Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Tidak Akan Pernah Melepaskan


__ADS_3

Setelah Chris pergi ke kamarnya, Ryan menunggu di sana sebentar dan masuk ke kamarnya. Ryan mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan berbaring di tempat tidur. 'Selamat tuan' Begitu Ryan memejamkan mata untuk tidur, kata-kata Erza berulang-ulang terdengar di benaknya bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa di hatinya.


"Persetan... Urgh... Kepalaku sakit" Ucap Ryan. Iya bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar Erza. Ryan melihat pada anak yang Anna lahirkan.


"Urghhh.. Sialan" Umpat Ryan.


"Kenapa aku begitu bodoh" Ryan berbaring di samping Ezra dan memeluk putranya begitu erat, tetapi Ryan tetap tidak bisa tertidur. Ryan memikirkan segalanya dan setiap ingatan membuat hatinya sakit. Hingga pagi menjelang iya tak dapat memejamkan mata barang sebentar.


"Akhirnya pagi. Urghh... Kepalaku sangat sakit. Sial... Aku tidak bisa tidur sepanjang malam" Gumam Ryan. Setelah itu Ryan bangkit dari tempat tidur dan menatap Ezra yang masih tertidur nyenyak. Hati Ryan melunak karena putranya. Ryan keluar dari kamar Ezra dan masuk ke kamarnya sendiri. Dia cepat-cepat mandi dan mengenakan kemeja hitam biasa dan celana hitam. Ryan memasukkan kemejanya sedikit ke dalam celana. Setelah selesai Ryan melihat jam dan sekarang sudah jam enam pagi. Ryan tahu Chris juga tidur di jam seperti ini, jadi Ryan diam-diam meninggalkan rumah dan mengendarai mobil ke toko bunga.


Ryan membeli sebuket mawar putih untuk Erza dan pergi menemuinya di makam. Saat sudah tiba, Ryan menghentikan mobilnya. Ryan perlahan berjalan kemakam dan melihat seorang wanita yang sedang berlutut di depan makam Erza. Dia mengenakan rok panjang hitam dengan rambut dikepang. Wanita itu telah menempatkan satu bunga lily di samping makam Erza. Ryan memperhatikannya sebentar dan hatinya menegang saat dia melihat bahu wanita itu yang bergetar. Wanita itu menangis. Hal itu mengingatkan Ryan pada hari pertama Ryan melihatnya di depan rumah sakit. Ryan menarik napas dalam-dalam dan berjalan ke arahnya. Ryan meletakkan mawar putih yang dia beli untuk Erza di samping bunga lily putih Anna, tetapi Anna tidak memperhatikan Ryan. Anna hanya menangis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Rulianna" Ryan mendapati suaranya yang serak dan penuh dengan kesedihan. Begitu Anna mendengar suara Ryan, dia melihat ke arah Ryan dan dengan cepat berdiri. Anna menyeka air matanya dan menatap mata Ryan sebentar dan berbalik untuk pergi.


"Apa-apaan. Dia pergi begitu saja" Batin Ryan.


"Anna... Tunggu" Ryan meraih tangan Anna dan berbicara.


"Lepaskan aku... Jangan sentuh aku" Anna dengan terpaksa menepis tangan Ryan dan pergi tanpa menatap Ryan.


"Aku tidak akan melepaskanmu" Ryan mengejar Anna dan meraih pinggang Anna lalu memeluknya erat-erat.


"Persetan dengan apapun... Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu" Ucap Ryan saat memeluk Anna.


"Lepaskan aku Ryan... Apa kau gila? " Anna mencoba mendorong Ryan menjauh sambil memukul dada bidang Ryan. Wanita ini seperti anak kucing yang marah.


"Dengarkan aku, please! " Ryan berbicara dengan lembut sambil membelai rambut Anna dan mencium keningnya.

__ADS_1


"Hentikan omong kosongmu Ryan. Lepaskan aku. Kamu tidak akan pernah melihatku lagi" Dengan itu Anna dengan paksa mendorong Ryan menjauh. Hati Ryan hancur berkeping-keping saat dia mendengar kata-kata Anna. "Tidak... Aku bilang aku tidak akan membiarkanmu pergi" Ryan menarik Anna lagi agar lebih dekat ke arah Ryan dan berkata. Tampak Anna akan kembali memukul wajah Ryan.


"Urghh apakah menyenangkan menamparku? " Tanya Ryan.


"Kenapa... kamu ingin meniduriku lagi? " Tanya Anna. Hati Ryan tercekat saat Anna tersenyum dingin padanya.


"Kenapa kamu berbicara padaku seperti ini? " Ryan merasakan sakit sekali mendengar kata-kata Anna. Rasanya seperti seseorang menikam hatinya.


"Anna, dengarkan baik-baik, aku..." aku ingin menjelaskan padanya tapi Anna memotong ucapan Ryan.


"Cukup Ryan. Aku tidak mau mendengarkanmu. Lepaskan aku" Anna berkata.


"Mengapa wanita ini begitu keras kepala. Ezra adalah senjata terampuh dan sangat mudah untuk meluluhkan wanita ini" Batin Ryan.


"Bukankah aku mengatakan bahwa aku tidak akan melepaskanmu, Hmm? " Ryan membenamkan wajahnya di leher Anna dan bertanya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku Ryan. Kenapa. Apakah aku sesuatu yang bisa kamu mainkan saat kamu mau? " Ucap Anna. Ryan langsung menatap Anna karena kata-katanya.


"Sial... Wanita ini benar-benar rumit" Batin Ryan. Tiba-tiba Ryan merasa marah karena Anna tidak mendengarkannya.


"Persetan dengan apapun, Aku akan membuatnya mendengarkanku" Gumam Ryan lirih. Dia berjalan ke arah Anna dan meraih tangannya.


"Biarkan aku pergi bajingan. Bodoh" Anna berteriak pada Ryan tapi Ryan tidak peduli. Ryan lalu menyeret Anna ke dalam mobilnya dan membuka pintu kursi penumpang lalu mendorong Anna ke dalam mobil. Setelahnya Ryan masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman untuk Anna lalu mengemudikan mobilnya.


"Apakah kamu gila. Hentikan mobilnya. Apakah kamu akan bunuh diri. Hentikan! " Teriak Anna kepada Ryan.


"Mengapa wanita ini berteriak. Urghhh Sial... Apa aku mengendarai mobil ini dengan kecepatan tinggi? " Batin Ryan tanpa peduli dengan teriakan Anna disampingnya.

__ADS_1


"Idiot" Anna berteriak pada Ryan dan mulai memukul.


"RULIANNA... DIAM" Ryan ganti berteriak pada Anna karena merasa marah. Lalu Anna tiba-tiba berhenti memukul Ryan. Ryan menatap Anna dan melihat Anna menatapnya dengan ketakutan dan air mata berlinang sambil menggigit bibirnya. Anna terlihat sangat imut. Kemarahan Ryan menguap ketika dia melihat tingkah Anna. Ezra mewarisi aksi imut ini dari mommynya. Ryan menghentikan mobil di depan tebing.


"Mengapa aku mengemudi di sini... Urgh" Gumam Ryan.


"Kamu brengsek" Dengan berkata seperti itu Anna membuka pintu dan berlari keluar dari mobil. Anna berlari menuju tebing. Seluruh tubuh Ryan gemetar ketakutan dan dia segera turun dari mobil dan berlari mengejar Anna. "RULIANNA... KEMBALI" Ryan berteriak tapi Anna tidak peduli dengan teriakannya.


"Wanita ini... Astaga" Ucap Ryan sambil berlari mengejar Anna. Lalu Anna berhenti tepat di tepi tebing dan berbalik sambil menatap Ryan. Ryan berhenti beberapa langkah dari Anna dan menghela nafas.


"Kembalilah bidadariku. Kamu akan jatuh" Ucap Ryan lembut. Perlahan Ryan melangkah mendekati Anna dan berbicara. Anna sangat cantik. Rambut dan roknya yang panjang acak-acakan dengan ritme yang sama karena angin yang bertiup, dan pada saat yang sama sinar matahari telah mendarat di kulitnya yang putih dan itu membuat kecantikannya menjadi sesuatu yang bahkan tidak dapat dijangkau oleh apa pun.


"Wanita ini milikku..." Batin Ryan.


"Jangan mendekat atau aku akan melompat" Ancam Anna saat melihat Ryan melangkah. "Hati Ryan diliputi ketakutan yang luar biasa karena kata-kata Anna, jadi Ryan memilih untuk berhenti di tempat.


"Anna apakah kamu anak kecil atau semacamnya, Ezra lebih baik darimu" Ryan menghela nafas panjang sambil menatap wajah Anna. Anna menatap Ryan dengan ekspresi keras kepala.


"Lepaskan aku atau aku akan melompat turun dari sini" Anna berkata dengan nada mengancam.


"Sialan... Wanita ini benar-benar berani mengancamku. Dia bahkan menggunakan hidupnya" Batin Ryan.


"Aku tidak bisa. Aku tidak akan membiarkanmu pergi" Ryan menghela nafas berat dan berkata, Anna pun memalingkan muka dari Ryan. "Baiklah" Setelah berkata seperti itu Anna berbalik.


"Apakah dia akan melompat... Tidak" Ryan terus berfikir.


"Oke. Kamu menang. Aku akan membiarkanmu pergi. Kemarilah sekarang" Kata Ryan. Anna berbalik badan sambil cepat-cepat menatap pria didepannya.

__ADS_1


"Betulkah? " Anna bertanya lagi sambil menatap mata Ryan. Ryan dengan cepat melihat ke bawah. Dia segera menunduk dan mengangguk sambil menghela nafas. Kemudian Anna perlahan-lahan datang ke arah Ryan.


"Ingat ini nona kecilku. Tidak mungkin aku akan membiarkanmu pergi seumur hidupku ini" Ucap Ryan setelah dia berhasil meraih Anna.


__ADS_2