Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Aku Tidak Akan Meninggalkanmu


__ADS_3

Ryan mengikuti Anna sampai ke dapur begitu terus sampai di dapur, dia meraih pinggang anak lalu menekannya ke dinding.


"Ryan Apa yang kamu lakukan. Aku mau memberi makan Raylie... Pergilah" Anna mendorong tubuh Ryan untuk menjauh. Namun Ryan malah mencium Anna dan mengungkung anna dengan tubuhnya.


"Mhhh... Ryan..." ucapan Anna terpotong saat Ryan menciumnya. Ryan tidak akan membiarkan Anna untuk berbicara lagi. Dia langsung membungkam istrinya dengan mencium bibirnya. Ryan menyelipkan satu tangannya kedalam baju yang Anna kenakan dan menyentuh kulit yang halus. Ana memang seorang ibu dengan 2 anak, namun iye terlihat masih seperti gadis remaja.


"Ryan... sebaiknya kamu berhenti sekarang" Anna memperingatkan suaminya. Namun Ryan tetap tidak mau berhenti. Nafas Anna pun terasa hangat. Perlahan ciuman Ryan turun ke leher.


"****..." Ryan merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana. Dia memandang ke istrinya yang juga sudah terbakar gairah. Namun iya masih dapat menahannya. Sesaat kemudian Ryan melihat pak Herman datang. Sebelum dia melihat Anna, Ryan sudah berkata terlebih dahulu.


"Pak Herman, tolong suapin Raylie" Ucap Ryan kepada pak Herman yang baru saja datang. Dengan senyum, pak Herman pun mengangguk. Setelah kepala pelayan tersebut pergi, Ryan memperhatikan iatrinya yang terlihat sangat marah. Tanpa peduli dengan kemarahan istrinya, Ryan menyeret Anna keluar dati dapur dan berjalan memasuki kamar. Setelah sampai di kamar, Ryan segera mengunci pintunya.


"Ryan.. Kamu sungguh..." Ucapan Anna terpotong karena Ryan sudah menempelkan bibirnya. Ryan tahu Anna akan memarahi dirinya. Dengan cepat Ryan mendorong istrinya ke ranjang lalu naik ke atasnya. Setelah itu iya membuka bajunya. Begitu selesai, iya segera melepas seluruh baju Anna.


"Aku tidak bisa melakukannya selama setu minggu ini karena sibuk Anna. Dan juga kamu selalu tidur dengan Raylie. Saat tengah malam kau terbangun karena menginginkannya, aku tidak tega membangunkanmu hanya untuk memenuhi kebutuhanku" Ucap Ryan sambil mencium Anna dan meremas dua bukit kembar didepanya.


"Mesum" Anna berkata sambil menempelkan bibirnya ke bibir Ryan. Ryan pun tertawa pelan dengan sikap Anna. Selanjutnya iya melakukan apa yang ingin dia lakukan. Hal yang sangat disukai Ryan dan hal yang selalu ingin Ryan lakukan.


Ryan melakukan hal tersebut sebanyak 3 kali. Saat akan melakukan lagi, Anna memukul Ryan memintanya untuk berhenti. Karena Ryan tidak ingin membuat istrinya kelelahan, iya menurutinya. Setelah itu Ryan menggendong Anna ke kamar mandi dan mengajaknya mandi bersama. Begitu selesai, iya segera kelaur kamar mandi dan menganakan pakaiannya.


"Kamu mau ke kantor sekarang? " Tanya Anna kepada Ryan. Dan dijawab anggukan oleh Ryan sambik terswnyum.


"Mommy... Daddy" Ryan dan Anna mendengar suara Raylie yang memanggil mereka. Dengan segera iya membuka pintu. Terlihat putrinya audah berdiri di depan pintu. Ryan pun segera menggendongnya dan mengajaknya masuk. Raylie terlihat sedang memperhatikan ruangan kamar utama yang ditempati oleh mommy dan daddynya.


"Putri kecil daddy, apakah audah sarapan? " Tanya Ryan.

__ADS_1


"Mommy" Ucap Raylie ketika iya melihat Anna.


"Mommy disini sayang" Jawab Anna sambil mengambil alih Raylie dari gendongan Ryan lalu mencium kening putrinya.


"Daddy, ayo kita ke taman" Ucap Raylie sambil menatap ke arah Ryan sambil mencium pipi Anna.


"Kenapa gadis kecil ini sangat manis? Bagaimana aku bisa mengatakan tidak setelah dia berkata seperti itu" Batin Ryan.


"Iya, ayo ke taman" Jawab Ryan.


Setelah sarapan Ryan menepati janji kepada Putra dan putrinya. Mereka pergi ke taman bersama. Ryan membiarkan Ezra dan Raylie menghabiskan waktu bersama. Ryan memperhatikan kedua anaknya yang sedang bermain. Itupun dengan Ruliana. Anna dengan perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Ryan. Ryan sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Karena mereka memberikan apa yang Ryan inginkan.


" Anna... Jika terjadi sesuatu kepadaku kamu harus menjaga mereka dengan baik. Menjadilah wanita yang kuat. Ayah akan memberikan semua milikku kepadamu" Ryan tidak mengerti mengapa dirinya mengatakan hal itu kepada Anna. Selama ini Ana terlalu bergantung kepada Ryan. Anna tidak terlalu tangguh untuk hidup sendiri. Dan Ryan pun tidak tahu kelak Apa yang akan terjadi kepada dirinya.


"Kenapa... Apa yang kamu katakan? Apa ada sesuatu yang salah" Anna menatap ke arah Ryan sambil melihat dengan tatapan penuh kekhawatiran. Ryan pun menghela nafas dan mencium dahi istrinya.


"Kenapa begitu? kenapa aku harus menjadi wanita yang kuat. Sementara kamu ada di sini untuk menjaga kami" kata Anna. Ryan pun menghela nafas dalam-dalam dan menarik Anna ke dalam pelukannya.


" Iya kamu memang malaikat ku. Aku akan tetap berada disini bersamamu. Aku mengatakan ini supaya kamu mengerti. Jadi jangan pernah berpikir macam-macam" Ryan berkata sambil menghapus air mata anak yang terus menetes.


"Ah sial... aku membuatnya kesal" Batin Ryan.


Waktu berlalu dengan begitu cepat, setelah makan malam Ryan membawa anak dan istrinya pulang. Namun di dalam perjalanan Anna tidak berbicara sepatah katapun kepada Ryan.


" Ryan... apa yang telah kamu lakukan. Lagi-lagi kamu membuat istrimu kesal" Batin Ryan bergumam merutuki kesalahannya sendiri.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, Ryan menidurkan Ezra dan Raylie. Iya meninggalkan kamar anak anaknya lalu masuk ke kamarnya sendiri. Terlihat Anna yang sedang berdiri di depan jendela sambil memandang ke arah keluar. Terlihat Dia sedang memikirkan sesuatu. Ryan pun mendekatinya lalu memeluknya dari belakang. Terdengar Anna yang menghela nafas panjang.


"Anna.. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti atau membuatmu kesal" Ucap Ryan sambil mencium bahu Anna. Anna hanya mengangguk dan berbalik ke arah Ryan dibelakangnya.


"Kamu tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi kan Ryan? " Tanya Anna dengan suara serak. Dan terdengar patah. Ryan tersenyum dan mengangguk sambil mencium kening Ana.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah padaku" ucap Ryan sambil menarik Anna ke tempat tidur sambil memeluknya dan mereka pun langsung tidur.


~Anna~


Sudah seminggu sejak Ryan mengatakan hal itu. Entah mengapa Ryan harus mengatakan hal seperti itu. Semua perkataannya menghantui hari-hari Anna. Namun Anna tidak menunjukkan semua beban pikiran itu kepada suaminya. Anna merasakan takut disaat Ryan mengatakan hal tersebut. Yang Anna tahu Ryan adalah lelaki kuat dan selalu ada untuk mereka. Untuk anak dan istrinya. Anna tahu Ryan tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Sesaat kemudian ia mendengar langkah kaki Ryan yang mendekat. Anna menoleh kearah Ryan dan melihat suaminya yang tersenyum kepada dirinya. Anna membalas senyum suaminya dan berjalan mendekatinya. Iya langsung memeluk Ryan dan membenamkan wajahnya di dada bidang Rian.


"Apa itu tadi? " Tanya Ryan sambil tertawa. Seringai mesum muncul di wajahnya. lalu Ryan menarik Ana ke tempat tidur.


"Aku memelukmu bukan untuk ini Ryan" Anna Berkata sambil memukul pelan dada Ryan.


"Tidak... Kamu menginginkannya" Ryan berkata sambil menggelengkan kepalanya. Lalu iya menempatkan Anna di tempat tidur. Selanjutnya mereka mulai bersenang-senang.


Setelah selesai, mereka mandi bersama. Dan disaat mereka sedang mandi, Anna mendengar suara kepala pelayan. Paman Herman.


"Tuan, ada tamu yang ingin menemui anda" Ucap paman Herman.


"Seseorang yang bertamu? Ini hampir jam 12 malam. Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? " Gumam Anna sambil menatap Ryan. Dan Ryan pun juga menatap dirinya dengan ekspresi bingung.


"Aku akan melihatnya" Jawab Ryan sambil keluar dari kamar mandi yang sebelumnya iya mengambil handuk. Setelah mengenakan pakaiannya, Ryan keluar kamar untuk melihat siapa tamu ditengah malam ini. Anna segera menyelesaikan mandinya. Lalu iya menunggu dikamar. Namun sudah lebih dari 10 menit namun Ryan belum juga kembali. Anna pun berniat untuk menyusul suaminya.

__ADS_1


Saat Anna keluar kamar dan menuju ruang tamu. Anna mendengar suara dari ruang tamu. Hal tersebut membuat hati Anna merasa kebas dan juga membeku. Terasa seperti darahnya berhenti mengalir.


__ADS_2