Ezra miliki untuk Daddynya. Anna tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang dirasakan saat ini. Anna melihat Ryan saat itu Ryan menyeringai pada Anna. Ryan berbalik dan pergi dengan Ezra. Anna ingin mengejarnya dan mengambil Ezra darinya, tetapi Anna tidak bisa karena pengawalan yang dimiliki Ryan. Perlahan Anna berjalan keluar dan berhenti di depan taman. Anna membungkuk dan memetik bunga tulip merah lalu menatap bunga itu. Anna tidak bisa menahan air matanya karena hari demi hari kenangan menyakitkan itu semakin membunuhnya. Anna menunggu di sana selama lebih dari sepuluh menit dan memutuskan untuk pergi, tetapi sebelum Anna berbalik dan meninggalkan tempat itu, seseorang menutup mulut Anna dengan tangan dan meraih menyeret pinggang Anna. Anna meronta-ronta tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman yang kuat itu. Anna memperhatikan siapa orang itu dari aroma tubuhnya.


"Ryan... Bajingan" Ucap Anna. Ryan menyeret Anna ke sebuah ruangan yang gelap lalu mendorong Anna ke dinding dan melepaskannya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? " Anna berteriak pada Ryan begitu dia melepaskan Anna.


"Ssst... Jangan teriak" Ryan sedang membungkam mulut Anna dengan telapak tangannya dan berbicara dengan suara rendah "Bajingan gila... Apa yang kamu inginkan? " Anna bertanya lagi pada Anna setelah berhasil melepaskan tangan Ryan yang membungkamnya. Anna tidak ingin menarik perhatian siapa pun jadi dia berbicara dengan suara yang pelan.


"Aku... aku ingin melihatmu" Ryan menatap mata Anna dan berbicara. Detak jantung Anna berpacu dengan cepat saat dia mendengarkan Ryan berbicara. Anna mengalihkan pandangan dari mata tajam Ryan. Detak jantung Anna menjadi lebih cepat berdetak.


"Sial... pria ini sangat tampan, tapi... Tidaaak, Dia menghancurkan segalanya" Batin Anna. Tiba-tiba Ryan melingkarkan tangannya di pinggang Anna dan menekan tubuhnya ke tubuh Anna. Ryan mulai mencium leher Anna. "Mesum" Ucap Anna saat tahu Ryan mulai terangsang. Anna mencoba mendorong Ryan untuk menjauh tapi gagal.


"Biarkan aku mesum" Jawab Ryan. Anna memukul dadanya dan memberitahunya. Anna mendengar Ryan tertawa dan itu membuatnya marah.


"Pergi Ryan" Dengan begitu, Anna berhasil mendorong Ryan menjauh. Ryan menatap Anna dan sekali lagi meraih pinggangnya.


"Apa aku harus takut padamu? " Ucap Anna. "Aku tidak keberatan menamparmu lagi" Anna menatap Ryan dan berbicara. Ryan menyeringai pada Anna dan menggerakkan ibu jarinya di bibir Anna.


"Kamu adalah wanita pertama yang memperlakukanku seperti ini" Dengan itu Ryan menekan bibirnya ke bibir milik Anna.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? " Gumam Anna.


"Mmphh... Tidak..." Anna mencoba mendorong Ryan menjauh tapi tidak bisa. Ryan mengambil kesempatan itu untuk mendorong lidahnya ke dalam mulut Anna. Ryan meraih tengkuk Anna dan memperdalam ciumannya. Perlahan ciuman itu menjadi ciuman yang penuh gairah. Yang bisa Anna dengar hanyalah suara ciuman basah dan kasar. Anna ingin mendorong Ryan menjauh, tetapi semakin Anna meronta, semakin Ryan mengeratkan cengkeramannya di tubuh Anna. Jadi Anna menunggu sampai Ryan selesai. Setelah beberapa menit Ryan menghentikan tindakannya. Setelah Ryan berhenti, Anna mengangkat tangannya untuk menampar Anna karena dia sangat marah pada Ryan.


"Kamu pikir aku akan membiarkanmu menamparku untuk ketiga kalinya? " Ucap Ryan sambil memegangi pergelangan tangan Anna.


"Mau ketemu anakmu? " Tanya Ryan. Jantung Anna seperti berhenti sejenak dan dia merasakan kebahagiaan. Tanpa sengaja bibirnya berubah menjadi senyuman. Anna menatap Ryan dan mengangguk.


"Ya, Bolehkah? " Anna tahu dirinya tersenyum setelah tiga tahun mengalami kesedihan. Anna sangat ingin melihat anaknya. Bayi laki-lakinya.


"Biarkan aku bercinta denganmu sekarang dan aku akan membiarkanmu melihatnya" Ryan berkata dengan senyum smirknya. Semua harapan Anna runtuh saat dia mendengar suara Ryan yang kejam. Hati Anna sakit karena dia percaya Ryan akan membiarkannya melihat anaknya. Tetapi mengapa Anna lupa bahwa Ryan adalah pria yang tidak berperasaan. Air mata menggenang di mata Anna karena merasa kasihan pada dirinya sendiri. Anna tidak ingin menangis di depan pria ini tapi dia tidak bisa menahan air matanya.


"Lepaskan aku. Aku tidak akan muncul di depanmu lagi dan aku bukan pelacur" kata Anna sambil menyeka air mata yang mengalir dari matanya.


"Kenapa dia melakukan ini padaku. Apa karena aku melahirkan anaknya? " Batin Anna.

__ADS_1


"Aku... aku..." Ryan mencoba berbicara tetapi Anna memotongnya lalu menatap Ryan dan berbicara.


"Saya ingat aturan kontrak itu Tuan William. Saya minta maaf karena melanggarnya. Itu hanya karena saya ingin melihat anak yang saya lahirkan" Anna menatap mata Ryan dan berkata. Mata Ryan memerah dan Anna tahu Ryan marah padanya. Setelah itu anna mendorong Ryan untuk menjauh dan segera berlalu pergi.


__ADS_2