Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Ibu


__ADS_3

Flasback Ryan.


"RYAN..." Yang bisa Ryan dengar hanyalah suara Chris saat dia merasakan sakit yang sangat menyiksa di dadanya. Dia menoleh dan menatap wajah Chris, tapi tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dirinya melayang jatuh dari tebing. Ryan tertembak dan ketakutan menyelimutinya.


"Aku tidak ingin mati, Rulianna menungguku bersama Ezra dan Raylie. Ahh... Aku tidak bisa meninggalkan mereka" Batin Ryan ditengah tubuhnya yang melayang jatuh dari tebing. Itulah satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya. Ryan terjatuh ke dalam air dan dia mendapati dirinya mati lemas karena rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Dan pada saat yang sama dia berada di dalam air. Ryan memejamkan mata ingin menyerah dan membiarkannya tapi...


"TIDAK..." Batin Ryan dalam hati karena tak sanggup berkata. Pikiran Ryan dipenuhi dengan senyum Anna dan caranya meminta Ryan untuk kembali.


"Aku akan kembali" Gumam Ryan lirih. Matanya terbuka. Dan dia menekankan satu tangan di dadanya dan mulai berenang. Hal itu adalah luka yang paling menyakitkan yang pernah Ryan alami dalam hidupnya, tetapi untuk Anna dan anak-anaknya, Ryan harus tetap hidup.


Akhirnya Ryan perlahan-lahan keluar dari sungai. Setelah Ryan mencapai tepian sungai, iya jatuh di tanah berpasir. Ryan mengambil beberapa napas berat karena ingin tetap hidup. Tubuhnya seperti mati rasa dan yang dia inginkan hanyalah tidur. Ryan tahu dengan pasti, bahwa jika dirinya tertidur sekarang, tidak akan ada hari berikutnya untuk menatap matahari terbit. Ryan memaksakan diri untuk tetap terjaga tanpa menutup mata. Dan akhirnya dengan perlahan Ryan memaksa dirinya untuk bangkit dari tanah. Saat dia melihat sekelilingnya. Hanya terlihat hutan yang gelap gulita. Hanya ada cahaya bulan.


Tanpa peduli betapa terlihat berbahayanya hutan itu, Ryan memasuki hutan dan berjalan memasuki hutan. Beberapa saat kemudian, Ryan menemukan sebuah pohon besar yang bisa untuk dia duduki. Ryan menunggu sebentar dan mengatur napas. Namun tiba-tiba dia mendengar serigala melolong. Serigala itu terdengar begitu jauh, tetapi mereka akan membutuhkan waktu setidaknya lima belas menit untuk datang ke tempat dimana Ryan berada jika mereka mencium bau darah.


"Sial..." umpat Ryan sambil melepas jaket dan kaos yang dia kenakan. Ryan melihat lukanya sendiri sambil menghela nafas. Ryan sangat beruntung. Karena peluru sialan itu menembus beberapa inci dari jantungnya.


"Rulianna, tunggu aku" Ryan tersenyum saat mengingat istrinya. Dengan cepat Ryan mengambil belati yang dibawanya. Ryan merasa penglihatannya kabur karena rasa sakit yang melandanya. Perlahan Ryan menusuk lukanya dengan belati dan mencoba mengeluarkan peluru itu.


"Urghh... Sakit... Sial.. Aku seharusnya mendengarkan Rulianna dan tetap berada di rumah" Sesal Ryan. Tubuhnya mulai mati rasa dan perlahan Ryan memejamkan mata. Tetapi matanya kembali terbuka ketika dia ingat bahwa dia memiliki keluarga dan harus kembali ke sana. Ryan menenangkan diri dan mengambil napas dalam-dalam saat dia mulai mengeluarkan peluru, tetapi rasa sakitnya adalah sesuatu yang tidak bisa Ryan abaikan.


"Ini bukan pertama kalinya aku tertembak tetapi mengapa ini sangat menyakitkan? " Gumam Ryan. Dia mencoba berjam-jam tetapi tidak bisa karena pelurunya menusuk terlalu dalam. Tubuhnya menjadi mati rasa sepenuhnya dan tidak ada kekuatan lagi.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mati, tetapi tidak ada cara untuk bertahan hidup tanpa mengeluarkan peluru ini" Gumam Ryan pada diri sendiri. Pandangannya perlahan menggelap dan dia merasa ingin tidur. Sangat melelahkan, tapi tiba-tiba Ryan mendengar langkah kaki dan seseorang berjalan di atas dedaunan kering. Itu bukan binatang dan Ryan berani bersumpah. Matanya kembali terbuka dan dia dengan cepat melihat sekeliling dan melihat sesuatu yang membuat hatinya bingung sekaligus kaget. Yang datang adalah seorang wanita hamil. Mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda dan Ryan tahu dia adalah seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluhan. Ryan sangat penasaran, karena apa yang dilakukan seorang wanita di hutan berbahaya di tengah malam seperti ini. Ryan memperhatikannya, tapi dia bahkan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena rambutnya sangat panjang. Ryan merasa jantungnya berdegup kencang saat wanita itu berjalan ke arahnya. Ryan memiliki belati di tangannya, tetapi dia juga tidak ingin menyakiti wanita hamil. Ryan melihat kakinya yang tidak memakai sandal atau sepatu, dan kulitnya yang terlihat halus. Wanita itu berhenti di depan Ryan dan membungkuk lalu dia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Ryan. Tanpa alasan yang jelas, Ryan tidak menolak sentuhannya.


"Ryan, lihat. Kamu benar-benar menjadi anak yang keras kepala" Ucap wanita itu.


"Apa-apaan ini? Bagaimana... Bagaimana apakah dia tahu namaku? " Batin Ryan.


"Siapa kamu? Bagaimana kamu tahu namaku?" Ryan bertanya pada wanita di depannya saat meraih pergelangan tangannya. Kemudian wanita itu menatap Ryan dan tersenyum ketika Ryan melihat wajahnya yang cantik. Begitu indah dan sangat familiar.


"Tentu saja aku tahu, aku yang memberimu nama ini, jadi aku tahu itu" Jawab wanita itu.


"Apakah dia? Ya, dia wanita di foto itu. Ini dia... Ibuku" Ryan terkejut dan bergumam dalam hati.


"Kamu sudah benar-benar dewasa dan menjadi pria kuat seperti yang selalu kuinginkan. Kamu menarik perhatianku. Dan kamu sangat tampan seperti Reishan. Dasar pengkhianat kecil" Ibu Ryan cemberut manis dan mengambil belati dari tanganku lalu menyingkirkannya.


"Kamu terlihat sangat cantik ibu" Ryan tersenyum pada ibunya dan mengangkat tangannya. Lalu Ryan menyentuh kulit ibunya yang halus. Darah di tangan Ryan mengotori wajah ibunya, tapi tanpa peduli Tariana meraih tangan Ryan dan menciumnya sambil tersenyum.


”Ayahmu juga mengatakan itu. Dia memiliki ekspresi yang sama sepertimu saat itu" Semburat merah muncul di pipinya dan dia tersenyum. Lalu dia perlahan mulai mengeluarkan peluru dari dadaku.


"Persetan... kok bisa tidak sakit... Mungkin karena dia yang menyentuh. Sangat nyaman" Batin Ryan.


"Apakah adik bayiku sehat? " Ryan bertanya dan ibunya tertawa sambil mengangguk.

__ADS_1


"Tentu saja, dia juga pengganggu sepertimu. Menendang ibu dan menyakiti ibu sepanjang waktu" Ryan melihat wajah ibunya dan pandangannya jatuh di perut ibunya. Ibu Ryan tidak memiliki perut yang besar tapi dia sangat lucu dengan kondisi seperti itu.


"Bisakah aku menyentuh perut ibu? " Ryan sangat ingin menyentuhnya tapi sebelum itu dia bertanya pada ibunya.


"Ya" Tariana mengangguk pada Ryan sambil fokus pada luka putranya. Perlahan Ryan meletakkan tangan di perut ibunya dan membelainya. Ryan tersenyum saat dia merasakan janin itu bergerak. Perut Anna juga seperti ini saat hamil Raylie.


"Ryan, bagaimana kabar Reishan?" Tariana tiba-tiba bertanya pada Ryan sambil menatapnya. Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi kesedihan.


"Dia tidak baik-baik saja bu. Tapi ayah selalu menatap fotomu selama berjam-jam dan dia bahkan tidak mau keluar dari kamarnya. Dia sangat merindukanmu" Jawab Ryan Dia tersenyum lebar dan mengangguk pada Ryan.


"Katakan padanya bahwa aku mencintainya. Bukan hanya dia tapi aku juga mencintaimu" Tariana mencubit pipi Ryan dan tersenyum. Senyumnya begitu indah. Tidak heran ayah Ryan jatuh cinta padanya.


"Ini, pelurunya" Tariana memberikan peluru itu dan kemudian merobek ujung gaunnya lalu melingkarkannya di dada Ryan untuk mencegah darah terus mengalir keluar.


"Jadi Ryan, kamu berjalanlah melalui jalan ini dan kamu akan melihat sebuah desa kecil. Maka semuanya akan baik-baik saja" Tariana berdiri dan mengarahkan jarinya ke suatu arah.


"Apakah dia akan meninggalkanku dan ayah lagi? " Batin Ryan.


"Bu, ikutlah denganku" Ryan segera berdiri dan meraih tangan ibunya. Tariana pun menatap Ryan dan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak bisa. Jadi tolong sayang, dengarkan ibu dan pergilah ke sana" Tarianna mencium kening Ryan dan berkata sambil menarik tangannya dari tangan putranya. Mata Ryan memerah saat dia melihat ibunya mundur beberapa langkah.

__ADS_1


__ADS_2