
"Kenapa aku harus percaya padamu?" Anna akhirnya berhasil berbicara setelah rasa sesak dihatinya.
"Kamu tidak harus percaya padaku Rulianna, Pilihan ada di tanganmu, percaya atau tidak. Bagaimanapun, kamu bisa menanyakan satu pertanyaan pada Ryan tentang siapa itu Marianna" Ucap Natasha. Anna melihat keseriusan di wajah Natasha dan Anna benci percaya jika Natasha mengatakan yang sebenarnya.
"Aku juga benci Marianna. Karena dia aku tidak pernah punya kesempatan untuk dekat dengan Ryan. Jadi ya aku tidak menyukainya. Terutama sikapnya yang sombong" Begitu Natasha mengatakan itu, Anna langsung berdiri dari kursi dan menatap wanita didepannya.
"Aku pergi, Terima kasih untuk kopinya dan selamat atas pernikahanmu" Anna berbicara sebentar lalu meninggalkan kedai kopi. Dia tidak bisa memaksakan air matanya tidak menetes saat keluar dari kedai itu. Ucapan Natasha menghantui fikiran Anna.
"Apa aku hanya pengganti? Tidak.. Ryan memperlakukanku dengan baik dan dia peduli padaku" Gumam Anna.
'Dia melihat Marianna di dalam dirimu' Lagi-lagi kata-kata Natasha muncul di pikiran Anna dan membuat pikirannya kacau. Anna tidak ingin percaya Natasha. Anna tahu wanita seperti apa dia, tapi Anna tidak bisa melupakan tatapan serius natasha saat menceritakan hal-hal tentang Ryan kepada dirinya.
"Nyonya kita harus pulang sekarang" Sopir sudah datang mengajak Anna pulang. Anna mengangguk kepada sopirnya. Dia masuk ke mobil dan menyandarkan kepalanya ke jendela sambil melihat ke luar. Tiba-tiba Anna melihat toko kue yang disukai Ezra.
"Berhentilah. Aku akan membeli kue dulu sebentar" kata Anna. Pak sopir menghentikan mobil di depan toko kue. Anna turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko. Saat memasuki toko, Anna tidak sengaja tersenyum karena teringat bagaimana Ezra melompat-lompat karena gembira ketika melihat kue.
"Saya ingin ini" Anna memesan kue coklat dan menunggu sampai mereka selesai membungkusnya.
"Tante, itu kamu" Anna mendengar suara anak kecil yang familiar di telinganya. Dia melihat ke bawah dan melihat si kecil, bocah yang dipukuli Ezra hari itu. Anna tersenyum padanya dan membelai rambutnya.
"Hei, apakah kamu di sini sendirian?" Anna bertanya pada anak itu yang melihat perut Anna dan terkikik.
__ADS_1
"Tidak. Aku datang dengan mommy dan daddy. Daddy mendapat telepon dari kantornya dan pergi. Jadi kami menunggunya disini" Anna mengangguk pada anak itu sambil tersenyum.
"Tante, apakah ada bayi kecil disini?" Anak itu mengarahkan jarinya ke perut Anna dan bertanya. Anna tersenyum karena kata-katanya yang kekanak-kanakan.
"Ya. Di mana mommymu sayang? " Anna bertanya kepada anak kecil didepannya itu. Dan dia menunjukkan seorang wanita cantik yang sedang duduk di sudut toko. Dia sangat cantik. Tidak heran jika anak kecil ini sangat tampan. Tiba-tiba wanita itu berdiri dari kursi dan melihat sekeliling dengan ekspresi tidak sabar di wajahnya. Anna tahu dia sedang mencari anaknya.
"Ayo, tante antar kamu ke mommymu. Lihat dia mencarimu" kata Anna dan anak laki-laki itu mengangguk padanya. Anna meraih tangan kecilnya dan membawa ke mommynya.
"Ya Tuhan Myles, kamu melakukannya lagi" Wanita itu dengan cepat berjalan ke arah Anna dan Anak itu, lalu mengambil alih anak laki-laki itu. Terlihat laki-laki kecil itu melingkarkan tangan di leher mommynya dan terkikik.
"Mommy dia tante yang aku ceritakan sebelumnya" Mommy anak itu menatap Anna begitu Myles berbicara. wanita itu menatap Anna sambil tersenyum. Tapi senyumnya perlahan memudar dan digantikan dengan wajah terkejut.
"Hei, aku Gwen" Wanita bernama Gwen itu berkata sambil tersenyum paksa pada Anna. Anna tidak tahu mengapa, tapi entah mengapa, Anna merasa jika Gwen begitu akrab. Senyumnya sangat familiar.
"Tidak apa-apa. Anak ini selalu berkelahi setiap hari di sekolahnya" Gwen tersenyum pada putranya dan mencubit pipinya. Tak lama kemudian, Anna mendengar jika pesanannya sudah siap.
"Aku pergi. Senang bertemu denganmu Gwen" Anna tersenyum pada Gwen dan berkata, Gwen pun membalas senyuman hangat Anna.
“Tante, tunggu ayah” Tiba-tiba anak kecil itu berkata sambil menyentuh rambut Anna dan itu membuat detak jantung Anna semakin cepat.
"Kenapa dengan ayahnya? " Batin Anna.
__ADS_1
"Lepaskan tante sekarang sayang, kita akan segera melihatnya pulang bersama ayah" Gwen tersenyum pada Anna dan berkata, tapi Anna tidak mengerti apa yang Gwen katakan. Anna hanya mengangguk padanya dan pergi kekasir untuk mengambil kue.
Anna pulang dengan hati yang kacau. Kata-kata Natasha membunuhnya dan Dia tidak mau percaya bahwa Ryan mencintai wanita lain. Begitu turun dari mobil, Ryan keluar dari rumah sambil menggendong Ezra. Dia tersenyum lembut dan indah pada Anna. Anna memperhatikan wajah suami nya tanpa emosi. Anna tidak punya keberanian untuk tersenyum pada suaminya. Dia merasa ingin menangis, dan satu hal, Anna menyesal telah bertemu Natasha hari ini. Anna hanya membuang muka dari suaminya dan berjalan ke arah mereka.
"Mommy membelikan kue untukmu sayang" Tanpa melihat Ryan Anna berkata. Ryan menurunkan Ezra dan melingkarkan satu tangannya di pinggang Anna, lalu menarik ke arahnya dan mencium kening Anna.
"Apakah kamu kelelahan?" Ryan bertanya pada Anna sambil membelai rambut istrinya. Anna mencengkeram gaunnya erat-erat karena tidak ingin menangis atau mendorong Ryan menjauh dariku. Dia mengangguk pada suaminya dan melepaskan tangan Ryan dari pinggang lalu berjalan pergi. Anna dengan jelas bisa merasakan tatapan Ryan padanya, tapi tidak sedikitpun menoleh ke belakang. Dia langsung pergi ke dapur dan memotong kue lalu memberikan satu potong kepada Ezra.
"Terima kasih mommy, aku mencintaimu" Ezra terkikik dan berlari keluar dapur dengan sepiring kue yang Ann berikan padanya. Anna tersenyum dan memperhatikannya. Tapi jauh di lubuk hatinya, semuanya kacau berantakan. Natasha bilang Marianna akan kembali.
"Apa yang akan terjadi padaku jika Ryan kembali pada Marianna? " Anna memaksakan air matanya kembali dan berjalan keluar dari dapur. Dia melihat Ryan sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa balas menatap suaminya, Anna segera naik ke atas. Anna tahu bahwa Ryan merasakan perubahan sikap Anna, tapi Anna tidak bisa bersikap biasa saja setelah apa yang dia dengar hari ini. Dia percaya Ryan tapi kata-kata Natasha dan foto yang dia tunjukkan padanya itu membunuh hatinya. Ryan menatap Marianna dengan senyum lembut dan dia sangat bahagia di foto itu. Hati Anna bergetar hebat karena dia tidak ingin kehilangan Ryan. Anna sangat mencintainya.
"Ruliana" Anna mendengar suara Ryan yang serak, dengan cepat Anna memaksa dirinyauntuk melupakan semuanya lalu bertindak normal, Tapi Anna tidak bisa, dia juga tidak sekuat itu. Kata-kata Natasha bergema di kepalanya. Ryan mendekat dan memeluk istrinya dari belakang lalu mencium leher. Hati Anna menegang.
"Apa aku hanya pengganti Marianna?" Batin Anna. Dia ingin bertanya. Namun disisi lain, dia belum siap mendengarkan jawaban Ryan.
"Bagaimana jika Ryan mengatakan bahwa dia menyukai Marianna dan aku hanya penggantinya. Tidak, saya tidak ingin itu" Batin Anna.
"Aku akan mandi lalu kesini lagi" Anna kembali melepaskan tangan Ryan dari tubuhnya dan berjalan menuju kamar kecil.
"Ayo mandi bersama" Ryan menggendong istrinya dan tersenyum. Anna memperhatikan wajah Ryan yang tersenyum sejenak dan menggigit bibir bawahnya keras-keras karena tidak ingin tidak menangis. Ryan membawa Anna ke kamar mandi dan menempatkan dirinya di atas meja, lalu dia mengisi bathup dengan air hangat. Setelah memeriksa suhu dan melepas bajunya, Ryan mendatangi Anna.
__ADS_1
"Biarkan daddy memandikan mommy putri kecilku" Ryan melepas pakaian Anna dan mencium perutnya. Terasa ada yang meremas jantungnya dengan erat. Kemudian Ryan mengangkat Anna dan berjalan menuju bathup lalu meletakkan Anna di dalamnya dengan lembut. Dia mencium dahi Anna dan melepas celananya lalu naik dan menempatkan dirinya di belakang Anna.