Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Tentang Kematian Erza


__ADS_3

"Dia meminta putriku" Ryan merasa kesal dengan bocah itu.


"Dia masih kecil Ryan, jangan bertingkah seolah-olah itu adalah hal yang besar" Tutur Anna.


"Bagaimana mungkin itu bukan hal yang besar? Dia putriku dan aku tidak akan memberikannya kepada pria mana pun, aku tidak peduli berapa banyak pacar yang akan dimiliki Ezra kelak di masa depan, tetapi aku tidak akan membiarkan putriku" Ryan tidak mau mengalah. Iya mengalihkan pandangan dari Anna dan melihat makhluk kecil di depannya.


"Rasanya aku ingin memukulnya saat melihat seringai di wajahnya. Sangat persis, anak dan ayah sama-sama menyebalkan" Batin Ryan.


"Selesai. Apakah kamu sudah makan malam?" Anna bertanya pada Ryan sambil menyisir rambut suaminya ke belakang dengan ujung jarinya. Ryan menatap istrinya dan menggelengkan kepala.


"Bagaimana aku bisa makan setelah mengetahu bahwa istriku dibawa pergi oleh saudara laki-lakinya yang bajingan itu" Ucap Ryan.


"Aku akan membuat sesuatu. Myles mau makan apa sayang?" Ucap Anna dan juga bertanya kepada keponakannya.


"Mengapa dia bertanya padanya? Urgh... " Ryan merasa jika Myles sangat menyebalkan.


"Apa saja tante" Myles tersenyum cerah pada Anna. Anna pun mengangguk padanya dan Ryan lalu dia masuk ke dalam rumah.


Setelah Anna pergi, Ryan menatap anak di depannya yang juga tersenyum cerah padanya. Ryan tidak sengaja tersenyum karena senyum manis Myles.


"Di mana saudaraku?" Tiba-tiba Myles bertanya pada Ryan.


"Sialan dia memanggil saudara pada Ezra. Sangat hebat" Batin Ryan sebelum menjawab pertanyaan Myles.


"Dia sedang tidur. Aku datang ke sini setelah dia tertidur" Ryan tersenyum pada Myles. Dan myles pun balas mengangguk pada Ryan.


"Aku akan menemui tante" Myles berlari pergi setelah mengatakan itu. Ryan menghela nafas dan bersandar di sofa, Ryan ingat bagaimana mereka dulu menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


"Semuanya berubah dalam sekejap. Semuanya karena nenek. Aku tidak tahu mengapa nenek membantu mereka" Batin Ryan dalam lamunanya.


"Ryan, apa kabar?" Ryan kembali sadar saat mendengar suara Gwen. Dia menghela nafas dan menatap Gwen di depannya. Lalu Ryan melihat Gwen tersenyum kecil padanya.


"Tidak buruk, bagaimana denganmu?" Ryan bertanya balik karena dia benar-benar tidak tahu bagaimana mereka menghabiskan hidup mereka. Ryan tidak pernah datang ke rumah ini selama bertahun-tahun.


"Sama" Gwen tersenyum pada Ryan dan berkata. Ryan pun mengangguk pada Gwen karena mereka berteman ketika masih kecil, tetapi semuanya berubah setelah penculikan Rulianna terjadi.


"Apakah kalian pernah menemukan apa yang terjadi saat itu?" Ekspresi Gwen berubah saat mendengar Ryan berbicara. Gwen terdiam sebentar dan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sedih.


"Kami mendengar orang-orang yang terkait dengan insiden itu telah dibunuh oleh seseorang" Ucap Gwen.


"Apa? Terbunuh... Aku tidak pernah tahu hal itu" Tiba-tiba Ryan teringat apa yang dikatakan Chris kepadanya hari itu. 'Kita harus pergi dan menemukannya'


"Kamu tidak perlu khawatir tentang itu Ryan, sekarang pergi dari rumahku" Ryan menatap Mark yang baru saja datang dan menarik istrinya ke arahnya, seolah-olah Ryan akan membawa pergi untuk mencuri istrinya.


"Mark kau tahu aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa kau masih seperti ini? " Ryan bertanya kepada Mark. Karena kejadian ini sudah bertahun-tahun, tapi Mark belum memaafkan dirinya. Ryan bahkan tidak tahu dan tidak melakukan apapun.


"Apakah kamu menyuruhku untuk mempercayaimu?" Sekali lagi Mark berteriak pada Ryan.


"Aku tahu kamu terluka selama bertahun-tahun karena kejadian ini, tapi kenapa... Aku tidak tahu apa-apa Mark" Ucap Ryan.


"Mark, cukup... tolong. Jangan mulai lagi" Gwen menepuk tangan suaminya dan menenangkannya. Mark terlihat mengatupkan rahangnya dan memalingkan muka dari Ryan. "Ryan, ayo makan malam, kurasa Marianna sudah selesai memasak" Ucap Gwen. Ryan berdiri dari sofa dan berjalan ke dapur. Dia melihat Anna yang sedang tersenyum dan berbicara dengan bocah kecil itu.


"Kamu di sini. Duduk. aku akan segera kembali" Anna melihat ke belakang dan menatap Ryan yang tersenyum. Ryan pun mengangguk pada iatrinya dan pergi ke ruang makan, tak lama, Anna datang dengan membawa makanan.


Saat makan malam, Myles dengan cepat menghabiskan makanannya dan berlari ke kamarnya, sementara Gwen berteriak dan mengikuti anaknya. Setelah itu Mark datang dan duduk di samping Ryan.

__ADS_1


"Mengapa kamu membunuh mereka? " Tiba-tiba Mark bertanya dan Ryan menghentikan aktivitasnya.


"Membunuh siapa? " Rayn bertanya pada Mark karena dia sangat bingung.


"Dokter yang membunuh Erza dan orang-orang yang berhubungan dengan hal itu" Kata-kata Mark membuat Ryan terdiam, dan pada saat yang sama pandangan Ryan tertuju pada Rulianna yang sedang menatapnya dengan wajah penuh tanda amarah. Anna memperhatikan Ryan sebentar dan menatap Mark.


"A.. apa yang kamu katakan? Dibunuh?" Anna bertanya sambil mengalihkan pandangannya dari Mark kepada Ryan. Ryan tidak ingin menjawab pertanyaan istrinya, jadi dia hanya menunduk dan melanjutkan makan.


"JAWAB AKU" Ryan tersentak karena teriakan marah Anna. Fia menatap Mark dan melihat reaksi yang sama darinya.


"Mengapa dia mengatakan ini pada Anna? " Batin Ryan.


"Anna tidak apa-apa" Ryan tersenyum pada istrinya, tapi matanya menjadi sembab dan dia menatap Ryan dan menggelengkan kepalanya. "Kau menyembunyikan sesuatu lagi dariku Ryan? Mark katakanlah padaku" Anna bertanya pada Ryan dengan suara kecewa dan dia kembali menatap Mark.


"Erza terbunuh, dokternya memberinya obat yang salah dan itu semua sesuai dengan rencana seseorang" Anna terdiam beberapa saat dengan senyum terpaksa pada Mark dan kembali menatap Ryan.


"Dia meninggal karena aku tidak bisa membayar uang oprasinya kan?" Tanya Anna lagi. Dari caranya menanyakan itu, Ryan merasa jantungnya ditusuk berkali-kali oleh belati yang tajam. Ryan melihat wajah istrinya yang penuh air mata. Ryan ingin berbohong tapi sudah tidak bisa karena Mark sudah membuka paksa luka Anna lagi.


"Dia dibunuh" Ryan berbicara dengan suara pelan sambil mengalihkan pandangan dari mata istrinya. Ryan hanya tidak ingin melihat istrinya seperti itu.


"Jadi kamu tahu?" Ryan mendengar ejekan Anna dan dia hanya menatap lurus ke mata istri nya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku Ryan. Ada wanita simpanan di luar sana? Tidur dengan wanita lain? Atau punya anak lagi? Kamu benar-benar mengejutkanku dengan menyembunyikan sesuatu dariku" Hati Ryan hancur berkeping-keping ketika dia mendengar kata-kata istrinya.


"Bagaimana kamu bisa begitu Anna, kamu kenal aku. Kamu tahu pria seperti apa aku ini. Jangan asal mengucapkan kata-kata yang menyakitkan" Ryan marah sekaligus sakit hati karena kata-kata istrinya.


"Ya aku tahu. Aku minta maaf untuk kata-kataku. Kamu hanya memilikiku, tapi kenapa? Dia adalah adikku Ryan. Aku berhak tahu" Anna memaksakan diri untuk tidak terisak. Ryan menatap Mark dan terlihat wajah Mark yang dipenuhi rasa bersalah.

__ADS_1


"Anna, aku menemukannya empat tahun lalu dan kamu tidak ada di sana. Aku mencari saudara perempuan Erza dan menceritakan semuanya padanya, tetapi aku tidak mendapatkan apa-apa, tetapi setelah aku menemukanmu, aku tidak ingin menyakitimu dengan mengatakan hal-hal itu" Ryan menjelaskan pada istrinya dan menatapnya saat Anna mengangguk padanya.


__ADS_2