Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Hanya Halusinasi (Ending Part)


__ADS_3

"Tolong ikutlah pergi bersamaku ibu. Aku merindukanmu... Aku merindukanmu sejak aku masih kecil. Kamu bahkan datang dan membantu aku untuk mengeluarkan peluru ini" Mata Tariana menjadi basah saat dia menatap Ryan. Kemudian dia menggigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak membantumu Ryan, kamulah yang mengeluarkannya sendiri. Aku bahkan tidak nyata. Aku sangat mencintaimu anakku, kamu adalah segalanya bagiku. Aku juga mencintai Reishan. Katakan padanya aku minta maaf dan katakan padanya bahwa aku bahagia karena dia tidak pernah melupakan kenangan kita. Pergilah sekarang... Ada begitu banyak serigala di sini" Air mata Tariana mengalir saat dia mengatakan hal itu. Kemudian dia tersenyum dan menunjuk ke arah yang sama seperti yang dia tunjuk sebelumnya. Sementara tangan satunya membelai perut.


"Aku mencintaimu ibu. Aku juga mencintainya. Jaga dirimu baik-baik" Ryan tersenyum pada ibunya dan berkata sambil mengangguk. Tariana memandang Ryan dengan senyum paling indah di wajahnya. Setelah itu Ryan meraih jaket dan pisaunya lalu berjalan menjauh dari ibunya. Ryan berjalan melalui jalan yang ibunya tunjukkan pada dirinya. Saat Ryan kembali menoleh ke belakang dan melihat ibunya masih menatap dirinya dengan senyum di wajahnya. Ryan melambaikan tangan padanya dan Tariana pun juga melakukan hal yang sama. Kemudian setelah tertaih-tatih dalam perjalanannya, Ryan tiba di sebuah desa, sedangkan ibunya sudah lama hilang dari pandangannya. Ryan mendengar suara-suara yang tidak jelas, dan kepalanya terasa akan meledak karena sangat menyakitkan.


Perlahan-lahan Ryan membuka mata dan melihat seorang lelaki tua dengan dua anak dan itu hari sudah siang.


"Sial... kepalaku sakit" Batin Ryan. Dia mencoba untuk bangun tetapi dia tidak punya kekuatan sama sekali.


"Jangan banyak bergerak tuan" Ryan menatap gadis kecil berkulit gelap yang berbicara kepadanya dan aku menarik napas dalam-dalam dan mengangguk padanya. Tiba-tiba Ryan teringat ibunya yang membalut lukanya dengan baju yang dirobeknya. Ryan melihat ke bawah dan melihat lukanya dibalut dan itu bukan pakaian ibunya.


"Di mana...? Di mana kain yang membungkus dadaku? " Ryan bertanya pada gadis itu. Lalu dia mengangguk pada Ryan dan mengambil kain itu tetapi itu bukan kain yang dimaksud Ryan. Yanh ditunjukkan gadis itu adalah baju Ryan sendiri.


"Tidak... Bukan itu, kain berwarna kuning" kata Ryan lagi kepada gadis itu. Dan gadis itu menatap Ryan dengan tatapan bingung. Kemudian gadis kecil itu berbalik dan menatap lelaki tua yang baru saja datang sambil menghela nafas.


"Ini kain yang ada di dadamu tuan... Tidak ada kain kuning" lelaki tua itu hanya tersenyum pada Ryan dan berkata.


"Apa...? Tidak itu tidak benar. Aku melihat ibuku merobek roknya. Aku juga ingat bahwa dia memberiku peluru dan aku memasukkannya ke dalam sakuku" Gumam Ryan.

__ADS_1


"Di mana pelurunya?" Ryan bertanya lagi pada lelaki didepannya.


"Peluru itu ada di dalam saku Anda tuan, tetapi saudara laki-laki saya mengganti pakaian Anda dan meletakkannya peluru itu di bawah bantal" setelah gadis itu mengatakannya, Ryan mencoba untuk bangun dan mengambil perlurunya. Tetapi gadis itu menghentikan Ryan dan mengeluarkan peluru untuknya dan memberikannya kepada Ryan. Ryan melihatnya dan menghela nafas. Kemudian Ryan teringat jika ibunya mengatakan bahwa dia bahkan tidak nyata.


"Tapi aku bisa merasakannya, aku merasakan sentuhannya dan dia adalah orang yang mengeluarkan peluru itu" Batin Ryan.


"Tuan, bagaimana Anda bisa mengeluarkan peluru itu sendiri?" Anak laki-laki di sebelah gadis itu bertanya pada Ryan dengan ekspresi penasaran. Ryan menatapnya dan menggelengkan kepala.


"Ibuku yang mengeluarkannya" Lalu lelaki kecil itu memperhatikan Ryan sebentar dan tersenyum.


“Tuan, ketika kami menemukan Anda, Anda tidak sadarkan diri di depan rumah kami dan kakek saya adalah seorang dokter jadi dia mengatakan kepada saya bahwa Anda telah mengeluarkan peluru sendiri dan Anda demam tinggi. Kami memberi Anda obat tetapi dia katanya ada jerm di badan anda gara-gara air sungai, jadi Anda tidak akan bisa pergi ke mana pun selama tiga bulan dan dia akan membantu Anda untuk sembuh" Jelas anak laki-laki itu.


"Aku harus pulang" kata Ryan, anak laki-laki itu menatap Ryan sambil menggelengkan kepalanya dan menghentikan Ryan.


"Tolong tuan. Jangan... jika kamu ingin tetap hidup, anda harus tetap berada di sini sampai anda sembuh" Jantung Ryan berdetak kencang dan Ryan takut Rulianna akan melakukan sesuatu yang gila.


"Sungguh keajaiban kau masih hidup. Kamu benar-benar ingin hidup seburuk ini?" Ryan menatap lelaki tua yang berbicara padanya sambil tersenyum.


"Aku harus kembali kepada istri dan anak-anakku. Dan jika aku mati, mereka bahkan tidak akan mengingat wajah ayah mereka" kata Ryan pada lelaki tua didepannya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jadi, apakah ada yang membantumu di hutan?" Tiba-tiba lelaki itu bertanya pada Ryan. Ryan pun mengangguk padanya


"Ibuku" Jawab Ryan. Lelaki itu terdiam untuk beberapa saat dan menggosok dahinya sebelum menatap Ryan dan menghela nafas,


"Kau tahu, itu hanya halusinasi. Beberapa orang juga mengalaminya ketika mereka akan kalah dalam peperangan, dan semua itu hanya harapan. Tak ada seorang pun yang akan berada di hutan itu pada tengah malam mengetahui betapa berbahayanya hutan itu, jadi itu benar-benar keajaiban jika anda masih hidup. Aku akan membantumu untuk sembuh dan kamu bisa pergi setelah empat bulan" Setelah mengatakannya, lelaki itu pergi.


"Jadi dia memberitahuku bahwa ibuku yang datang itu hanya halusinasi? Tapi tidak... Aku bisa merasakannya. Aku juga bisa merasakan bayinya. Aku bahkan menyentuh wajahnya . Dia berbicara kepadaku dan dia juga tersenyum. Aku tidak mengerti... tapi dia sudah lama pergi jadi mungkin itu hanya halusinasiku. Tapi aku senang setidaknya aku bisa merasakannya dan saya berbicara dengannya meskipun itu hanya sebuah halusinasi" Gumam Ryan.


"Ryan... Apa yang kamu pikirkan?" Ryan tersadar kembali dari lamunannya ketikamendengar suara manis Anna. Ryan menoleh ke belakang dan melihat Anna yang menatap dirinya sambil tersenyum. Ryan memperhatikan istrinya dan melihat dia sudah mengenakan rok yang indah dan siap untuk pergi ke pesta ulang tahun Milisha.


"Anna kemarilah. Bantu aku mengancingkan baju ini" Anna mengangguk pada Ryan dan berlari ke arahnya dengan senyum manis di wajahnya. Lalu Anna dengan cepat mengancingkan baju Ryandan mencium pipi suaminya. Ryan meraih pinggang Anna dan mencium bahunya yang terbuka. Annapun terkikik.


"Ryan.. jangan membuat ****** di pundakku, kamu sudah cukup melakukannya" Anna mendorong Ryan menjauh dan mengerutkan kening. Kemudian Ryan mengamati bahu istrinya dan melihat dia menutupi ****** itu dengan rambut panjangnya.


"Lalu bagaimana dengan leherku?" Ryan mengangkat alisnya dan bertanya pada istrinya. Anna terlihat tersipu dan membuang muka.


"Baiklah jangan malu, aku milikmu dan ingat itu tidak cukup" Ryan mencium dahi Anna dan dengan lembut meremas dua bukit kembar Anna. Anna mendorong Ryan dan berjalan keluar dari rkamar.


"Mengapa dia masih malu-malu setelah memiliki dua anak denganku? " Gumam Ryan sambil memandang kepergian Anna. Saat Ryan berjalan keluar dari kamar, dia melihat ayah yang menunggunya di lantai bawah. Ryan segera berjalan ke arahnya dan memeluknya begitu erat. Ryan teringat dengan ibunya dan apa yang dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2