
Ryan kembali menatap kearah Mark dan terlihat ekspresi wajah Mark yang berbeda. Ryan tahu hal itu terjadi karena Anna memanggilnya kakak. Kemudian Mark perlahan berjalan ke arah Ryan dan keluarganya sambil memandang bayi yang berada di tangan anak dan tersenyum.
"Grey" ucap Mark sambil memperhatikan bayi itu.
"Tidak... Seharusnya matanya sama seperti mataku" Ucap Ezra sambil memandang ke arah Mark dengan ekspresi tidak terima. Mendengar itu Ryan pun menatap kebawah dan mendapati putranya nya menatap Mark dengan tatapan tajam. rian merasa ingin tertawa melihat semuanya. Ezra ingin adiknya sama seperti dirinya. Sungguh seorang anak kecil yang menyebalkan.
"Baiklah... Kita tunggu sampai dia bangun" Anna pun mengangkat bayi dalam gendongannya lalu memberikan kepada Ryan. Ryan menerima dengan senang hati dan memperhatikan bayi itu. Anak perempuannya terlihat sangat kecil dan sangat lucu. Tangannya sangat kecil. Begitu pula dengan hidungnya kecil namun terlihat mancung.
"Dia sangat mirip denganmu saat aku melihatmu pertama kali" ucap Mark. Ryan pun dengan bangga berkata dalam hati. Tentu saja putriku sangat cantik seperti ibunya. Sangat polos dan cantik.
"Kamu ingat aku? Bukannya kamu baru berusia lima tahun? " Ruliana bertanya dengan Nada terkejut dan hal tersebut membuat Mark terkekeh. Ryan tidak ingin mengganggu percakapan mereka. Dia memperhatikan putrinya yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Daddy... Tunjukkan padaku aku ingin melihatnya" Ezra berteriak kepada Ryan. akhir-akhir ini Ryan tidak memiliki banyak waktu untuk putranya. Iya melihat air mata di sudut mata putranya. Terlihat jika Ezra akan menangis.
"Ryan tunjukkan kepadanya" Anna berkata dan pada saat yang sama Ryan membungkuk untuk menunjukkan putri kecilnya kepada Ezra, kakaknya.
"Woo... Dia sangat kecil. Aku sangat menyukainya" Ezra tertawa pelan. Dan pada saat yang sama, bayi kecil itu membuka matanya. Ryan berfikir jika bayi itu bangun karena suara dari kakaknya.
"Yeey... Dia mirip aku. Mommy lihat, matanya biru" Ezra berkata sambil melompat-lompat karena bahagia.
"Betulkah? Mengapa matanya biru? Tapi bagaimanapun juga hal itu akan membuatnya terlihat sangat baik. Dan aku harus melindunginya dari kebanyakan lelaki kelak dimasa depan" Batin Ryan.
"Cantik" Mark memperhatikan sebentar sambil berkata. Setelah itu ia meminta izin untuk pergi karena ia harus menghadiri rapat yang penting.
__ADS_1
"Raylie... Apakah nama itu bagus? " Tanya Anna dan Ryan pun langsung mengangguk setuju. Karena nama itu sangat bagus dan mirip dengan namanya.
"Kamu tahu dia adalah gadis pertama dari keluarga William" Ryan sangat senang karena telah memiliki seorang anak gadis. Karena belum ada seorangpun dari keluarga William yang bisa memiliki seorang anak perempuan. Bahkan adik Ryan yang telah meninggal di dalam kandungan pun juga laki-laki.
"Kamu bahagia? " Ruliana bertanya kepada Ryan dan Ryan pun mengangguk dengan cepat. Tentu saja Ryan sangat bahagia karena kebahagiaan ini tidak dapat dibeli ataupun di cari dengan cara apapun.
2 Tahun Kemudian...
"Daddy... Daddy... Bangun... bangun... bangun..." Ryan membuka matanya dan melihat putrinya yang sudah duduk diatasnya sambil berbisik pelan di telinganya. Raylie benar-benar berbeda dengan kakaknya, Ezra. Dia tidak akan pernah membiarkan daddynya tidur nyenyak.
"Daddy" bisik Raylie di telinga Rian. Ryan pun tersenyum karena melihat tingkah lucu putrinya yang diluar batas. Rambut coklat muda sebahu pun seluruh wajah saat dia mencium daddynya. Dia sangat mirip dengan Anna.
"Apakah Putri kecil Daddy sudah mandi? " Ryan bertanya kepada putrinya karena dia mencium bau susu di tubuhnya. Yang pasti Anna sudah memandikannya.
"Mommy sudah memandikanku" jawab Raylie sambil kembali mencium pipi Rian dan tersenyum. Ryan pun segera duduk di tempat tidur.
Setelah Ryan selesai mandi, iya segera memakai celana dan kaosnya. Begitu keluar dari kamar mandi, Ryan menatap putrinya yang sedang tersenyum kepadanya. Senyumnya sangat sama dengan Anna. Setelah itu iya menggendong Raylie ke luar kamar. Raylie yang berada di gendongannya melingkarkan lengan kecilnya di leher Ryan sambil mencium pipi Daddynya.
"Mommy... Kita memukul dia karena dia duluan yang ingin memukul kita" Ryan mendengar suara yang keras kepala saat ia memasuki ruang tamu.
"Apakah dia baru saja memukuli anak lagi?" gumam Ryan dalam hati sambil berjalan mendekat kearah istri dan anaknya.
"Sudah berapa kali dia memukul dan berkelahi dengan teman sekolahnya. Tentu saja dia melakukannya dengan Myles, anak mark" gumam Ryan sambil terus berjalan.
__ADS_1
"Tapi bukan berarti kamu bisa memukulmu seenaknya. Kamu dan Mylles benar-benar memukulnya dengan tenaga. Jangan pernah berkelahi atau Bertengkar Lagi di sekolah dan katakan kepada kakak mu untuk melakukan hal yang baik" suara Anna terdengar keras saat dia menasehati Ezra.
"Laki-laki kecil ini memang benar-benar hebat. Dia mengalahkan anak laki-laki lain di sekolahnya. Dan semua tunduk dan takut kepadanya. Dia benar-benar anakku. Karena Aku dulu juga seperti ketika masih kecil" Batin Ryan sambil tersenyum samar.
"Ryan katakan kepadanya. Kamu menyuruhnya memukul anak-anak yang mengganggunya. Dia memukul siapapun yang berani mengganggunya atau mengusiknya. Lain kali kamu harus pergi ke sekolah dan meminta maaf" Anna berkata Di saat dia melihat Ryan di sana.
"Sial... Dia melihatku masuk ruang tamu" batin Rian. Anna yang sebelumnya memalingkan muka dari arah Ryan, sekarang menatap Ryan dengan tatapan tajam.
"Ezra... jangan berkelahi lagi" Ryan pun berkata kepada anak sulungnya. Dan Ryan memperhatikan putranya yang sedang tersenyum menyeringai kepadanya.
"Kenapa dia menyeringai kepadaku. Dasar anak nakal" bergumam dalam hati.
"Kakak..." ucap rayli sambil merentangkan tangannya kearah Ezra. brainly ingin digendong oleh kakaknya. Ezra dengan cepat mendekat dan merentangkan tangannya kearah Raylie. Namun Ryan yang tidak ingin memberikan Raylie kepada kakaknya. Namun lama-lama ia luluh juga karena cara terus merentangkan tangannya. Ryan menghela nafas dalam sambil memberikan Raylie ke dalam gendongan Ezra. Ezra tertawa pelan sambil mencium pipi adiknya setelah itu ia membawanya keluar rumah.
"Nona muda yang sangat cantik" ucap Ezra sambil menggandeng adiknya. Setelah kedua anaknya pergi Ryan memperhatikan istrinya yang sedang menatap tajam ke arahnya.
"Ruliana tidak apa-apa... Dia masih kecil dan tidak masalah jika dia mengalahkan anak laki-laki lain yang mencoba mengganggunya" Begitu Ryan selesai berkata, Anna menatap tajam ke arahnya.
"Sialan... apa Aku salah bicara? " batin Ryan.
" tidak apa-apa? ya memang tidak apa-apa untukmu dan Mark. Kalian berdua memang sama saja. Kalian berdua menyuruh mereka untuk memukuli anak-anak yang mengganggunya dan mereka benar-benar melakukan itu. Lihatlah akhirnya aku yang harus ke sekolah dalam satu minggu ini sudah lebih dari tiga kali" Anna berkata sambil menatap kearah Rian. Ryan merasa ingin tertawa karena istrinya yang sedang kesal. setelah itu dia mendekat kearah Anna dan meraih pinggang ramping istrinya.
" Jangan mendekat... dasar" Anna mencoba untuk mendorong tubuh kekar suaminya. Ryan menghela nafas sambil menarik Anna kembali dalam pelukannya. Anna pun menatapnya dengan tajam kembali.
__ADS_1
"Anna jangan terlalu memperdulikan itu... Tidak apa-apa... Lagian Ezra akan tumbuh sama sepertiku" Ryan tersenyum manis kepada istrinya, di saat yang sama anak menempelkan bibirnya ke bibir Ryan. Ryan terkekeh karena tindakan Ana. Ia pun segera membalas Apa yang dilakukan anak.
"Mhhhh... Ryan cukup" Ana mendorong suaminya untuk menjauh.